Pages

Subscribe:

Selasa, 10 Juni 2014

Senandung di Tepi Batas 3


Saat seseorang mengatakan, bahwa jiwa, tak selalu harus berada di tubuh pemiliknya, bahwa jiwa, hanya ada di mana pemiliknya merasakan bahagia. Saat itu, aku merasa bahwa kata-kata orang itu begitu benar.
Benar, karena jiwaku tidak pernah mengisi tubuhku lagi. Jiwaku tertinggal di pulau itu, pulau dengan beragam julukan, yang mampu membuatku merasakan cinta di tengah keterbatasan dan perbedaan. Di sebuah desa yang keramahan penduduknya membuatku merasakan mereka adalah bagian dari keluarga besarku.
Aku begitu mencintai tawa polos anak-anak yang pemikirannya begitu sederhana, dan apa adanya. Mereka tak sibuk berpikir akan diterima di sekolah terbaik mana, dengan siapa dan menjadi apa. Hati mereka murni, tidak terkotori dengan ambisi orang tua, yang terkadang tanpa sadar menanamkan harus menjadi apa anak-anak mereka nanti.
Aku mengagumi kesahajaan mereka. Di tengah semua keterbatasan dan seolah bagai anak tiri negeri mereka. Masih memiliki rasa bangga dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Aku telah begitu jatuh cinta, pada seseorang pemuda yang mengajariku tentang semua hal itu. Dia, yang kutinggalkan di mana jiwaku telah tertinggal.
… … …
            “Maafkan aku, aku tidak menikah dengan kamu Fin.”
            Pandangan kagetku tertuju lurus pada Haikal –tunanganku- yang kini tengah menatapku dengan pandangan gelisah dan penuh penyesalan.
            “Kamu, adalah gadis yang luar biasa, Fina. Tapi …. jiwaku tidak tertuju padamu. Maafkan aku.” Haikal tertunduk menyesal.
            Setelah semua perang batin, dan kehampaan luar biasa yang kulewati agar bisa datang ke tempat ini untuk bertemu dengannya. Alih-alih marah pada Haikal, aku malah tersenyum padanya. Aneh bukan? Entahlah, mungkin sikap Biru sudah berhasil sedikit mengubahku. “Siapa pemilikinya? Pemilik jiwa ini?”
            Haikal terperangah mendengar pertanyaanku. Dokter muda berprestasi itu menatapku, seolah aku sudah tidak waras karena menanyakan itu dengan nada yang begitu santai. “Dia … tidak sepertimu. Kamu memiliki semuanya Fin. Dia hanya gadis dari keluarga kurang mampu, yang memilki pemikiran yang begitu sederhana. Kamu jelas lebih cantik secara fisik darinya, tapi dia memilki semangat dan kegigihan yang membuatnya terlihat begitu mengaggumkan.  Dan aku … aku begitu mencintainya.”
            Aku ingin tertawa kencang saat mendengar penjelasannya. Bagaimana mungkin Haikal bisa mengatakan aku lebih baik darinya, saat matanya berbinar penuh cinta pada gadis yang sedang dibicarakannya itu? aku jelas kalah bukan?
            Dan  yang begitu konyolnya. Mengapa nasibnya sama denganku? Seperti nggak ada sekenario lain saja. “Aku jelas-jelas kalah dari dia kan?” aku tertawa santai, membuat Haikal kalang-kabut karena salah mengartikan kata-kataku.
            “Tidak! Tidak! Aku tidak mengatakan …” sekuat tenaga dia menyangkal, tangannya menggaruk kepala dengan gelisah, dengan gugup dia meneguk habis air putih di depanya, “kamu jelas lebih baik dari dia Fin… aku, aku hanya… tidak bisa.” Dia tertunduk, “maafkan aku.”
            Aku tersenyum mendapati sikapnya ini. “Jangan salah paham Kal, aku sama sekali tidak marah. Karena kita ada di posisi yang sama.” Haikal menatapku penasaran. Dengan sengaja aku tersenyum penuh makna.
            “Fina … kamu … kamu  juga? Kamu juga jatuh cinta?”
            Aku tahu Haikal tidak bodoh. Dan aku yakin saat aku hanya tersenyum menjawabnya, dia pasti mengerti maksudku.
