Pages

Subscribe:

Sabtu, 11 Februari 2017

menyiapkan media budidaya belut



Pencampuran atau penyusunan media di dalam wadah budi daya umumnya diterapkan oleh pembudi daya belut diberbagai daerah. Cara ini mempunyai kelebihan, yaitu lebih praktis, terutama pada penggunaan wadah ukuran besar  dan skala usaha yang besar, serta tidak memerlukan wadah yang banyak. Namun kelemahannya tingkat kematangan media tidak seragam.

                           air 5 cm

                       Lumpur 10 cm


                Pupuk kandang 20 cm

            cacahan pelpah pisang 10 cm
                          jerami 15 cm


Tahapan-tahapan pencampuran/penyusunan media di dalam wadah budi daya belut adalah sebagai berikut :
  1. Siapkan semua media budi daya, lalu masukkan kedalam wadah budi daya. lalu masukkan ke dalam wadah budi daya. Media yang digunakan harus merupakan media yang matang.
  2. Media yang dimasukkan berlapis-lapis, misalnya dimulai dari jerami 15 cm, gedebog/pelepah pisang 10 cm, pupuk kandang 10 cm, lumpur 10 cm, dan air 5 cm.
  3. Selanjutnya , media dialiri air setinggi 5-10 cm dan diamkan 3-4 minggu. Apabila media mengering segera masukkan air.
  4. Untuk mengetahui media sudah matang atau belum, tancapkan sepotong bambu/kayu kedalam wadah sampai kedasar dan angkat pelan-pelan. Bila ada gelembung yang tidak berbau dan bening, berarti media sudah matang. Apabila media belum matang, maka proses pendiaman dilanjutkan agar fermentasi terjadi dengan sempurna.
  5. Setelah media matang, air dialirkan kemedia selama 3-4 hari untuk menghilangkan busa, gas, dan bahan-bahan kimia.
  6. Selanjutnya, ketinggian air di dalam wadah dipertahankan pada kedalaman 5-10 cm diatas permukaan media dan benih belut siap ditebar.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKfdMdS_StUmm91H3uWEWd9m3wwmL1mkD1r_ViWIUnd7WRd9MMvuGUfQ-V2rPCKFSguLG8RXaYzl30-Sy3cCKmN94sOPnVvVIojwupNIMu0DfPCKBGiEO6qvq4uDMg-H-Em1bzEF5I4eFo/s1600/images+(11).jpg
 Alternatif Media Budi daya Belut
Media untuk budi daya belut dibuat dari bahan-bahan berupa jerami, pelepah/gedebog pisang, lumpur/tanah humus, pupuk kandang, dan air. Belakangan digunakan pula kompos, bekatul maupun media bekas budi daya jamur atau baglog jamur Sedangkan ketinggian media, mulai dari 40 cm hingga 80 cm, kecuali untuk pendederan benih yang hanya membutuhkan media setinggi 10-15 cm. Namun, ada juga media budi daya yang ketinggiannya mencapai 100 cm.

Komposisi media budi daya belut yang digunakan oleh pembudidaya cukup bervariasi walaupun media yang digunakan tetap sama. Perbedaan ini terjadi karena faktor kondisi lokasi, kemampuan pembudi daya, wadah yang digunakan, bahan media yang tersedia, dan tentu saja pengalaman. Berikut disajikan beberapa alternatif media budi daya belut.

Alternatif 1 (paling umum dan sederhana)
Tinggi media 40-50 cm (susunan dalam wadah budi daya dari bawah keatas)
  • Tanah sawah/lumpur/tanah humus 10 cm
  • Jerami 10 cm
  • Cincangan pelepah/gedebog pisang 10 cm
  • Pupuk kandang 10 cm
  • Lumpur 5 cm
  • Air 5 cm
Alternatif 2
Tinggi media 90-100 cm.
  • Tanah sawah atau lumpur 20 cm
  • Pupuk kandang 5 cm
  • Tanah sawah atau lumpur 10 cm
  • Kompos 5 cm
  • Tanah sawah atau lumpur 10 cm
  • Jerami 15 cm
  • Tanah sawah atau lupur 20 cm
  • Cincangan gedebog pisang ditaburi sampai menutupi permukaan wadah
  • Mikrostater 1/2 liter dicampur dengan 20 liter air
Alternatif 3
Tinggi media 60 cm
    • Jerami 30%
    • Cincangan gedebog pisang 10%
    • Pupuk kandang 40%
    • Tanah sawah atau lumpur 20%
    • Air setinggi 5 cm
    • Larutan mikrostater 1/2 dicampur dengan 20 liter air
 Alternatif 4
Tinggi media 70 cm
    • Tanah sawah atau lumpur 50 cm
    • Pupuk kandang 20 cm
    • Air setinggi 5 cm
Alternatif 5
Tinggi media 60-70 cm
    • Tanah sawah atau lumpur 14,3%
    • Jerami 28,6%
    • Cincangan gedebog pisang 14,3%
    • Pupuk kandang 14,3%
    • Kompos 28,6%