… … …
            “Seorang dokter spesialis jantung?” aku mengalihkan pandanganku dari buku yang sedang kubaca di ruang tengah. Sejak Ka Rafa menikah, rumahku sontak menjadi lebih sepih.
            Ayahku dengan gelisah mondar-mandir di depanku, sekali-kali memilirik ke arahku dengan penuh perhitungan, sebelum dengan akhirnya duduk di depanku. “Kamu ingat, ayah pernah cerita tentang seorang dokter spesialis jantung ?”
            Aku mengangguk, meletakkan buku yang sedang kubaca, “Yang ayah ingin rekrut ke rumah sakit kita kan?”
            “Betul,” ayahku mengangguk senang karena aku masih mengingat cerita beberapa bulan yang lalu itu, “Susah sekali memintanya bergabung ke sini. Dia memang hanya lulusan universitas negeri terbaik di Indonesia, tapi kehebatannya bahkan diakui di berbagai rumah sakit asing.”
            “Dan karena itu kan ayah menginginkannya?”
            Ayah mengangguk frustasi, membuatku menahan tawa, karena jarang sekali ayahku menginginkan sesuatu sampai seperti ini.  “Ayah dapat kabar beberapa bulan yang lalu dia berhenti tanpa alasan yang kuat dari rumah sakit tempat dia berkerja selama ini, dan menghilang begitu saja.”
            Aku menunggu dengan santai ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. Melihat begitu besarnya keinginan ayahku agar dokter ini bergabung, sepertinya dokter ini sudah begitu berpengalaman  dan sangat hebat.
            “Minggu lalu, dia menghubungi ayah,” nada suara ayahku gelisah, tanpa ayahku sadari dia berkali-kali mengubah posisi duduknya. “Dia … dia bilang …” kata-kata ayahku gugup, seperti orang mau menyampaikan kalau dia akan menikah lagi saja. Aku menahan tawa, mengusir pikiran itu jauh-jauh, ayah begitu mencintai ibuku.
            “__dia setuju akan bergabung dengan ayah. Jika, jika… ayah memastikan. Ayah memastikan kamu tidak bertunangan.”
            “Apa?!” aku nyaris bangkit dari tempat dudukku, jika tanganku tidak dengan sigap berpegangan pada gagang kursi. “Ayah… kita sudah sepakat kan?” aku bertanya dengan nada sedikit tinggi, tanpa sadar membiarkan emosi menguasaiku. Sejak insiden Haikal, ayah sudah membuat keputusan akan memberikan semua keputusan soal pernikahan sepenuhnya padaku.
            Aku tak habis pikir kalau hanya karena seorang dokter lagi. Ayahku ingin merubah keputusannya itu.
            “Ayah tahu,” dia mengangguk mengerti, “karena itu ayah menyampaikannya padamu. Karena bagaimanapun pertunangan itu sudah tidak ada. Dan syarat dokter ini, hanya bilang, agar memastikan kamu tidak bertunangan. Dia tidak meminta kamu pada ayah Fin,” ayahku menjelaskan, membuatku sedikit tenang walau tetap waspada.
            “Ayah mengatakan bahwa pertunangan itu memang sudah tak ada. Dan dia … dia mengatakan setuju bergabung dengan rumah sakit kita minggu depan.”
            Aku memandang ayahku tak percaya. Aku tahu ayahku tak pernah berbohong. Tapi bayangan dokter paruh baya yang menaruh hati padaku, dan ayah yang begitu mengagumi dokter ini, membuatku bergedik ngeri.
… … …
             Saat ini bagiku, hal yang paling menyebalkan di dunia in, adalah saat di mana kedua orang tuaku sibuk menyanjung orang yang paling berpotensial menjadi menantu idaman mereka. Setiap waktu yang aku habiskan di rumah, kulalui dengan mendengarkan nyanyian penuh sanjungan kehebatan si dokter jantung dari kedua orang tuaku.
            Mereka berdua sepertinya sudah jatuh cinta pada dokter ini, sampai-sampai melupakan janji mereka padaku, untuk tidak akan mencampuri masalah soal jodohku. Mereka memang tidak secara jelas mengatakannya padaku, tapi dengan sikap mereka, dan keinginan yang begitu besar untuk memiliki menantu seorang dokter, cukup untuk memberitahukan padaku. Fina nikahi dokter ini!
            Ahhhhh …. yang benar saja!
            Bagaimana aku bisa menikah dengan dokter itu, jika aku sudah tak memiliki Jiwa? Jiwaku ….  sudah tertinggal di sana. Di batas terujung negeri tercintaku.
“Aku nggak usah dateng aja yah Bu,” aku memandang malas ke pantulan diriku di cermin.
            Ibuku sedang sibuk memilihkan perhiasan mana yang akan kupakai di acara ulang tahun ayahku hari ini. “Jangan bercanda deh, Fin!” nada tegasnya membuatku kecut. Ibuku tak akan membiarkan aku tidak datang, apalagi kakakku juga tidak bisa hadir. Malam ini, aku sukses menjadi anak tunggal keluarga Ardiga.
            “Nih, kamu bakal cantik pakai ini.” Aku memandang tanpa minat pada gelang perak berbentuk untaian bunga lotus yang disematkan ibu di pergelangan tanganku, gelang itu bersinar indah, membuat penampilanku yang dibalut gaun panjang berwarna peach muda, terlihat makin bersinar.
            “Terlalu mewah,” gumamamku pelan, tapi tertnyata tidak terlalu pelan, hingga ibuku masih bisa memberikan tatapan penuh peringatannya padaku.
            “Jangan macam-macam. Fin!”  perintahnya tegas, “ayo ke bawah, nggak enak sama tamu, kalau yang punya rumah malah belum siap.”
            Aku mengangguk malas-malasan sambil mengikuti ibu dari arah belakang ke kebun belakang rumah kami, yang sudah di sulap menjadi pesta kebun santai.
            Saat kami turun, kebun kami sudah dipenuhi dengan tamu-tamu ayahku. Dengan begitu semangat ibu mengenalkanku pada teman-temannya. Hanya basi-basi, yang membuatku ingin segera keluar dari pesta itu, bukan karena pada kenyataannya aku memang sudah mengenal hampir semua kenalan ayahku. Tapi, karena aku tahu, malam ini, orang tuaku punya misi besar ingin mengenalkanku dengan dokter jantung pujaan mereka itu.
            Demi Allah, aku benar-benar sudah tak tahan dengan hal ini!
            Maafkan aku ayah-ibu. Tapi biarkan kali ini, aku ingin sedikit egois.
            Aku menyelinap saat ibuku lengah, berhati-hati agar tidak ada yang melihatku kembali ke dalam rumah, berjalan menuju balkon rumahku yang mengarah langsung ke kebunku dibawah.
            Kubiarkan tubuhku menempel ke pilar balkon, bersembunyi di balik kegelapan sambil mengamati kedua orang tuaku yang tengah asyik berbincang-bincang dengan seorang laki-laki yang kuperkirakan berumur empat puluhan.
            Dia kah dokter itu? 
            Melihat dari cara bicara kedua orang tuaku, yang  awalnya begitu terlihat menyenangkan, kemudian terlihat cemas ibuku yang menyadari aku sudah tak ada di sana untuk dikenalkan. Mungkin, laki-laki itu memang dokter yang begitu mereka kagumi itu.
            Aku mendesah, menempelkan pipiku di pilar, kusadarkan kepalaku dengan lelah. Secara fisik, Haikal jelas lebih baik dari dokter ini. Walau Haikal bukan dokter spesialis, prestasinya cukup diakui di dunia kedokteran.
            Aku meradang.
            Sebegitu besarkah keinginan kedua orang tuaku memilki penerus rumah sakit kami?
            Sekuat tenaga aku menahan diriku selama ini, berjuang untuk tidak kembali ke pulau penuh kenangan itu. Menemui pemilik mata kekanak-kanakan yang sederhana itu.
            Biru … kamu sedang apa?
            “Semuanya mencarimu di bawah.”
            Lamunanku terhenti, bayangan senyum Biru yang menari-nari di benakku, menghilang. Tergantikan dengan sebuah suara dari arah belakangku, yang membuatku membeku.
            “Sifat penyendirimu makin parah yah?”
            Jantungku berhenti.
            “Kamu tahu ibumu kalang kabut.”
            Tubuhku kaku.
            “Dan anehnya, mengapa dia nggak mencarimu di sini sih?”