Enochian: Bahasa Malaikat Yang Hilang





Pada tahun 1581, okultis yang bernama John Dee dan Edward Kelley mengkalim telah menerima komunikasi dari para malaikat yang memberikan pada mereka dasar-dasar dari sebuah bahasa yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan dunia lainnya. Bahasa malaikat ini memiliki alphabet, grammar dan penulisan sendiri, hal ini mereka tulis pada beberapa jurnal. Bahasa baru ini dikenal sebagai Enochian dan datang dari klaim John Dee bahwa Enoch (salah satu orang yang dihormati di Alkitab, leluhur dari Nuh) merupakan manusia terakhir yang menguasai bahasa ini.


Dr. John Dee, 1527-1609 adalah seorang okultis, ahli matematika, astronomer, dan astrologer yang hidup ini Mork Lake, London Barat selama hidupnya. Dia adalah seorang yang terpelajar yang belajar di St. John’s College di Cambridge, yang secara kebetulan diteria kedalam lingkaran kekuasaan para elit yang berpengaruh dan berperan sebagai ilmuwan penasehat bagi Ratu Elizabeth I. Dia juga merupakan orang yang berhubungan dengan penyebutan istilah ‘British Empire’. Selama periode awal dari hidupnya, Dee memiliki sedikit keterkaitan terhadap hal-hal supranatural. Belakangan dia terobsesi dengan sains dan memulai berbagai ekspreimen yang terkait okultisme. Dee mencari cara untuk menemukan pengetahuan tentang hal-hal spiritual yang hilang dan mengembalikan ilmu yang dia percayai tersembunyi di buku-buka jaman kuno. Diantara salah satu buku tersebut adalah Book of Enoch yang dia terima sebagai buku yang menggambarkan sistem magis yang digunakan oleh para tokoh di alkitab.

Potret dari John Dee yang digambar di abad keenambelas, diambil dari National Maritime Museum di Greenwich. 1609 (https://commons.wikimedia.org)

Istilah Enochian datang dari tokoh alkitab Enoch yang dipercaya memiliki pengetahuan tersembunyi tentang hal-hal mistis dan dibawanya ke surge. Dari 1581 hingga 1585, Dee memulai melakukan serangkaian panjang kejadian mistis. Di tahun 1581, di usia 54 tahun, Dee menulis di jurnal pribadinya bahwa Tuhan mengirimkan “Malaikat” untuk berkomunikasi secara langsung dengan umat manusia. Di 1582, dia bekerjasama dengan okultasi lainnya beserta Edward Kelley (1555–1597) untuk berkomunikasi dengan malaikat ini. Ratusan pembicaraan roh telah direkam, termasuk apa yang mereka klaim sebagai bahasa malaikan dengan disebut Enochian yang terdiri dari huruf-huruf non-bahasa inggris. Alphabet Enochian ditemukan oleh Dr. John Dee dan  Edward Kelley selama “scrying sessions” (meramal masa depan dengan bola atau permukaan kaca), ketika berbagai teks dan tabel diterima dari malaikat. 

John Dee sedang melakukan eksperimen di depan Ratu Elizabeth I. Lukisan oleh Henry Gillard Glindoni. 1913 (https://commons.wikimedia.org)
                                           
Berdasarkan dokumentasi, Dee dan Kelly menggunakan objek tertentu seperi cermin obsidian hitam dan bola Kristal untuk mendapatkan pengelihatan mereka. Dee berperan sebagai orator, mengarahkan para pengalun doa kepada Tuhan dan Malaikan sekitar 15 menit hingga satu jam. Kemudian batu peramal diletakan di atas meja, dan para malaikat dipanggil untuk memperlihatkan diri mereka. Dee dan Kelly akan melihat batu tersebut dan mencatat apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka juga diberitahu malaikan bahwa kekuatan magis dapat membuat manusia memiliki kekuatan super termasuk merubah struktur politik di Eropa dan meramal kiamat berikutnya. Dee percata bahwa yang dia lakukan bermanfaat bagi khalayak ramai dan mendokumentasujan informasi ini ke dalam serangkaian manuskrip dan buku kerja. Dia tidak pernah mendeskrepsikan bahasa yang digunakan selama ritual sebagai “Enochian: namun cenderung menyebutnya sebagai “bahasa malaikat”, “bahasa langit”, dan terkadang “bahasa Adam” karena dia berpikir bahwa bahasa ini juga digunakan oleh Adam di Taman Eden untuk menamai semua ciptaan Tuhan.

John Dee kaca obsidian digunakan untuk meramal (sumber: wwww.britishmuseum.org)

John Dee’s Seal of God (https://commons.wikimedia.org)

Terdapat dua perbedaan versi dari alphabet Enochian dengan satu skrip memiliki sedikit perbedaan disbanding yang lain. Versi pertama ditemukan di Manuskrip milik Dee, lima buku pertama dari seri of the Mysteries, dan kedua adalah versi yang lebih dapat diterima oleh khalayak umum. Skrip ini dibaca dari kanan ke kiri, dan mungkin termasuk beberapa logat khusus. Huruf-huruf Enochian memiliki persamaan dengan huruf dalam bahasa Inggris dengan beberapa hurus diucapkan sebagaimana dalam Bahasa Inggris, namun banyak juga yang diucapkan dengan berbeda. Alphabet ini umum digunakan dalam Ritual Magis Enochian yang diterima melalui Edward Kelley di 1584 di Krakow, Polandia. Pada tahun tersebut di menulis ke dalam catatan pribadinya serangkaian sembilan belas catatan magis yang disebut Kunci Malaikat atau Lunci Enochian. Kunci ini terdiri dari 48 baris puisi dan berhubungan dengan berbagai fungsi dalam sistem Magis Enochian yang ditulis dalam bahasa asli Enochian serta translasinya dalam Bahasa Inggris sebagaimana berdasarkan versi John Dee.

Huruf-huruf Enochian yang dibaca dari kiri ke kanan, huruf-huruf tersebut dapat membentuk kata yang memiliki arti yang sama dalam Bahasa Inggris. (http://en.wikipedia.org/wiki/Enochian)

Dikarenakan hilangnya beberapa bagian dari manuskrip asli John Dee, berbagai interpretasi muncul terkait arti, validitas dan keaslian dibalik bahasa Enochian. Beberapa orang percaya bahwa bahasa ini merupakan bahasa paling kuno di dunia, jauh lebih dulu dari bahasa manusia lainnya. Beberapa golongan mengkategorikannya sebagai bahasa yang memiliki kekuatan magis yang kental dan merupakan salah satu cara untuk berhubungan dengan dimensi yang lain. Salah satu ahli bahasa menyebutkan bahwa Enochian memiliki struktur yang mirip dengan Bahasa Inggris, bahasa ibu Dee dan Kelley. Beberapa persamaan seperti kata “luciftias” yang berarti terang memiliki keterkaitan dengan “Lucifer” yang berarti cahaya terang. “Londoh” kata dalam Enochian yang berarti kerajaan mungkin merepresentasikan keterkaitan dengan pemimpin kerajaan Inggris. Analisis computer juga menunjukkan bahwa Enochian secara gramatikal memiliki keterkaitana dengan bahasa Inggris.
Necromancy: seni membangkitkan orang mati dan berkomunikasi dengan mereka, gambar diatas adalah John Dee dan Edward Kelley. dari Astrology (1806) oleh Ebenezer Sibly. (http://en.wikipedia.org/wiki/Ebenezer_Sibly)

Okultis di waktu modern juga menghadapi kesulitan dalam merekonstruksi bahasa ini, walau kemajuan telah didapatkan melalui penelitian terhadap manuskrip asli yang ditemukan di koleksi Sir Hans Sloane. Bahasa ini juga sangat terkenal diantara para okultis modern seperti the Hermetic Order of the Golden Dawn, Aleister Crowley, Israel Regardie dan Anton LaVey, pendiri dari church of Satan. Bahasa ini juga dipelajari oleh ahli roket Amerika Jock Parson di OTO. Di 1994, huruf Enochian digunakan sebagai “glyphs” untuk mengoperasikan arc angle di film “Stargate”. Banyak dari barang-barang yang digunakan oleh Dee dan Kelley dapat ditemukan di the British Museum di London, Inggris.


Sumber
"Enochian Magic." Enochian. November 16, 2009. http://enochian.info/enochian-magic/
"Enochian Keys." Enochian. November 16, 2009. Accessed May 20, 2015. http://enochian.info/enochian-keys
"Enochian Alphabet." Enochian. November 21, 2009. http://enochian.info/enochian-alphabet
"John Dee - Astrologer to the Queen." John Dee - Astrologer to the Queen. http://www.bibliotecapleyades.net/bb/john_dee.htm
"British Museum - Dr John Dee (1527-c1608)." British Museum - Dr John Dee (1527-c1608). http://www.britishmuseum.org/explore/highlights/article_index/d/dr_john_dee_1527-c1608.aspx
Jones, David. "John Dee & the Enochian Apocalypse." New Dawn the World’s Most Unusual Magazine. September 8, 2012.
"Enochian Alphabet." Enochian Alphabet. http://www.omniglot.com/writing/enochian.htm