            Aku membalik badanku perlahan.
            “Padahal aku saja langsung tahu, kamu pasti lagi bersemedi.”
            Senyum itu, mata kekanak-kanakkan itu. Memandangku dengan tatapannya yang santai. Pemiliknya berjalan mendekatiku, bergabung tanpa dosa di seberangku, pendangannya teralih sebentar ke arah bawah kebun, dia tersenyum lucu, kemudian kembali menatap mataku. “Sepertinya ibumu bahkan tidak berfikir kamu ada di sini. Dia sibuk bertanya sana-sini, padahal aku yakin, semua orang di bawah pasti tak ada yang melihatmu naik ke sini.”
            Mulutku terkunci. Mata itu mengunci setiap suaraku, membuat detak jantungku berlomba tak karuan.
            “Kamu tahu kan? Aku sangat mengormati ibuku?”
            Aku tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini, tapi aku mengangguk.
            “Dia meminta membawamu pulang,” matanya berubah, mata kekanak-kanakkan itu menghilang, berganti dengan mata penuh tekad. “dengan anak-anak kita.”
            Aku sempurna membeku.
            “Kamu sudah nggak tunangan kan Fin?” nada suaranya terlihat begitu santai, untuk seseorang yang telah membuat seluruh tubuhku membeku. “dan kamu juga nggak mungkin merebut suami orang kan?”
            Aku tak mengerti, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin dia tahu sudah tak bertunangan? Kecuali, kecuali ….
            “Kamu? Kamu dokter jantung itu?” aku menatapnya tak percaya, setelah efek bisu yang dia sebabkan padaku, kenapa kata-kata itu yang keluar dari bibirku malah hal itu? Tapi, sungguh, hanya itu yang ada di benakku. Bukan kan ini menjelaskan semuanya? Semua pengetahuannya, semua wawasannya, dan soal tunangan itu. Bagaimana mungkin Biru tahu tentang semua hal itu?
            Kedua alisnya bertaut bingung, berpikir sekilas, kemudian melihat ke arah bawah. “Dokter Afandi maksudmu?” dia menunjuk ke arah bawah, pada laki-laki yang tadi kulihat berbicara pada kedua orang tuaku.
            Hatiku mencelos mendengar pertanyaannya. “Kamu bukan dokter jantung itu?” aku bertanya tak pecaya, sedikit tak rela karena harapanku dihempas kencang-kencang.
            “Kalau dokter jantung yang baru bergabung di rumah sakit keluargamu itu. Yah, aku rasa itu bukan aku. Namaku bukan Afandi kan?” dia balik bertanya, membuatku menggeleng, dan terdiam.
            “Apa harus seorang dokter untuk menjadi suamimu?” pertanyaan tiba-tiba membuatku mengangkat kepalaku dengan kaget ke arahnya. Wajahnya terlihat serius.
            “Apa seorang Biru Mandala tidak cukup?”
            Cukup! Lebih dari cukup! Aku ingin meneriakkan kata-kata itu. Tapi, sekali lagi, tatapan Biru mengunciku, membuat mulutku tergembok rapat.
            “Zafina Kalila, aku menginginkanmu menjadi istriku, calon ibu anak-anakku, makmum yang akan kujaga dengan jiwa ragaku. Bersediakah kamu menerima seorang Biru Mandala menjadi suamimu?”
            Debaran itu menghilang, berganti dengan gelombang dasyat yang menghempaskan hatiku dengan keras, membuat air mataku menetes tak tertahankan, aku terisak. Mimpikah ini?
            “Fina?” tangan Biru terulur ke arahku, belum sempat menyentuhku saat aku mengangguk, dia menarik kembali tangannya, tersenyum penuh kedamaian di depanku. “Terima kasih karena telah menerima aku apa adanya.”
            Aku menggeleng, “Bagiku, kamu sangat luar biasa. Apa adanya kamu, melengkapi semua yang aku butuhkan.”
            Lagi-lagi Biru tersenyum. “Boleh aku melamarmu hari ini? Melihatmu begitu cantik malam ini, membuatku tak rela membagi dirimu, walau hanya sekedar untuk dilihat.”
            “Ma, malam ini?!” aku memandangnya kaget. Biru mengangguk mantap.
            “Ta__” kata-kataku terhenti, belum hilang rasa kagetku kerena peryataan Biru, sebuah suara mengagetkanku.
            “Fina!!!”
            Aku menoleh kaget, kudapati kedua orangtuaku dan laki-laki yang sebut dokter Afandi itu berdiri di pintu balokon sambil memandangku dengan kaget dan bingung.
            “Kamu ngapain di sini?”ayahku memandangku sejak, pandangannya teralih pada Biru. “Kamu …”
            “Aku bisa menjelaskannya ayah!” aku memotong kata-kata ayahku dengan cepat. “Dia …. dia ….” alih-alih menjelaskan aku malah menatap Biru dengan pandangan cemas.
            Kedua orang tuaku memandangku bingung.
            “Aku, aku …” dengan gugup aku memandang Biru yang kelihatan begitu tenang, nyaris menangis karena sulit sekali berbicara di bawah tatapan kedua orang tuaku.
            “Aku ingin menikahi anak anda,” ucap Biru tiba-tiba, membuatku membelalak kaget. Wajah Biru begitu tenang, dia hanya tersenyum menenangkanku. “Dan anak anda sudah setuju. Apakah anda merestui kami?”
            Aku menahan ludah, terlalu takut menoleh ke arah ayahku. Terlalu takut membuat mereka kecewa.
            “Benar itu Fin?” suara ayahku tenang, namun begitu tegas.
            Sekuat tenaga aku mengalihkan pandanganku ke arah kedua orang tuaku. Apa yang aku ragukan? Bukankah ini yang aku inginkan?  “Ya. Aku ingin menikah dengannya ayah.”
            Satu tarikan nafas panjang. Dan bisa kulihat wajah  ayahku menggelap, entah karena amarah atau kekagetan semata. Suasana di menjadi mencekam, membuatku meremas ujung gaunku dengan gelisah. “Maafkan aku… maafkan aku… ayah… tapi aku…”
            “Ayah merestui kalian,” kata-kata ayahku memotong kata-kataku. Membuatku melongo tak percaya padanya.
            “Ayah merestui kami?”
            Kedua orang tuaku mengangguk. “Sejak kejadian Haikal, ayah takut mengatakan apa-apa padamu. Syukurlah kamu bisa menemukan jodohmu nak.”
            “Tapi, tapi aku tidak mengerti?” aku menggeleng tak percaya. “Bukannya ayah menginginkan aku menikah dengan dokter jantung ini?”aku menunjuk ke arah dokter Afandi.
            Dokter Afandi memandangku bingung dan kaget. “Saya?! Saya merasa tersanjung nona. Tapi saya sudah menikah dan begitu mencintai keluarga saya.”
            Aku makin tak mengerti, kupandang ayahku dengan tatapan penuh tanda tanya.
            “Kata siapa?” ayahku balik bertanya.
            Keningku berkerut. “Tapi… selama ini… sikap kalian …” aku menggigit bibirku bingung.
            “Ayah memang suka dengan dokter Afandi, Fin. Tapi seperti janij ayah, ayah tak akan menjodoh-jodohkan kamu lagi dengan siapa-siapa. Jadi sepertinya kamu salah paham.”
            “Terus? Kenapa ayah bisa langsung setuju aku dengan Biru?”aku terus mencecar, rasanya ada yang aneh, seolah ada lubang besar yang membuatku terus penasaran.
            “Biru?” sekilas ayahku memandang Biru. “Kamu tahu, selaian dokter Afandi? Rumah sakit kita kedatangan dokter hebat lainnya? Dokter Afandi membawa adik angkatnya yang juga dokter bedah, bersamanya pindah ke rumah sakit kita.”
            Aku membisu, memproses kata ayahku dengan perlahan.
            “Dan ayah begitu menyukai pemuda itu. Terlalu ingin dia menjadi anak ayah, tapi terlalu takut melanggar janji ayah sama kamu,” ayahku mengerling ke arah Biru.
            Aku melongo makin lebar, serpihan infomasi itu akhirnya lengkap. Dengan tatapan masih tak percaya, aku menoleh ke arah Biru, yang kini memalingkan wajahnya dariku, menahan tawa.
            Biru! Sekarang semua serpihan itu lengkap.

0 comments: