Pages

Subscribe:

Jumat, 31 Juli 2015

"PERANG SIFFIN (PERANG SAUDARA DALAM ISLAM)


  Siffin adalah nama sebuah daerah di tenggara Kota Raqqah, Suriah.


Suatu hari, putri Rasulullah SAW, Fatimah ra, mengadu kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib ra. Fatimah mengadu tangannya luka-luka akibat terlalu sering membikin adonan roti dari gandum. Ali berkata, "Ayahmu telah datang dengan membawa beberapa tawanan, pergilah temui ayahmu dan mintalah seorang dari mereka untuk menjadi pembantumu."

Fatimah pun menemui ayahnya. Namun, ia tak berani menyampaikan maksudnya. Lalu, Ali datang menemui Rasul dan menyampaikan maksudnya. Tetapi, Rasulullah SAW tak  mengabulkan permintaan orang yang paling dicintainya itu meski beliau tahu bahwa keluarga putrinya itu memang serbakekurangan.

Nabi SAW kemudian menemui putri dan suaminya. Rasulullah  bersabda, "Maukah aku ajarkan kepada kamu berdua sesuatu yang baik dari apa yang kalian minta? Jika hendak tidur, bacalah Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar sebanyak 33 kali. Sesungguhnya hal itu lebih baik dari seorang pelayan."

Ali bin Abi Thalib ra selalu melaksanakan nasihat Rasulullah SAW itu. Ia pernah mengatakan, "Demi Allah, aku tidak pernah meninggalkannya sejak beliau mengajarkannya kepadaku." Salah seorang sahabat yang bertanya, "Hatta pada malam peristiwa Siffin?" Ali menjawab, "Ya, benar, Hatta pada malam peristiwa Siffin." (HR Bukhari Muslim).

Kisah dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim itu menyebut nama "peristiwa Siffin". Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas al-Hadith al-Nabawi mengungkapkan, Siffin adalah nama sebuah daerah  di tenggara Kota Raqqah, Suriah-sekitar 15 kilometer di tepian Sungai Eufrat.

"Dari arah barat dan timur, Siffin berada di antara Raqqah dan Palas. Saat ini, Siffin berada di tenggara desa Ekrsye (hanya berjarak 500 meter)," papar Syauqi. Di wilayah itu, pernah terjadi sebuah peristiwa bersejarah dalam peradaban Islam. Peristiwa itu dikenal sebagai "Perang Siffin".

Perang Siffin terjadi antara pasukan Ali bin Abi Thalib ra dengan Muawiyah bin Abi Sufyan-pendiri Dinasti Umayyah. Perang saudara itu terjadi pada 1 Shafar tahun 37 H/  26-28 Juli 657 M. Perang saudara pertama dalam sejarah peradaban Islam itu terjadi pada zaman fitnah besar.

Menurut sebuah versi, perang saudara itu terjadi akibat ulah dan provokasi dari pengikut Abdullah bin Saba. Adalah dendam lama pengikut Abdullah bin Saba' terhadap Muawiyah yang memantik pertempuran itu. Abdullah bin Saba menurut sebuah versi adalah seorang Rabbi Yahudi yang masuk Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan kemudian melakukan makar.

Kelompok Abdullah bin Saba berupaya menebar fitnah untuk menjatuhkan citra pejabat negara. Upaya itu dilakukan agar rakyat membenci pejabat yang ditunjuk Khalifah Utsman. Amru bin Ash, gubernur Mesir, menjadi sasaran pertama. Fitnah yang ditebarkan Abdullah bin Saba dan pengikutnya berhasil menjatuhkan sang gubernur.

Setelah berhasil mendongkel gubernur Mesir, kelompok itu lalu mengajak pendukungnya di Syam, Kufah, dan Bashrah untuk menggulingkan gubernur mereka.  Gubernur Kufah, Said bin Ash, berhasil digulingkan. Namun, mereka gagal mendongkel Muawiyah dari kursi Gubernur Syam-yang telah berkuasa sejak era Khalifah Umar.

Kelompok pengikut Abdullah bin Saba atau Sabaiyah membunuh Khalifah Utsman.  Ketika Ali bin Abi Thalib dibaiat penduduk Madinah, tidak lama setelah Ustman terbunuh oleh kelompok Saba'iyah, Muawiyah tetap menjabat sebagai Gubernur Syam.

Posisi Muawiyah sebagai gubernur memang terbilang cukup kuat alias tak bisa didongkel oleh gerakan kelompok Sabaiyah. Dalam Tarikh At-Thabari ditulis, Khalifah Utsman telah mengingatkan Muawiyah akan adanya upaya makar itu. Utsman berkata, "Telah keluar kepadamu sekelompok penduduk Kufah untuk membuat fitnah, hadapilah mereka. Jika mereka berbuat baik-baik, terimalah. Akan tetapi, jika mereka melemahkanmu, kembalikan ke Kufah."

Kelompok itu sempat datang menemui Muawiyah, kelompok Sabaiyah meminta agar Muawiyah melepas jabatannya. Namun, ia menolaknya. Kelompok itu lalu dikeluarkan dari Syam. Setelah wafatnya Utsman, kelompok ini yang pertama-tama membaiat Ali bin Abi Thalib.

Dr Hamid Muhammad Khalifah dalam Al-Inshaf (hal 418) menyebutkan, penyebab meruncingnya hubungan Ali dan Muawiyah adalah adanya para "provokator" dalam barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang ingin memerangi Muawiyah.

Sebenarnya, tak ada perselisihan antara Ali dan Muawiyah. Yang ada perselisihan antara pengikut Abdullah bin Saba' dan Muawiyah. Terlebih, Muawiyah mendesak dilakukannya hukuman hadd kepada kelompok itu atas terbunuhnya Utsman.

Perselisihan terjadi setelah Ali memutuskan untuk mengganti Muawiyah dari jabatan Gubernur Syam. Posisinya diganti oleh Sahl bin Hunaif. Pengganti yang telah ditunjuk tersebut bersama rombongan berangkat ke Syam. Sesampai di wilayah Tabuk, sejumlah pasukan Muawiyah menemui rombongan itu dan meminta mereka kembali.

Ali lalu mengirim surat kepada Muawaiyah, namun surat itu tidak dibalas hingga tiga bulan setelah wafatnya Utsman. Lalu, Muawiyah mengutus Qubishah Al Abasi menghadap Khalifah Ali dan menyatakan alasan penduduk Syam tidak melakukan baiat. Mereka meminta agar pelaku pembunuhan Utsman diadili.

Kaum Sabayah lalu mencoba memprovokasi dan bahkan memerintahkan agar utusan Muawiyah dibunuh. Dalam Tarikh At-Thabari disebutkan,  Bani Mudhar mencegah mereka yang hendak membunuh Qubishah.

Utusan Khalifah Ali pun keluar dari Syam karena penduduk provinsi itu menolak memberi baiat, kecuali pelaku pembunuhan Khalifah Utsman dihukum. Kelompok Sabaiyah pun semakin terancam karena merekalah yang berdiri di balik peristiwa tragis itu.

Lalu, mereka mendesak Amirul Mukminin untuk memerangi Muawiyah. "Maka, para tokoh yang secara langsung terlibat pembunuhan Utsman yang berada di sekitar Ali bin Abi Thalib, memberi saran agar beliau memecat Muawiyah dari jabatannya sebagai Gubernur Syam," demikian tertulis dalam Al Bidayah wa An Nihayah.

 Awalnya, Imam Ali tak pernah berniat untuk perang. Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah menyebutkan, khalifah mengirim utusan ke Damaskus untuk membawa pesan kepada penduduk Syam bahwa beliau telah berdiri di atas rakyat Irak untuk mengetahui ketaatan penduduk Syam terhadap Muawiyah.

Mendengar kabar itu, Muawiyah naik mimbar masjid dan mengatakan kepada jamaah, "Sesungguhnya Ali telah berdiri di penduduk Irak untuk kalian. Apa pendapat kalian?" Para jamaah tidak berkata-kata, hingga seorang ada yang mengatakan, "Anda yang berpikir, kami yang melaksanakan." Akhirnya, Muawiyah memerintahkan agar mereka bersiap-siap membentuk pasukan menjadi tiga bagian.

Setelah itu, kembalilah utusan menuju Khalifah Ali lalu mengabarkan apa yang terjadi di Syam. Ali akhirnya naik mimbar dan mengatakan kepada jamaah, "Muawiyah telah mengumpulkan pasukan untuk memerangi kalian, apa pendapat kalian?" Semua hadirin terheran dan berbicara satu sama lain. Khalifah Ali akhirnya turun dari mimbar dengan mengatakan, "la haula wa la quwwata ila billah (tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah)"

Setelah pasukan Syam dan Kufah sampai di wilayah Siffin, kedua pihak mengambil posisi masing-masing. Utusan keduanya sibuk melakukan perundingan dengan mengharap pertempuran bisa terhindar.

Dalam Al Bidayah wa An Nihayah, disebutkan Abu Muslim Al Khaulani beserta beberapa orang mendatangi Muawiyah dan bertanya, "Apakah engkau melawan Ali?" Muawiyah menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui kalau ia (Ali) lebih baik dariku, lebih utama, dan lebih berhak dalam masalah ini (kekhalifahan) daripada aku."

"Akan tetapi, bukanlah kalian mengetahui bahwa Utsman terbunuh dengan keadaan terzalimi, sedangkan saya adalah sepupunya yang berhak meminta keadilan. Katakan kepadanya agar ia menyerahkan pembunuhnya, maka saya menyerahkan persoalan ini kepadanya."

Ibnu Katsir menyebutkan, perang Siffin melibatkan 120 ribu orang pasukan Kufah dan yang terbunuh mencapai 40 ribu. Sedangkan pasukan Syam berjumlah 60 ribu, dan yang terbunuh dari mereka 20 ribu orang. Dalam pertempuran itu, pasukan Muawiyah nyaris kalah.

Dalam posisi terdesak, penasihat Muawiyah Amru bin Ash memerintahkan pasukannya agar menancapkan Alquran di tombak mereka dan menyerukan gencatan senjata atas nama Alquran. Atas desakan kelompok Khawarij, Khalifah Ali akhirnya menghentikan serangan dan kedua belah pihak memilih berdamai. berbagai sumber

Muawiyyah bin Abu Sufyan: Khalifah Pertama Dinasti Umayyah

 Umayyad Mosque di Damaskus, Syria
Sistem pemerintahannya mirip-mirip pola yang diterapkan Kerajaan Bizantium. Sebelum wafat pada 680, dalam usia 83 tahun, ia bahkan berwasiat agar tampuk kepemimpinan kerajaan diserahkan kepada anaknya, Yazid.
Namanya dikenal sebagai orang pertama yang mendirikan sistem kerajaan dalam pemerintahan Islam. Ia membangun Dinasti Umayyah setelah kemenangannya dari Ali. Muawiyyah lahir di Makkah pada 597 dari pasangan Abu Sufyan bin Harb dari bani Umayyah dan Hindun binti Utbah yang juga keturunan bani Umayyah. Sang ibu semula menikah dengan Faka bin Mughira keturunan bani Quraisy. Tapi, pernikahannya tak langgeng, sehingga perempuan itu menikah kembali dengan Abu Sufyan.

Muawiyyah tidak terhitung sebagai kelompok pengikut pertama Nabi Muhammad. Ia baru masuk Islam setelah penaklukan Makkah pada 623. Kala itu usianya sekitar 25 tahun, ia masuk Islam berbarengan dengan Islamnya sang ayah, Abu Sufyan, yang semula menjadi mata-mata warga Makkah yang menentang Nabi. Setelah dewasa, Muawiyyah tumbuh sebagai sosok yang berbadan tinggi besar dan gagah.

Di masa Rasulullah masih hidup, Muawiyyah dikabarkan pernah menjadi salah seorang penyatat wahyu. Sepeninggal Rasulullah, ia dipercaya oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai Gubernur Syam. Posisi itu terus dipegangnya sampai masa kekhalifahan Sayyidina Ali. Namun, sebagai gubernur, ada satu cacat yang mewarnai pribadi Muawiyyah: senang bermewah-mewah.

Terkisah, kabar tentang gaya hidup Muawiyyah itu sampai ke telinga Khalifah Umar yang terkenal keras dan amat sederhana. Maka, pada suatu ketika, Umar pun singgah ke Syam untuk membuktikannya. Begitu menyaksikan sendiri cara hidup Muawiyyah, sang Khalifah pun menegurnya dengan cukup keras.

Namun, teguran itu dijawab Muawiyyah dengan alasan yang masuk akal. Menurut dia, kini ia tengah berada di kawasan yang penuh dengan mata-mata musuh Islam. Karena itu, ia merasa harus menunjukkan kemuliaan penguasa Islam yang berarti juga kemuliaan Islam dan seluruh muslim. Dengan begitu, musuh-musuh Islam akan gentar. Muawiyyah juga memberi catatan, bila Khalifah menginginkan, ia akan menghentikan gaya hidup seperti itu.
Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar tidak melarang dan tidak pula menganjurkan Muawiyyah melanjutkan caranya itu. Umar hanya mengingatkan risikonya harus ditanggung sendiri. Bila niat itu benar, itu adalah pendapat Muawiyyah sendiri. Tapi, jika itu batil, cara itu merupakan tipu daya Muawiyyah sendiri. “Aku tidak menyuruhmu dan tidak pula melarangmu,” ujar Umar waktu itu.

Muawiyyah tercatat sebagai salah seorang pahlawan perang muslim. Sebagai Gubernur Syam, misalnya, ia menjadi ujung tombak untuk menghadapi serangan Romawi dan mengepung Konstantinopel. Serangan Romawi berhasil dipatahkan dan bahkan Muawiyyah dapat meluaskan wilayah hingga ke Laut Hitam, Armenia, Azerbaijan, dan Asia Kecil. Pada tahun 653, Muawiiyah membangun benteng-benteng di perbatasan Konstantinopel guna menahan serbuan tentara Romawi. Ia pula, dalam serangan-serangan itu, yang berhasil membangun armada pertama angkatan laut pasukan Islam yang amat tangguh.

Hubungannya dengan Khalifah Usman bin Affan memang sangat dekat. Maka tidak mengherankan bila ia tampil sebagai orang pertama yang menuntut bela atas kematian sang Khalifah. Muawiyyah termasuk pemimpin daerah yang paling keras menuntut kepada Sayyidina Ali untuk mengusut dan menghukum orang yang membunuh Khalifah Usman.
Pembunuhan Usman itu sendiri boleh dibilang sebagai semacam persekongkolan kelompok-kelompok yang tidak suka pada kebijakan sang Khalifah. Ada yang tidak suka karena kebijakannya mengangkat kerabat dan keluarganya untuk menduduki posisi tinggi. Ada juga yang tidak puas karena Usman memecat sejumlah pejabat yang dinilai sebagai administrator yang piawai. Pembunuhan itu sendiri berlangsung pada 655, setelah sebelas tahun Usman memegang tampuk kepemimpinan umat Islam.

Pembunuhan Usman itu menandai semakin terpecahnya umat Islam kala itu ke dalam dua kubu: kubu Ali bin Abu Thalib dan kubu Muawiyyah. Seperti diketahui, sebagian besar umat kala itu sepakat mengangkat Ali sebagai pengganti Usman. Tapi, kenyataan ini ditampik oleh Muawiyyah. Ia secara terang-terangan menyatakan penolakannya untuk mengakui Ali sebelum pembunuh Khalifah Usman dihukum.

Ali sendiri saat menerima tampuk kepemimpinan mewarisi kondisi umat yang cukup parah. Terutama sekali ancaman perpecahan yang kian meruncing di masa kepemimpinan Usman. Ia bermaksud menyatukan dulu umat sebelum mengusut dan menghukum pembunuh Usman. Itu sebabnya, ia meminta semua pemimpin di daerah untuk mengakui kepemimpinannya, termasuk Muawiyyah.

Sikap Khalifah Ali itu ditanggapi beragam. Intinya, ada yang mendukung dan ada yang menentang. Di mata para penentangnya, Ali dianggap membela si pembunuh yang nyata-nyata musuh umat. Maka, selain Muawiyyah, tampil tiga pemimpin lain yang menyatakan melawan Ali. Mereka adalah Aisyah, Zubair, dan Thalhah.
Pasukan Ali dengan mudah menekuk perlawanan ketiga pemimpin tersebut. Yang terberat adalah menghadapi pasukan Muawiyyah. Ali sendiri ikut turun ke medan perang menyerbu Syam. Sementara Muawiyyah yang terkenal licin berhasil menarik politisi ulung Amru bin Ash yang menjabat Gubernur Mesir untuk mendukungnya. Muawiyyah kemudian menyatakan mendirikan kekhalifahan tandingan.

Pertempuan kedua kubu itu tak terhindarkan. Perang Shifin meletus di kawasan hulu Sungai Eufrat yang kini dikenal sebagai perbatasan Irak dan Suriah. Dalam pertempuran itu, sebenarnya Muawiyyah sudah terdesak. Dengan siasat licik yang diajukan Amru untuk memecah kekuatan Ali, Muawiyyah mengajak Ali berunding di bawah lindungan Kitab Al-Qur’an.

Siasat itu memang jitu. Kubu Ali terpecah: sebagian menilai ajakan itu patut dihormati dan sebagian lagi menganggap itu tipu-daya Muawiyyah. Sementara, Ali yang lebih mengutamakan upaya persatuan umat, lebih memilih mengikuti ajakan berunding. Dalam perundingan itu, Ali diwakili oleh Abu Musa al-Anshari, sedangkan Muawiyyah diwakili Amru bin Ash. Keduanya sepakat untuk melengserkan Ali dan juga Muawiyyah. Tapi, ternyata Amru mengingkari kesepakatan itu.

Perpecahan umat itu kemudian melahirkan kelompok radikal yang dipimpin Hurkus, komandan pasukan Ali. Hurkus memandang Ali dan Muawiyyah telah melanggar hukum Tuhan. Karena itu, ia bersama pengikutnya menyatakan keluar dari barisan Ali dan tidak memihak barisan Muawiyyah. Karena itu, kelompok garis keras itu kemudian dijuluki kaum Khawarij, dengan semboyannya yang terkenal: la hukma ilallah atau tiada hukum melainkan hukum Allah.
Untuk menegakkan keyakinannya, kelompok Khawarij merencanakan pembunuhan terhadap tiga pemimpin: Ali, Muawiyyah, dan Amru. Tapi, hanya pembunuhan Ali yang berhasil dilaksanakan. Sayyidina Ali tewas di tangan Abdurrahman pengikut Khwarij pada 661. Sedangkan Muawiyyah dan Amru bin Ash lolos dari upaya pembunuhan itu. Pada saat itu, Muawiyyah sudah memindahkan pemerintahannya ke Damaskus.

Lolos dari upaya pembunuhan, dan terbunuhnya Ali, memuluskan jalan Muawiyyah untuk lebih mengokohkan kekuasaan. Pada masa itulah berakhirnya model pemerintahan kekhalifahan yang dicontohkan Rasulullah lalu dilanjutkan oleh Khulafa Urrasyidun. Muawiyyah menyanangkan berdirinya Dinasti Bani Umayyah dan dialah raja pertamanya. Sistem pemerintahannya mirip-mirip pola yang diterapkan Kerajaan Bizantium. Sebelum wafat pada 680, dalam usia 83 tahun, ia bahkan berwasiat agar tampuk kepemimpinan kerajaan diserahkan kepada anaknya, Yazid.

Sejalan dengan itu, di kubu Muawiyyah itu berkembang pula paham teologi yang melanggengkan kekuasaannya. Inti ajarannya, umat harus pasrah pada nasib dan tunduk kepada pemimpin, karena semua itu adalah ketetapan Allah. Kaum yang berkepentingan untuk mempertahankan status quo itu lalu dijuluki sebagai kaum Jabariyah. Ibnu Abdul Bar

Tahkim Pascaperang Siffin

Perang saudara antara kubu Muawiyah dan Ali akhirnya mereda. Kedua belah pihak akhirnya bertemu di meja perundingan melalui Tahkim, yakni penunjukan dua pihak yang berselisih terhadap seseorang yang adil dengan tujuan agar memberi keputusan terhadap dua pihak tersebut.

Kedua pihak yang terlibat pertempuran Shiffin, yakni Ali dan Muawiyah telah sepakat memilih Abu Musa Al Asy'ari untuk menjadi penengah. Ibnu Hibban dalam At Tsiqat mengungkapkan, tahkim itu berisi keputusan bahwa Ali bin Abi Thalib ditetapkan membawahi wilayah Irak dan penduduknya.

Sedangkan Muawiyah ditetapkan membawahi wilayah Syam beserta para penduduknya. Sesuai kesepakatan tidak ada penggunaan senjata dan hal ini berlaku dalam satu tahun. Jika sudah melewati masanya, kedua belah pihak bisa menolaknya, atau bisa memperpanjang.

Tahkim itu sama sekali tak mengharuskan Muawaiyah membaiat Ali. Dan Khalifah Ali pun tidak memiliki  keharusan untuk menghukum pembunuh Utsman. Hasil tahkim itu membuat sebagian kubu Ali protes dan bahkan murka. Mereka menyatakan diri keluar dari Ali dan membentuk kelompok Khawarij.

Gerakan Khawarij pun berencana untuk membunuh Ali, Muawiyah, dan Amru bin Ash. Dari ketiga orang yang diincar Khawarij itu, hanya Ali bin Abi Thalib yang berhasil dibunuh. Khalifah Ali wafat pada  malam ke-17 bulan Ramadhan tahun 40 H. berbagai sumber


 khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

Ali kecil adalah anak yang malang. Namun, kehadiran Muhammad SAW telah memberi seberkas pelangi baginya. Ali, tidak pernah bisa bercurah hati kepada ayahnya, Abi Thalib, selega ia bercurah hati kepada Rasulullah. Sebab, hingga akhir hayatnya pun, Abi Thalib tetap tak mampu mengucap kata syahadat tanda penyerahan hatinya kepada Allah. Ayahnya tak pernah bisa merasa betapa nikmatnya saat bersujud menyerahkan diri,kepada Allah Rabb semesta sekalian alam.

Kematian ayahnya tanpa membawa sejumput iman begitu memukul Ali. Kelak dari sinilah, ia kemudian bertekad kuat untuk tak mengulang kejadian ini buat kedua kali. Ia ingin, saat dirinya harus mati nanti, anak-anaknya tak lagi menangisi ayahnya seperti tangis dirinya untuk ayahnya, Abi Thalib. Tak cuma dirinya, disebelahnya, Rasulullah pun turut menangisi kenyataan tragis ini...saat paman yang selama ini melindunginya, tak mampu ia lindungi nanti...di hari akhir,karena ketiaadaan iman di dalam dadanya.

Betul-betul pahit, padahal Ali tahu bahwa ayahnya sangatlah mencintai dirinya dan Rasulullah. Saat ayahnya, buat pertama kali memergoki dirinya sholat berjamaah bersama Rasulullah, ia telah menyatakan dukungannya. Abi Thalib berkata, ""Janganlah kau berpisah darinya (Rasulullah), karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan".

Sejak masih berumur 6 tahun, Ali telah bersama dan menjadi pengikut setia Rasulullah. Sejarah kelak mencatat bahwa Ali terbukti berkomitmen pada kesetiaannya. Ia telah hadir bersama Rasulullah sejak awal dan baru berakhir saat Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ali ada disaat yang lain tiada. Ali adalah tameng hidup Rasulullah dalam kondisi kritis atau dalam berbagai peperangan genting, saat diri Rasulullah terancam.

Kecintaan Ali pada Rasulullah, dibalas dengan sangat manis oleh Rasulullah. Pada sebuah kesempatan ia menghadiahkan kepada Ali sebuah kalimat yang begitu melegenda, yaitu : "Ali, engkaulah saudaraku...di dunia dan di akhirat..."

Ali, adalah pribadi yang istimewa. Ia adalah remaja pertama di belahan bumi ini yang meyakini kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Konsekuensinya adalah, ia kemudian seperti tercerabut dari kegermerlapan dunia remaja. Disaat remaja lain berhura-hura. Ali telah berkenalan dengan nilai-nilai spiritual yang ditunjukkan oleh Rasulullah, baik melalui lisan maupun melalui tindak-tanduk beliau. "Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya", begitu kata Ali mengenang masa-masa indah bersama Rasulullah tidak lama setelah Rasulullah wafat.

Amirul mukminin Ali, tumbuh menjadi pemuda yang berdedikasi. Dalam berbagai forum serius yang dihadiri para tetua, Ali selalu ada mewakili kemudaan. Namun, muda tak berarti tak bijaksana. Banyak argumen dan kata-kata Ali yang kemudian menjadi rujukan. Khalifah Umar bahkan pernah berkata,"Tanpa Ali, Umar sudah lama binasa"

Pengorbanannya menjadi buah bibir sejarah Islam. Ali-lah yang bersedia tidur di ranjang Rasulullah, menggantikan dirinya, saat rumahnya telah terkepung oleh puluhan pemuda terbaik utusan kaum kafir Quraisy yang hendak membunuhnya di pagi buta. Ali bertaruh nyawa. Dan hanya desain Allah saja semata, jika kemudian ia masih tetap selamat, begitu juga dengan Rasulullah yang saat itu 'terpaksa' hijrah ditemani Abu Bakar seorang.

Keperkasaan Ali tiada banding. Dalam perang Badar, perang pertama yang paling berkesan bagi Rasulullah (sehingga setelahnya, beliau memanggil para sahabat yang ikut berjuang dalam Badar dengan sebutan " Yaa...ahlul Badar..."), Ali menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan separo dari 70an pihak musuh yang terbunuh. Hari itu, bersama sepasukan malaikat yang turun dari langit, Ali mengamuk laksana badai gurun.

Perang Badar adalah perang spiritual. Di sinilah, para sahabat terdekat dan pertama-tama Rasulullah menunjukkan dedikasinya terhadap apa yang disebut dengan iman. Mulanya, jumlah lawan yang sepuluh kali lipat jumlahnya menggundahkan hati para sahabat. Namun, doa pamungkas Rasulullah menjadi penyelamat dari jiwa-jiwa yang gundah. Sebuah doa, semirip ultimatum, yang setelah itu tak pernah lagi diucapkan Rasulullah..."Ya Allah, disinilah sisa umat terbaikmu berkumpul...jika Engkau tak menurunkan bantuanmu, Islam takkan lagi tegak di muka bumi ini..."

Dalam berbagai siroh, disebutkan bahwa musuh kemudian melihat jumlah pasukan muslim seakan tiada batasnya, padahal jumlah sejatinya tidaklah lebih dari 30 gelintir. Pasukan berjubah putih berkuda putih seperti turun dari langit dan bergabung bersama pasukan Rasulullah. Itulah, kemenangan pasukan iman. Dan Ali, menjadi bintang lapangannya hari itu.

Tak hanya Badar, banyak peperangan setelahnya menjadikan Ali sebagai sosok yang disegani. Di Uhud, perang paling berdarah bagi kaum muslim, Ali menjadi penyelamat karena dialah yang tetap teguh mengibarkan panji Islam setelah satu demi satu para sahabat bertumbangan. Dan yang terpenting, Ali melindungi Rasulullah yang kala itu terjepit hingga gigi RAsulullah bahkan rompal dan darah mengalir di mana-mana. Teriakan takbir dari Ali menguatkan kembali semangat bertarung para sahabat, terutama setelah melihat Rasululah dalam kondisi kritis.

Perang Uhud meski pahit namun sejatinya berbuah manis. Di Uhud, Rasulullah banyak kehilangan sahabat terbaiknya, para ahlul Badar. Termasuk pamannya, Hamzah --sang singa padang pasir. Kedukaan yang tak terperi, sebab Hamzah-lah yang selama ini loyal melindungi Rasulullah setelah Abi Thalib wafat. Buah manisnya adalah, doa penting Rasulullah juga terkabul, yaitu masuknya Khalid bin Walid, panglima musuh di Perang Uhud, ke pangkuan Islam. Khalid kemudian, hingga akhir hayatnya, mempersembahkan kontribusi besar terhadap kemenangan dan perkembangan Islam.

Bagi Ali sendiri, perang Uhud makin menguatkan imagi tersendiri pada sosok Fatimah binti Muhammad SAW. Sebab di perang Uhud, Fatimah turut serta. Dialah yang membasuh luka ayahnya, juga Ali, berikut pedang dan baju perisainya yang bersimbah darah.

Juga di perang Khandak. Perang yang juga terhitung genting. Perang pertama yang sifatnya psyco-war. Ali kembali menjadi pahlawan, setelah cuma ia satu-satunya sahabat yang 'berani' maju meladeni tantangan seorang musuh yang dikenal jawara paling tangguh, ‘Amr bin Abdi Wud. Dalam gumpalan debu pasir dan dentingan suara pedang. Ali bertarung satu lawan satu. Rasulullah SAW bahkan bersabda: “Manifestasi seluruh iman sedang berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”.

Dan teriakan takbir menjadi pertanda, bahwa Ali menyudahinya dengan kemenangan. Kerja keras Ali berbuah. Kemenangan di raih pasukan Islam tanpa ada benturan kedua pasukan. Tidak ada pertumpahan darah. kegemilangan ini, membuat Rasulullah SAW pada sebuah kesempatan : “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Seluruh peperangan Rasulullah diikuti oleh Ali, kecuali satu di Perang Tabuk. Rasulullah memintanya menetap di Mekkah untuk menjaga stabilitas wilayah. Sebab Rasulullah mengetahui, ada upaya busuk dari kaum munafiq untuk melemahkan Mekkah dari dalam saat Rasulullah keluar memimpin perang TAbuk. Kehadiran Ali di Mekkah, meski seorang diri, telah berhasil memporakporandakan rencana buruk itu. Nyali mereka ciut, mengetahui ada Ali di tengah-tengah mereka.

Perubahan drastis ditunjukkan Ali setelah Rasulullah wafat. Ia lebih suka menyepi, bergelut dengan ilmu, mengajarkan Islam kepada murid-muridnya. Di fase inilah, Ali menjadi sosok dirinya yang lain, yaitu seorang pemikir. Keperkasaannya yang melegenda telah diubahnya menjadi sosok yang identik dengan ilmu. Ali benar-benar terinspirasi oleh kata-kata Rasulullah, "jika aku ini adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya". Dari ahli pedang menjadi ahli kalam (pena). Ali begitu tenggelam didalamnya, hingga kemudian ia 'terbangun' kembali ke gelanggang untuk menyelesaikan 'benang ruwet', sebuah nokta merah dalam sejarah Islam. Sebuah fase di mana sahabat harus bertempur melawan sahabat.


Kenangan Bersama Fatimah Az-Zahra
Sejatinya, sosok Fatimah telah lama ada di hati Ali. Ali-lah yang mengantarkan Fatimah kecil meninggalkan Mekkah menyusul ayahnya yang telah dulu hijrah. Ali pula yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa Fatimah menangis tersedu-sedu setiap kali Rasulullah dizhalimi. Ali bisa merasakan betapa pedihnya hati fatimah saat ia membersihkan kotoran kambing dari punggung ayahnya yang sedang sholat, yang dilemparkan dengan penuh kebencian oleh orang-orang kafir quraisy.

Bagi Fatimah, sosok rasulullah, ayahnya, adalah sosok yang paling dirindukannya. Meski hati sedih bukan kepalang, duka tak berujung suka, begitu melihat wajah ayahnya, semua sedih dan duka akan sirna seketika. Bagi Fatimah, Rasulullah adalah inspirator terbesar dalam hidupnya. Fatimah hidup dalam kesederhanaan karena Rasulullah menampakkan padanya hakikat kesederhanaan dan kebersahajaan. Fatimah belajar sabar, karena Rasulullah telah menanamkan makna kesabaran melalui deraan dan fitnah yang diterimanya di sepanjang hidupnya. Dan Ali merasakan itu semua. Karena ia tumbuh dan besar di tengah-tengah mereka berdua.

Maka, saat Rasulullah mempercayakan Fatimah pada dirinya, sebagai belahan jiwanya, sebagai teman mengarungi kehidupan, maka saat itulah hari paling bersejarah bagi dirinya. Sebab, sesunguhnya, Fatimah bagi Ali adalah seperti bunda Khodijah bagi Rasulullah. Teramatlah istimewa.

Suka duka, yang lebih banyak dukanya mereka lewati bersama. Dua hari setelah kelahiran Hasan, putra pertama mereka, Ali harus berangkat pergi ke medan perang bersama Rasulullah. Ali tidak pernah benar-benar bisa mencurahkan seluruh cintanya buat Fatimah juga anaknya. Ada mulut-mulut umat yang menganga yang juga menanti cinta sang khalifah.

Mereka berdua hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang sampai mengguncang langit. Penduduk langit bahkan sampai ikut menangis karenanya. Berhari-hari tak ada makanan di meja makan. Puasa tiga hari berturut-turut karena ketiadaan makanan pernah hinggap dalam kehidupan mereka. Tengoklah Ali, dia sedang menimba air di pojokkan sana, Setiap timba yang bisa angkat, dihargai dengan sebutir kurma. Hasan dan Husein bukan main riangnya mendapatkan sekerat kurma dari sang ayah.

Pun, demikian tak pernah ada keluk kesah dari mulut mereka. Bahkan, mereka masih bisa bersedekah. Rasulullah...tak mampu menahan tangisnya... saat mengetahui Fatimah memberikan satu-satunya benda berharga miliknya, seuntai kalung peninggalan sang bunda Khodijah, ketika kedatangan pengemis yang meminta belas kasihan padanya. Rasulullah, yang perkasa itu, tak mampu menyembunyikan betapa air matanya menetes satu persatu...terutama mengingat bahwa kalung itu begitu khusus maknanya bagi dirinya... dan fatimah rela melepasnya, demi menyelamatkan perut seorang pengemis yang lapar, yang bahkan tidak pula dikenalnya.

Dan lihatlah...langit tak diam. Mereka telah menyusun rencana. HIngga, melalui tangan para sahabat, kalung itu akhirnya kembali ke Fatimah. Sang pengemis, budak belaian itu bisa pulang dalam keadaan kenyang, dan punya bekal pulang, menjadi hamba yang merdeka pula. Dan yang terpenting adalah kalung itu telah kembali ke lehernya yang paling berhak...Fatimah.

Namun, waktu terus berjalan. Cinta di dunia tidaklah pernah abadi. Sebab jasad terbatasi oleh usia. Mati. Sepeninggal Rasulullah, Fatimah lebih sering berada dalam kesendirian. Ia bahkan sering sakit-sakitan. Sebuah kondisi yang sebelumnya tidak pernah terjadi saat rasulullah masih hidup. Fatimah seperti tak bisa menerima, mengapa kondisi umat begitu cepat berubah sepeninggal ayahnya. Fatimah merasa telah kehilangan sesuatu yang bernama cinta pada diri umat terhadap pemimpinnya. Dan ia semakin menderita karenanya setiap kali ia terkenang pada sosok yang dirindukannya, Rasulullah SAW.

Pada masa ketika kekalutan tengah berada di puncaknya, Fatimah teringat pada sepenggal kalimat rahasia ayahnya. Pada detik-detik kematian Rasulullah...di tengah isak tangis Fatimah...Rasulullah membisikkan sesuatu pada Fatimah, yang dengan itu telah berhasil membuat Fatimah tersenyum. Senyum yang tak bisa terbaca. Pesan Rasulullah itu sangatlah rahasia, dia hanya bisa terkatakan nanti setelah Rasulullah wafat atau saat Fatimah seperti sekarang ini...terbujur di pembaringan. Ya, Rasulullah berkata, "Sepeninggalku, ...diantara bait-ku (keluargaku), engkaulah yang pertama-tama akan menyusulku..."

Kini, Fatimah telah menunggu masa itu. Ia telah sedemikian rindu dengan ayahanda pujaan hatinya. Setelah menatap mata suaminya, dan menggenggam erat tangannya...seakan ingin berkata, "kutunggu dirimu nanti di surga...bersama ayah...", Fatimah Az-Zahro menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya... dalam deraian air mata... Ali menguburkan jasad istrinya tercinta itu...yang masih belia itu...sendiri...di tengah malam buta...Ali tidak ingin membagi perasaannya itu dengan orang lain. Mereka berdua larut dalam keheningan yang hanya mereka berdua yang tahu. Lama Ali terpekur di gundukan tanah merah yang baru saja dibuatnya. Setiap katanya adalah setiap tetes air matanya. Mengalir begitu deras. Hingga kemudian, dengan dua tangan terkepal. Ali bangkit berdiri...dan berteriak sekeras-seKerasnya sambil menghadap langit...." A L L A H U ... A K B A R".


Pertempuran Antar Sahabat
Amirul Mukminin Ali ra., kemudian berkonsentrasi membenahi kondisi umat. Terutama pada sisi administrasi pemerintahan, ekonomi dan stabilitas pertahanan. Beberapa reformasi fundamental, seperti penggantian pejabat dan pengambilan kembali harta yang pernah diberikan oleh khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan) menyulut kontroversi. Terutama, dalam kacamata awam, Ali tak pula kunjung menyeret pelaku pembunuhan Khalifah Ustman ke pengadilan.

Yang harus dihadapi Ali tak tanggung-tanggung, sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu pernah berjuang bersama Rasulullah menegakkan Islam, kini berada dalam barisan yang hendak melawannya. Bahkan ada pula sahabat yang dulu membaiatnya menjadi khalifah. kini turut pula menghadangnya. Kondisi yang betul-betul pahit.

Ali tidak pandang bulu. Baginya hukum menyentuh siapa saja. Tidak ada istilah 'orang kuat' di mata Ali. BAgi beliau, "orang lemah terlihat kuat dimataku, saat aku harus berjuang keras mengembalikan hak miliknya yang terampas. Orang kuat terlihat lemah di mataku, saat aku terpaksa mengambil sesuatu darinya yang bukan menjadi haknya".

Di masa Khalifah Ali, pusat pemerintahan di pindahkan ke Kuffah. Dari sini kemudian ia mengendalikan wilayah Islam, yang saat itu telah meluas termasuk Syam. Kondisi saat itu benar-benar membutuhkan ketegasan. Sebagai khalifah terakhir dalam bingkai Khulafa Ar-rasyidin, Ali dihadapkan pada masa pelik. Dimana akar dari permasalahannya adalah makin bertambahnya Islam dari segi jumlah namun makin berkurang pula dari segi kualitas. Interest pribadi (nafs), kesukuan (nasionalisme sempit) yang dibalut atas nama agama, menjadi awal mulanya masa kemunduran Islam.

Ketidaksempurnaan informasi yang diterima bunda Aisyah di Mekkah terhadap beberapa kebijakan Khalifah Ali telah membuatnya menyerbu Kuffah. Perang Jamal (Unta), demikian sejarah mencatatnya. Sebab bunda Aiysah ra memimpin perang melawan Ali dengan menunggangi Unta. Bersama Aisyah, turut pula sahabat Zubair bin Awam dan Thalhah. Di akhir peperangan, Khalifah Ali menjelaskan semuanya, dan Asiyah dipulangkan dengan hormat ke Mekkah. Ali mengutus beberapa pasukan khusus untuk mengawal kepulangan bunda Aisyah ke Mekkah.

Berikutnya adalah Perang Shiffin. Bermula dari GUbernur Syam, Muawiyyah bin Abu Sofyan yang menyatakan penolakannya atas keputusan Ali mengganti dirinya sebagai gubernur. Kondisi serba tak taat ini membuat Ali masygul. Mereka bertemu dalam Perang Siffin. Dan di saat-saat memasuki kekalahannya, pasukan Syam kemudian mengangkat Al-Quran tinggi-tinggi dengan tombaknya, yang membuat pasukan Kufah menghentikan serangan. Dengan cara itu, kemudian dibukalah pintu dialog.

Perundingan inilah yang kemudian membawa babak baru dalam kehidupan Ali, bahkan dunia Islam hingga saat ini. Sebuah tahkim (arbitrase) yang menurut sebagian pihak membuat Ali di bagian pihak yang kalah, namun menunjukkan kemuliaan hati Ali di sisi lain. Syam mengutus Amru Bin 'Ash yang terkenal dengan negosiasinya dan Ali mengutus Abu Musa Asyari, yang terkenal dengan kejujurannya. Ali nampak betul-betul berharap terhadap perundingan ini dan menghasilkan traktat yang membawa kedamaian diantara keduanya. Namun, kelihaian mengolah kata-kata dari pihak Syam membuat arbitrase itu seperti mengukuhkan kemunduran Ali sebagai khalifah dan menggantikannya dengan Muawiyah.

Dan ini menimbulkan ketidakpuasan dari beberapa elemen di pasukan Ali. Dari sini, lahirlah para Khawarij yang kelak kemudian, bertanggung jawab terhadap kematian Khalifah Ali.

Khawarij itu, Tiga untuk Tiga... Mereka membentuk tim berisi tiga orang yang tugasnya membunuh tiga orang yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap perundingan tersebut. Abdurahman bin Muljam ditugasi untuk membunuh Ali bin Thalib, Amr bin Abi Bakar ditugasi untuk membunuh Muawiyah, dan Amir bin Bakar ditugasi untuk membunuh Amr bin Ash. Mereka kemudian gagal membunuh tokoh-tokoh ini, kecuali Abdurahman bin Muljam.

Menjelang wafatnya Khalifah Ali ra, Ali sempat bermuram durja. Sebab, penduduk Kuffah termakan propaganda dan kehilangan ketaatan kepada dirinya. Saat Ali meminta warga Kuffah untuk mempersiapkan diri menyerbu Syam, namun warga Kuffah tak terlalu menanggapi seruan itu. Ini berdampak psikologis amat berat bagi Ali. Tidak hanya sekali dua kali. tapi acapkali seruan Khalifah Ali di anggap angin lalu oleh warga Kufah.

Karena itu, Ali sempat berkata," “Aku terjebak di tengah orang-orang tidak menaati perintah dan tidak memenuhi panggilanku. Wahai kalian yang tidak mengerti kesetiaan! Untuk apa kalian menunggu? Mengapa kalian tidak melakukan tindakan apapun untuk membela agama Allah? Mana agama yang kalian yakini dan mana kecemburuan yang bisa membangkitkan amarah kalian?”

Pada kesempatan yang lain beliau juga berkata, “Wahai umat yang jika aku perintah tidak menggubris perintahku, dan jika aku panggil tidak menjawab panggilanku! Kalian adalah orang-orang yang kebingungan kala mendapat kesempatan dan lemah ketika diserang. Jika sekelompok orang datang dengan pemimpinnya, kalian cerca mereka, dan jika terpaksa melakukan pekerjaan berat, kalian menyerah. Aku tidak lagi merasa nyaman berada di tengah-tengah kalian. Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara.”

"Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara". Pernyataan pedih mewakili hati yang pedih. Dalam kehidupan kekinian, mungkin bertebaran di tengah-tengah kita pemimpin-pemimpin baru atau anak-anak muda berjiwa pembaharu yang dalam hatinya sama dengan dalamnya hati Ali ra saat mengucapkan kalimat itu. Mereka menawarkan jalan cerah tapi, kita umatnya memilih kegelapan yang nampak menyilaukan. Kita abai terhadap ajakan mereka, dan malah mungkin memusuhinya...mengisolasinya. Ahhh...semoga kita terhindar dari kelakuan keji itu...

Usaha Khalifah Ali ra untuk menyusun kembali peta kekuatan Islam sebenarnya telah diambang keberhasilan. Satu demi satu yang dulunya tercerai berai telah kembali berikrar setia pada beliau. Namun , Allah berkehendak lain, setelah berjuang keras sekitar 5 tahun menjaga amanah kepemimpinan umat, dan setelah melewati berbagai fitnah dan deraan, Khalifah Ali menyusul kekasih hatinya, Rasulullah SAW dan FAtimah Az-Zahra menghadap Sang Pencipta, Allah SWT.

Hari itu, tanggal 19 ramadhan tahun 40 H, saat beliau mengangkat kepala dari sujudnya, sebilah pedang beracun terayun dan mendarat tepat di atas dahinya. Darah mengucur deras membahasi mihrab masjid. “Fuztu wa rabbil ka’bah. Demi pemilik Ka’bah, aku telah meraih kemenangan.”, sabda Ali di tengah cucuran darah yang mengalir. Dua hari setelahnya, Khalifah Ali wafat. Ia menemui kesyahidan seperti cita-citanya. Seperti istrinya, Ali juga dimakamkan diam-diam di gelap malam oleh keluarganya di luar kota Kuffah.

Di detik-detik kematiannya, bibir beliau berulang-ulang mengucapkan “Lailahaillallah” dan membaca ayat, “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah. Waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.” yang artinya, “Siapapun yang melakukan kebaikan sebiji atompun, dia akan mendapatkan balasannyanya, dan siapa saja melakukan keburukan meski sekecil biji atom, kelak dia akan mendapatkan balasannya.”

Beliau sempat pula mewasiatkan nasehat kepada keluarganya dan juga umat muslim. Di antaranya : menjalin hubungan sanak keluaga atau silaturrahim, memperhatikan anak yatim dan tetangga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an, menegakkan shalat yang merupakan tiang agama, melaksanakan ibadah haji, puasa, jihad, zakat, memperhatikan keluarga Nabi dan hamba-hamba Allah, serta menjalankan amr maruf dan nahi munkar.

Islam telah ditinggalkan oleh satu lagi putra terbaiknya. Pengalaman heroik hidupnya telah melahirkan begitu banyak kata-kata mulia yang mungkin akan pula menjadi abadi. Ia menjadi inspirasi bagi setiap pemimpin yang ingin membawa bumi ini pada ketundukan kepada Allah SWT.

Saat ia dicerca dari banyak arah, lahirlah perkataan beliau : “Cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”.

Saat beliau mesti menerima kenyataan pahit berperang dengan sahabatnya sendiri, dan juga mendapatkan persahabatan dari oarng yang dulunya menjadi musuh,lahirlah : "Cintailah sahabatmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu hari".

Beliau juga sangat menghormati ilmu. Tidak terkira banyaknya, kalmat bijak yang keluar dari mulutnya tentang keutamaan mencari ilmu. Ia juga menyarankan orang untuk sejenak merenungi ilmu dan hikmah-hikmah kehidupan. Kata beliau, "Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita), penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit".

Khalifah Ali ra adalah sebuah legenda. He is a legend. Dan legenda tidak akan pernah mati. Bisa jadi, saat lilin-lilin di sekitar kita mulai padam satu persatu, dan kita kehilangan panduan karenanya, maka pejamkanlah saja sekalian matamu. Hadirkan para legenda-legenda Islam itu, termasuk beliau ini, dalam benakmu dan niscaya ia akan menjadi penerang bagimu...seterang-terangnya cahaya yang pernah ada di muka bumi.

Wallahu`alam

Sejarah Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris






Sungai Eufrat dan Tigris merupakan sungai yang bersumber dari Pegunungan Armenia (Turki), keduanya berada di daerah Mesopotamia (sekarang Irak). Mesopotamia adalah nama sebutan daerah yang diapit oleh dua sungai, meso berarti tengah dan potamos artinya sungai. Daerah ini merupakan daerah yang sering kena banjir di saat musim hujan, dengan begitu lumpur-lumpur yang dibawa air menyebabkan lahan di sekitarnya menjadi subur. 

Ketergantungan bangsa-bangsa yang mendiami Lembah Sungai Eufrat dan Tigris disebabkan oleh daerah yang mengelilinginya adalah gurun yang terbentang luas, yaitu Gurun Elbrus dan Gurun Hamad. Tampak terlihat daerah Mesopotamia adalah lahan yang paling subur dibandingkan sekelilingnya.

Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris
Kesuburan tanah mendatangkan manusia untuk bertempat tinggal di daerah tersebut dengan pencahariannya bercocok tanam. Banjir yang dialaminya dijadikan sebagai tantangan untuk tetap bertahan hidup dengan membuat tanggul-tanggul penahan banjir, kanal banjir dan saluran pertanian. Dari kondisi tersebut, muncul peradaban, bahkan para ahli mempercayai bahwa mesopotamia adalah tempat asalnya peradaban manusia di dunia.

Bangsa Ubaid adalah bangsa pertama yang mendiami daerah tersebut pada tahun 5000 SM dengan ditandai munculnya kota Kish, Eridu dan Ur. Kedatangan bangsa Sumeria pada tahun 3000 SM membaur dengan bangsa Ubaid, lalu membangun sebuah kota dengan rumah-rumah yang dibuat dari lumpur dan tanah liat.


(a) Kerajaan Sumeria
Perkembangan Kota Ur sangat pesat dan menyebabkan timbulnya sebuah tatanan sosial di masyarakatnya. Bangsa Sumeria yang telah berbaur dengan bangsa asli membuat sistem pemerintahan, makin lama makin berkembang dan mengembangkan sebuah kerajaan.

Kerajaan Sumeria diperintah oleh sebuah badan kerajaan yang memperoleh hak tinggi dalam berbagai bidang, seperti politik, agama dan militer. Badan tersebut dipimpin oleh seseorang yang dianggap menguasi daerah Sumeria, yang diberi gelar Lugal (Lugal berarti raja). Patesi yang telah berkuasa di Kerajaan Sumeria antara lain Patesi A-annipada, Patesi Umia, Patesi Urukagina dan Patesi Lunggal zagisi. Kekuasaan patesi sangat berpengaruh terhadap dasar-dasar kehidupan masyarakat, oleh karenanya kekuasaanya bisa berlangsung di Sumeria selama dua abad.

(b) Kerajaan Akkadia
Kerajaan Akkadia berdiri tahun 2500 SM setelah Raja Sargon (bangsa Semit) setelah berhasil menaklukan bangsa Sumeria di Mesopotamia. Kemudian memindahkan ibukotanya dari Ur ke Agade. Usaha bangsa Akkadia menaklukan kerajaan Sumeria berlangsung lama. Mereka datang dari derah gurun pasir dan menaklukan Kerajaan Sumeria. 

Beberapa kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari Sumeria diadopsi, diantaranya mengenai ilmu kalender dan takaran. Bangsa Akkadia mengenal legenda-legenda kepahlawanan, yakni legenda Adapa, Etana dan Gilgamesh yang mirip dengan cerita manusia pertama Adam dan Hawa. Mereka juga mengenal legenda air bah yang mirip dengan cerita Nabi Nuh namun dalam versi yang berbeda. Dinasti Raja Sargon di Agade berkuasa 1 abad dan dihancurkan oleh Guti pada tahun 2200 SM. Kerajaan Sumeria kembali berkuasa setelah Raja Ur-Nammu mengalahkan Kerajaan Akkadia dan mengembalikan ibukota ke Ur.

(c) Kerajaan Babylonia Lama
Pada tahun 2000 SM, Sumeria akhirnya dikuasai oleh bangsa Amoria. Pergantian ini berlangsung lama setelah kekuasaan Dinasti Ur-Nammu mulai melemah dan sering terjadi perebutan kekuasaan. Dinasti Amorit dipimpin oleh Sumuabum, ia memindahkan ibukotanya ke Babylon. Raja Hammurabi adalah salah satu keturunan dinasti Amorit yang terkenal dan menjadi raja besar setelah membentuk imperium hingga Turki, Suriah dan Teluk Persia. Ia juga yang meletakkan hukum tatanan masyarakat untuk kehidupan yang aman dan tenteram yang dikenal dengan Codex Hammurabi. Hukum Hammurabi mengakomodasi kebudayaan bangsa Semit yang menggunakan hukum pembalasan, seperti hilang nyawa diganti nyawa.

Raja Babylonia runtuh setelah Raja Hammurabi wafat, lemahnya pengganti raja dan seiringnya serangan dari bangsa Hittite. Kekuasaan bangsa Amoria digantikan oleh bangsa Assyiria.

(d) Kerajaan Assyria
Bangsa Assyria termasuk bangsa nomaden bertempat di Arab bagian Utara. Kondisi alam yang panas dan penuh tantangan menjadikan mereka bangsa yang kuat. Ibukotanya saat itu ada di kota Assur. Kekuatan mereka digunakan untuk menguasai daerah lain termasuk Mesopotamia. Semula mereka diwajibkan membayar pajak dan mengabdi kepada Kerajaan Babylonia dan Hittite. 

Pada tahun 1350 SM di bawah pimpinan Assuruballit, Assyria mampu melepaskan kewajiban tersebut dan dapat menyaingi Babylonia. Ketika dipimpin oleh Tiglath Pletser I, Assyria dapat menguasai Babylonia yang sudah dikuasai bangsa Hittite. Dengan kemenangan tersebut tumbuhlah Kerajaan Assyria beribukota Niniveh. Salah satu rajanya yang termasyhur adalah raja Ashurbanipal yang mampu mengembangkan wilayah kerajaannya meliputi Lembah Sungai Nil, Armenia, Damascus dan Yunani. Kerajaan Assyria berkuasa selama dua abad, yaitu abad ke-9-7 SM, keruntuhannya terjadi oleh serbuan bangsa Chaldea keturunan Babylonia.

(e) Kerajaan Babylonia Baru
Kerajaan Babylonia Baru lahir setelah Nabopalassar memimpin bangsa Chaldea menyerbu Kerajaan Assyria pada tahun 612 SM. Kerajaan Babylonia Baru mengalami kejayaan pada zaman Raja Nebukadnezar karena:

(1) Meredam pemberontakan Yahudi di Palestina, dan mengirim ke pembuangan setelah kalah perang;
(2) Membuat jembatan untuk lalu lintas kota;
(3) Membangun taman gantung.

Setelah Nebukanedzar wafat, Babylonia runtuh oleh bangsa Medes dari Persia.

Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris
Darius I Tengah Berburu Singa
(f) Kerajaan Persia
Pada awalnya bangsa Medes tinggal di Pegunungan Zagros (sebelah Utara Teluk Persia). Mereka bangsa yang kuat dan merupakan ancaman bagi bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Sebagai bangsa nomaden, bangsa ini menyebar ke India dan Eropa Barat. Tahun 539 SM berhasil menguasai kerajaan Babylonia Baru, namun tak lama kemudian muncul Cyrus sebagai pemimpin bangsa Persia berhasil menaklukan Babylonia Baru dan menyatukan kedua bangsa Medes dan Persia. 

Anaknya yang bernama Cambysses menaklukan Bangsa Mesir yang selanjutnya diganti oleh Raja Darius. Raja Darius berhasil membawa Kerajaan Persia ke dalam kejayaan dengan memperluas wilayahnya sampai ke Yunani. Sistem pemerintahan Darius dipakai dalam sistem pemerintahan di dunia saat ini. Negara terdiri dari 20 provinsi yang masing-masing provinsi diperintah oleh satrap (gubernur) yang ditunjuk oleh Raja.

Pada zaman kekuasaan Kerajaan Persia di Mesopotamia tampil seorang tokoh agama yang bernama Zoroaster yang mengajarkan bahwa kekuatan kebaikan dikuasai oleh Ahura Mazda dan kekuatan kejahatan dikuasai oleh Ahriman. Kitab suci ajaran ini bernama Avesta.


Bangsa Sumeria mempercayai banyak dewa yang ditimbulkan oleh kondisi alam yang tidak stabil. Diantara banyak dewa-dewa yang dikenal, tiga di antaranya merupakan dewa tertinggi antara lain Dewa Anu (Dewa Langit), Dewa Enlil (Dewa Bumi) dan Dewa Ea (Dewa Air)

Keberhasilan bangsa Sumeria menguasai daerah Mesopotamia diabadikan dalam sebuah mitologi kemenangan saat terjadi peperangan antara Dewa Marduk dengan Dewa Tiamat. Dewa Tiamat dianggap sebagai dewa petaka yang selalu membawa bencana banjir.


(a) Aksara
Sejak berdirinya Sumeria, bangsa-bangsa yang mendiami Lembah Sungai Eufrat dan Tigris sudah mengenal abjad dengan bentuk huruf paku dengan sebutan kuneiform. Pengembangan huruf ini didapat pada peninggalan Babylonia sebuah prasasti batu Undang-undang Hammurabi yang memuat 282 pasal, setiap pasalnya memuat peraturan dan hukuman bagi pelanggarnya.

(b) Kalender
Pergantian musim menunjukkan pergantian bulan, untuk kepentingan masa bercocok tanam dan panen mendorong timbulnya sistem penanggalan. Penanggalan waktu ini sudah dikenal sejak Kerajaan Sumeria dan berkembang sejak Kerajaan Chaldea yang membagi minggu dalam 7 hari, hari dalam 24 jam, sama seperti yang terjadi saat ini.

(c) Ilmu hitung
Bangsa Sumeria sudah mengenal angka 60 (sexagesimal) bilangan dasar, susunan angka 60 dipakai sebagai besarnya derajat dalam 1 lingkaran, yakni 360 derajat yang dianalogikan sama dengan peredaran bumi mengelilingi matahari dalam 1 tahun yang terdiri dari 360 hari.

Demikianlah Materi Sejarah Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris, semoga bermanfaat.

Peradaban lembah sungai kuning (hwang ho)


  1. 1. Peradaban Lembah Sungai Kuning (HWANG-HO)
  2. 2. Nama Kelompok 2 : 1. Andrew Angga 2. Bella Collent 3. Elvira 4. Fanny 5. Herawaty 6. Hermawanty 7. Monica O. Tantri 8. Nathania
  3. 3. Letak Negara Pada Masa kini
  4. 4. • Peradaban tertua Cina kuno ditemukan di lembah sungai Kuning (Hwang Ho) dari sekitar tahun 3000 sebelum masehi. Sungai kuning ini terdapat dipegunungan Kwen Lun. Sungai ini amat panjang dan membawa lumpur kuning yang kemudian membentuk daratan cina. Sungai Kuning ini bermuara di teluk Tsii-Li di laut kuning. Daerah di sekitar sungai Kuning ini amat subur, sehingga penduduknya sangat maju kebudayaannya. Di wilayah barat dan utaranya terbentang padang rumput yang luas. Peradaban Lembah Sungai Kuning ( Hwang Ho atau yang sekarang disebut Huang He). • “Sungai Hwang Ho memiliki panjang 5.464 km, sungai ini merupakan sungai terpanjang kedua di Tiongkok setelah Sungai Panjang (Yang Tse ).”
  5. 5. Sungai Kuning (HWANG-HO)
  6. 6. Sungai Yang Tse
  7. 7. Penduduk
  8. 8. • Daerah padang rumput ini didiami oleh suku kelana yang disebut bangsa Syung-nu. Bangsa bangsa kelana (nomaden) seperti bangsa Syung-nu, Tibet, dan Mongol selalu berusaha menyerbu daerah daerah subur dilembah sungai kuning, sehingga sering kali terjadi peperangan. Untuk menghindari penyerbuan bangsa kelana, dibangunlah sebuah tembok besar ( The Great wall of China) yang panjangnya mencpai 3000 km dengan tinggi rata- rata mencpai 16m. Bangunan kolosal ini dirintis pada masa pemerinthahn Dinasti Chin (221-206) penyelesaiannya dilakukan pada masa pemerintahan Raja-Raja Dinasti Ming (1368-1644 M).
  9. 9. • Manusia purba yang ditemukan dalam gua gua Cholukoutien di lembah Hoang Ho adalah Sinantropus Pekinensis, artinya manusia Cina dari Peking. Jenis manusia ini setingkat dengan Pithecantropus Erectus yang ditemukan di Indonesia yang mendukung kebudayaan Paleolitikum. Kebudayaan Lembah Sungai Hwang Ho ditemukan sekitar 3000 SM. Orang Cina menyebut negerinya Chung Kuo yang artinya negeri tengah karena terletak di tengah tengah dunia. Rakyatnya disebut Hoang-Chuang kua atau cina yang umumnya berada di lembah sungai Hoang-Ho dan sungau Tse Kian. Disinilah pusat peradaban banyak ditemukan.
  10. 10. Aksara dan bahasa
  11. 11.  Masyarakat Cina sudah mengenal tulisan, yaitu tulisan gambar. Tulisan gambar itu merupakan sebuah lambang dari apa yang hendak ditunjukkan. Tulisan itu merupakan salah satu sarana komunikasi. Untuk memupuk rasa persatuan dan rasa persaudaraan, pada permulaan abad ke-20 dikembangkan pemakaian bahasa persatuan, yaitu bahasa Kuo-Yu.
  12. 12. Astronomi
  13. 13. Masyarakat Cina juga sudah mengenal astronomi (ilmu perbintangan) yaitu sistem peninggalan yang penting untuk kegiatan pertanian dan pelayaran. Dalam bidang astronomi, orang Cina telah mengembangkan sistemnya sendiri. Sekitar tahun 600 SM, mereka telah mengenal adanya 28 gugus bintang penuntun yang dapat menentukan posisi bintang lain. Ilmu astronomi dapat digunakan untuk:  menentukan penanggalan yang didasarkan pada peredaran bulan;  meramal masa depan manusia dan masa depan negara khususnya saat memasuki tahun baru imlek;  mengetahui saat terjadinya gerhana matahari dan bulan; dan  mengetahui perputaran atau pergantian musim yang erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat seperti pertanian dan pelayaran.
  14. 14. Pertanian
  15. 15.  Pada daerah yang subur itu masyarakat Cina hidup bercocok tanam seperti menanam gandum, padi, teh, jagung dan kedelai. Pertanian Cina kuno sudah dikenal sejak zaman Neolitikum, yakni sekitar tahun 5000 SM. Kemudian pada masa pemerintahan Dinasti Chin (221-206 SM) terjadi kemajuan yang mencolok dalam sistem pertanian.  Pada masa ini pertanian sudah diusahakan secara intensif. Pupuk sudah dikenal untuk menyuburkan tanah. Kemudian penggarapan lahan dilakukan secara teratur agar kesuburan tanah dapat bertahan. Irigasi sudah tertata dengan baik. Pada masa ini lahan gandum sudah diusahakan secara luas.
  16. 16. Teknologi
  17. 17.  Bumi Cina mengandung berbagai barang tambang seperti batu bara, besi, timah, wolfram, emas dan tembaga, yang sebagian besar terdapat di daerah Yunan. Pembuatan barang-barang seperti perhiasan, perabotan rumah tangga, alat-alat senjata seperti pisau, pedang, tombak, cangkul, sabit dan lain-lain, menunjukan tingginya tingkat perkembangan teknologi masyarakat Cina pada saat itu.  Produksi, distribusi, transportasi, peralatan komunikasi, pekerjaan, perhiasan, perumahan, atau senjata. Semua komponen itu masuk dalam sistem teknologi.
  18. 18. Kepercayaan
  19. 19. Sebelum ajaran Kong Fu Zi dan Meng Zi, bangsa Cina menganut kepercayaan kepada dewa-dewa yang dianggap memiliki kekuatan alam. Menurut kepercayaan Cina kuno, dunia digambarkan sebagai sebuah segi empat yang di bagian atasnya ditutupi oleh 9 lapisan langit. Di tengah-tengah dunia itulah terletak daerah yang didiami bangsa Cina yang disebut T'ien-hsia. Daerah di luar T'ien-hsia dianggap sebagai daerah kosong tempat tinggal para hantu dan Dewi Pa (penguasa musim semi). Kepercayaan masyarakat cina bersifat polytheis. Polytheis artinya menyebah banyak dewa sebagai kekuatan alam.
  20. 20. Mereka percaya dan menyembah berbagai dewa diantaranya : Dewa Pa ( dewa penguasa musim kemarau) Dewa Le-shi (dewa angin topan berbentuk naga besar) Dewa Tai-Shan (dewa empat serangkai yang bertahta dibukit suci) Dewa Ho-Po (dewa sungai Hwang-Ho yang berbadan manusia sambil mengendarai dua ekor naga). Setiap tahun diadakan upacara untuk menyengkan dewa Ho- Po agar tidak terjadi banjir. Dalam upacara itu dipersembahkan seorang gadis cantik dengan melemparkannya kedalam sungai Hwang-Ho. Dewa Ho-Tien atau raja langit. Bangsa cina menurut mitologinya keturunan dari Ho –Tien.
  21. 21. Filsafat
  22. 22. • Filsafat kehidupan cina berkembang pada zaman Dinasti Chou (1100-156 SM) sehingga Dinasti Chou berhasil meletakkan dasar dasar kehidpuan dan berpengaruh sepanjang sejarah Cina. Filsuf cina yaitu : 1. Lao Tse,  ajarannya disebut Taoisme yang tertulis dalam buku Tao Te-Ching. Ajaran Tao ini ditemukan dalam bukunya yang berjudul Tao-Teking. Ajaran Tao ini mengemukakan bahwa, agar dunia ini aman dantertib maka setiap orang harus menjalankan Wu-Wei (tidak melakukan hal hal yang bertebtangan dengan pekerjaannya) dengan demikian dunia ini akan tertib (Tao)
  23. 23. 2. Kung Fu-Se (551-479 SM)  Kung Fu-Tse oleh bangsa Eropa dikenal dengan Confusius. Ajarannya berdasarkan Tao seperti yang diajarkan ole Lao Tse dengan tambahan bahwa ketertiban (Tao) dapat dicapai apabila perbuatan manusia disertai dengan Te atau kebijakan (susila) . jika kebajikan itu dijalankan maka akan tercapai Li atau teraturnya susunan pemerintahan, tata Negara dan agama. Seandainya Te tidak ada maka bangsa di Negara akan kacau. Menurut masyarakat Tiongkok yang pada saat itu sering terjadi kekacauan karena tidak seeorang pun menjalankan Te. Oleh karena itu Kung Fu-Tse menghimbau agar setiap ornag kembali menjalankan Te, sehingga dengan sendirinya Li atau susunan masyarakat kembali normal.
  24. 24. 3. Men-Tse (327-289 SM )  Men-Tse oleh bangsa barat dikenal dengan nama Mencius. Ia adalah seorang penganut ajaran Confusius. Ada sedikit perbedaan ajarannya dengan ajaran Kung Fu-Tse. Confusius mengutamakan ajarannya pada kalangan bangsawan istana karena ia beranggapan bahwa suatu masyarakat akan tertib apabila pimpinanya terlebih dahulu menjalankan Te, sedangkan Men-Tse lebih menitik beratkan ajarannya kepada kalangan rakyat jelata. Ia berpendapat yang lebih utama dalam suatu masyarakat atau negara adalah rakyatnya. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai peletak dasar ajaran demokrasi bagi masyarakat cina.
  25. 25. Sistem Pemerintahan
  26. 26. Dalam perjalanan sejarahnya, ada dua macam sistem pemerintahan yang pernah dianut dalam kehidupan kenegaraan Cina kuno, yaitu: • Sistem Pemerintahan Feodal dalam masa pemerintahan ini, kaisar tidak menangani langsung urusan kenegaraan. Kondisi ini berlatar belakang bahwa kedudukan kaisar bersifat sakral. Kaisar dihormati sebagai utusan atau bahkan anak dewa langit, sehingga tidak layak mengurusi politik praktis. • Sistem Pemerintahan Unitaris kaisar berkuasa mutlak dalam memerintah. Kekuasaan negara berpusat di tangan kaisar, sehingga kaisar campur tangan dalam segala urusan politik praktis. Kerajaan kekaisaran di Cina merupakan kerajaan agraris yang menimbulkan susunan masyarakat dan negara feudal.
  27. 27. Beberapa nama dinasti yaitu : a. Dinasti Shang (1766 –1122 SM) • Dinasti Shang adalah dinasti tertua sebagai penumbuh dinasti dan peletak dasar peradaban Cina Kuno. Dinasti ini mampu membudidayakan Sungai Hoang Ho dengan tanggul sehingga rakyat Cina hidup dengan tenang dan sejahtera dengan memanfaatkan sungai tersebut. Rakyat hidup bercocok tanam dan beternak. Mereka sudah mengenal tulisan kuno piktograf yang aksaranya disebut Honji. Mereka menyembah Dewa Shang Ti. Mereka sudah mengenal ilmu astronomi dan menentukan penanggalan. b. Dinasti Chou (1122 – 255 SM) • Dinasti Chou didirikan oleh Pangeran Wu Wang dengan pusat pemerintahan di Provinsi Shensi. Sebagai balas jasa, kepada para penguasa diberi tanah sehingga lahirlah sistem feodal. Peristiwa yang penting adalah munculnya ahli pemikir, seperti Lao Tse, Kung Fu Tze, Meng Tze, dan Chung Tze.
  28. 28. c. Dinasti Chin (255 SM – 205 SM) Dinasti Chin memerintah Cina mencapai kejayaan, yakni pada masa Chin Shih Huang Ti. Pada masa pemerintahannya, dinasti ini berhasil menguasai Kerajaan Chou, Wei, dan Han sehingga Cina dipersatukan di bawah kekuasaannya. Jasa-jasanya adalah sebagai berikut. 1) Cina dipersatukan dan diperintah oleh hanya satu raja. 2) Feodalisme dibubarkan. 3) Dibangun Tembok Besar Cina yang panjangnya 3.000 km, lebarnya 8 m, dan tingginya 16 m. Tembok ini berfungsi untuk membendung serangan bangsa Syiung Nu. 4) Wilayah Cina dibagi menjadi 36 provinsi
  29. 29. d. Dinasti Han (202 – 211 M) • Pendirinya adalah Liu Pang, kaisar yang terkenal adalah Han Wu Ti. Pada masa pemerintahannya terdapat kemajuan-kemajuan, antara lain, 1) meluaskan wilayah ke Korea, 2) ajaran Kung Fu Tze dijadikan dasar pemerintahan, 3) memajukan perdagangan, 4) orang Cina sudah dapat membuat kertas dari kulit kayu yang disebut tsa’ilun, dan 5) agama Buddha mulai masuk Cina.
  30. 30. e. Dinasti Sui (589 – 618 M) • Dinasti Sui mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sui Yang Ti dengan menundukkan dinasti Han serta menaklukan Syiung Nu, yakni suku liar dari Utara yang selalu mengganggu Cina. Usaha yang dilakukan, antara lain : 1) meluaskan wilayah Cina, 2) membangun istana kerajaan, 3) mengadakan ujian penyaringan bagi pegawai, dan 4) membangun saluran kaisar untuk memperlancar perdagangan.
  31. 31. f. Dinasti T'ang (618 – 906 M) • Masa pemerintahan dinasti T'ang merupakan masa penting bagi pertumbuhan Cina. Saat inilah mulai muncul adanya hubungan dengan Indonesia. Masa pemerintahan yang besar adalah pada masa Tang Tai Sung. Keberhasilannya adalah : 1) wilayah Cina sampai ke luar Cina, seperti Tonkin, Annam, Kampuchea, dan Persia; 2) kesenian maju pesat dengan tokoh Li Tai Po, Tu Fu, dan Weng Wei, hasilnya adalah guci, belanga, dan jambangan; 3) sistem pemerintahan desentralisasi serta dibangunnya pagoda; 4) dikeluarkannya undang-undang yang mengatur masalah pembagian tanah.
  32. 32. g. Dinasti Sung (960 – 1279 M) • Dinasti Sung memerintah Cina di bawah kaisar Sung Tai Tsu. Pada masa pemerintahanya, ilmu pengetahuan maju pesat. Usaha-usahanya adalah 1) mendirikan museum; 2) mengekspor porselin ke Jepang, Korea, India, Persia, Afrika, dan Eropa; 3) menggunakan tulisan piktograf dengan gambar lambang tertentu; 4) pengetahuan astronomi digunakan untuk menentukan penanggalan berdasarkan bulan dan matahari.
  33. 33. h. Dinasti Mongol (1279 – 1294 M) Orang Mongol berhasil menguasai Cina di bawah Genghis Khan yang kemudian memusatkan ibu kota di Kambaluk (Peking). Pada tahun 1227, Genghis Khan meninggal digantikan Ogodai yang memperluas wilayah ke Rusia, Hongaria, Polandia, dan Siberia. Tahun 1260, Kublai Khan menggantikan kekuasaannya dan mendirikan pemerintahan yang kemudian disebut dinasti Yuan. Pada masa pemerintahannya, ia menyuruh utusan ke Singasari untuk meminta pengakuan dari Kertanegara, tetapi ditolak. Akibatnya, pada tahun 1293 Cina mengerahkan tentara ke Singasari untuk menaklukannya.
  34. 34. i. Dinasti Ming (1368 – 1642 M) Setelah berhasil mengalahkan dinasti Mongol di Cina, Chu Yuang Chang kemudian memerintah dengan menyusun persatuan Cina kembali di bawah Dinasti Ming. Ia kemudian digantikan oleh puteranya, yakni Yung Lo. Pada masa inilah Cina mengadakan hubungan dagang dengan Majapahit sehingga ada hubungan yang damai antara kedua negara tersebut. Seni bangunan sangat maju dengan dibangunnya pagoda. Pada masa pemerintahan Yung Lo datanglah Portugis (1516), orang Belanda, dan Inggris untuk mengadakan hubungan perdagangan. Dinasti Ming mengalami keruntuhan disebabkan oleh serangan bangsa Manchu yang akhirnya berkuasa di Cina.
  35. 35. j. Dinasti Manchu • Dinasti ini berasal dari Manchuria yang datang dan menguasai Cina. Dinasti ini diperintah oleh kaisar yang kurang pandai sehingga menggugah kesadaran bangsa Cina untuk berjuang bagi bangsanya dalam Revolusi Cina 10 Oktober 1911 yang dikenal dengan Revolusi Wucang Day. Hasilnya, tanggal 1 Januari 1912 Cina lahir sebagai negara republik dengan Presiden Sun Yat Sen.
  36. 36. Mata Pencaharian
  37. 37. • Mata pencaharian mereka dari pertanian, pada bagian hilir dari Sungai Kuning, terdapat dataran rendah Cina yang subur dan merupakan pusat kehidupan bangsa Cina. Masyarakat Cina umumnya bercocok tanam gandum, padi, teh, jagung, dan kedelai. Kegiatan pertanian Cina Kuno memang sudah dikenal sejak zaman Neolitikum (± 5000 SM) dan tanaman pangan utama yang ditanam adalah padi. • Pada zaman perunggu, prioritas pokok dalam pertanian rakyat Cina adalah padi, teh, kacang kedelai, dan rami. Kegiatan pertanian mengalami kemajuan pesat dalam pemerintahan Dinasti Qin (221-206 SM). Di masa itu, masyarakat Cina telah menerapkan sistem pertanian yang intensif dengan penggunaan pupuk, irigasi yang baik, dan perluasan lahan gandum.
  38. 38. Hasil Hasil Kebudayaan
  39. 39. A. Seni Sastra Perkembangan seni sastra pada zaman Cina kuno tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan tulisan. Masyarakat Cina kuno telah mengenal tulisan sejak tahun 1500 SM. Pada awalnya huruf cina dibuat dengan sangat sederhana yaitu satu lambing menunjukkan satu pengertain. Tulisan itu ditulis pada kulit kulit menyu atau bambu. Baru pada masa kekuasaan dinasti Han di mana kertas telah ditemukan, karya satra mengalami perkembangan yang sangat pesat di cina. Karya sastra klasik lainnya yang diketahui pengarangnya adalah : • Shih Ching (puisi klasik) • Shu Ching (sejarah klasik) • I Ching (perubahan perubahan ) • Chu Chin ( musim semi dan musim gugur )
  40. 40. B. Seni Bangunan Tembok Besar Cina • Tembok Besar Cina dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Chin. Pada masa pemerintahan kaisar Shih Huang Ti, dinding-dinding itu dihubungkan menjadi tembok raksasa yang panjangnya mencapai 7000 km dan tingginya 16 m serta lebarnya 8 m. Tembok raksasa ini dibangun dalam waktu 18 abad lamanya dan selesai pada masa kekuasaan dinasti Ming (abad ke 17 M)
  41. 41. Kuil  Bangunan kuil adalah bangunan suci tempat pemujaan para dewa. Salah satu kuil terkenal di cina bernama Kuil Dewa Beijing. Bangunan itu terbuat dari batu pualam yang dikelilingi oleh tiga pelataran yang amat indah serta di bagian tengah terdapat tangga yang terbuat dari batu pualam pilihan. Atap bangunan dibuat berlapis tiga. Menurut kepercayaan masayrakat, tangga itu merupakan tangga untuk roh roh leluhur. Istana  Istana kaisar atau raja Cina dibangun dengan sangat megah dan indah. Tujuannya sebagai tanda penghormatan terhadap kaisar atau raja. Rakyat Cina sangat menghormati kaisar atau rajanya, karena ia dipandang sebagai penjelmaan para dewa yang memerintah negeri Cina, sehingga kemegahan istana tidak jauh berbeda dengan kemegahan kuil tempat pemujaan para dewa.
  42. 42. Kuil Dewa Beijing
  43. 43. Istana Kaisar Cina ( Tian An Men)
  44. 44. C. Seni Kerajinan Lukisan • Perkembangan seni lukis sangat pesat, bahkan lukisan lukisan hasil karya dari tokoh tokoh ternama menghiasi dinding dinding tembok istana atau kuil kuil. Lukisan lukisan tersebut sangat indah seperti lukisan alam semesta atau lukisan dewa dewa yang dipuja oleh masyrakat cina, juga termasuk lukisan lukisan dari raja raja yang pernah memerintah. Keramik • Keramik merupakan ciri khas dari hasil karya masyarakat cina. Pembuatan benda benda dari keramik itu mengandung jiwa seni, karena pada benda benda keramik terdapat berbagai,macam bentuk hiasan, sperti guci keramik yang dihias dengan seekor ular naga atau dihias dengan gambar gambar hewan maupun tumbuhan. Keramik mempunya nilai yang sangat tinggi dehingga barang tersebut dapat diperdagangkan oleh masyarakat cina.
  45. 45. Contoh lukisan di Cina
  46. 46. :Contoh Keramik Cina
  47. 47. Sekian Dari kelompok Kami

Pendapat Para Ahli Mengenai Kehidupan Awal Indonesia


Pendapat Para Ahli Mengenai Kehidupan Awal Indonesia| Keberadaan masyarakat awal di Kepulauan Indonesi diketahui dan didukung oleh beberapa teori dan pendapat yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh ahli. Teori-teori yang mendukungnya dikenal dengan teori imigrasi. Menurut teori imigrasi, terdapat beberapa jenis petunjuk tentang keberadaan masyarakat awal di Kepulauan Indonesia. 
Pendapat Para Ahli Mengenai Kehidupan Awal Indonesia
1. Prof. Dr. H. Kern dengan teori imigrasi menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Teorinya itu didukung oleh perbandingan bahasa, Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia berawal dari satu akar bahasa yang bernaam bahasa Austronesia. Menurut Kern, nenek moyang bangsa-bangsa yang memakai rumpun bahsa Austronesia tersebut berasal dari daerah Campa, Teluk Tongkin, dan Kampuchea yang berada di daerah pantai. Menurut H. Kern, bangsa Indonesia berasal dari daerah Campa, Kampuchea. Berdasarkan penelitiannya tentang perbandingan bahasa, ditemukan bahasa-bahasa di kepulauan Nusantara. 
2. Von Heine Geldern berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia. Pendapatnya ini didukung oleh artefak-artefak (bentuk budaya) yang ditemukan didaratan Asia. 
3. Hogen menyatakan bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatra. Bangsa ini tercampur dengan bangsa Mongol yang kemudian disebut bangsa Proto Melayu dan Deutero Melayu. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) menyebar di wilayah Indonesia tahun 1500 SM-1300 SM. Adapun bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda) menyebar di wilayah Indonesia sektiar 1500 SM-500 SM. 
4. Muh. Yamin menentang semua pendapat yang dikemukakan oleh para ahli atas. Muh. Yamin berpendapat bahwa asal bangsa Indonesia dari daerah Indonesia sendiri. Bahkan, bangsa-bangsa lain yang ada di wilayah Asia didukung oleh suatu pernyataan tentang Blood Und Breden Unchro yang berarti adalah darah dan tanah bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Ia menyatakan bahwa fosil dan artefak itu lebih banyak dan lebih lengkap ditemukan di wilayah Indonesia dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Asia. Misalnya, dengan penemuan manusia purba jenis Homo Soloensis dan Homo Wajakensis
5. Dr. Brandes yang dikirim ke Indonesia tahun 1884 menyatakan bahwa bangsa yang bermukim di Kepulauan Indonesia memiliki banyak persamaan dengan bangsa-bangsa pada daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa, sebelah barat daerah Madagaskar, sebelah selatan yaitu tanah Jawa, Bali, sebelah timur sampai ke tepi pantai barat Amerika. Penyelidikan atau penelitian yang dilakukan oleh Brandes melalui perbandingan bahasa. 
Sekian artikel tentang Pendapat Para Ahli Mengenai Kehidupan Awal Indonesia semoga bermanfaat (Sumber : Sejarah, Hal : 46-47, Penulis : Rini Mardikaningsih-R.Sumaryanto, Penerbit : Global) 

Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan


A. Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan
Pada masyarakat yang belum mengenal tulisan, proses pewarisan kebudayaan dilakukan melalui trades lisan. Tradisi lisan adalah pengungkapan dengan bahasa lisan dari satu generasi ke generasi yang lain terkait dengan kebisaan / adat istiadat, kepercayaan, dan nilai moral. Menurut Kuntowijoyo, tradisi lisan merupakan sumber sejarah yang merekam masa lampau masyarakat. Tradisi lisan mengandung kejadian-kejadian sejarah, nilai-nilai moral, kepercayaan, adat istiadat, cerita khayalan, pribahasa, lagu dan mantra, serta petuah leluhur. Tradisi lisan ada sejak manusia memiliki kemampuan berkomunikasi.
1.        Cara Masyarakat Indonesia Mewariskan masa lalunya pada masa sebelum mengenal tulisan
a.    Keluarga
Melalui keluarga , masa lalu diwariskan kepada generasi penerus. Pengenalan dilakukan mulai dari yang sederhana (aspek-aspek material) hingga yang rumit (aspek-aspek nonmaterial). Aspek-aspek material, misalnya benda-benda yang dapat diraba dan dilihat. Aspek-aspek nonmaterial, misalnya kepercayaan, nilai, norma, dan bahasa. Pewarisan masa lalu tersebut dilakukan melalui sosialisasi langsung (disampaikan secara lisan atau dengan dongeng) maupun sosialisasi tidak langsung (dengan  contoh dalam  hal perilaku sehari-hari)
b.    Masyarakat
Masyarakat yang belum mengenal tulisan mewariskan masa lalunya melalui beberapa cara berikut
1)       Tradisi dan adat istiadat yang mengatur perilaku dan hubungan antarindividu
2)      Nasihat para leluhur yang dilestarikan melalui ingatan kolektif anggota masyarakat. Ingatan kolektif disampaikan secara lisan turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
3)     Peranan oranq yang dituakan atau pemimpin kelompok. Biasanya orang yang dituakan tersebut memiliki magis untuk menaklukkan alam.
4)     Membuat suatu peringatan melalui lukisan, perkakas hidup, dan bangunan tugu atau makam untuk memuja arwah nenek moyang. Semuanya itu dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya hanya dengan melihatnya.
5)     Masa lalu diwariskan melalui kepercayaan yang menyangkut kepercayaan terhadap roh-roh serta arwah nenek moyang. Hal tersebut termasuk sejarah lisan karena meninggalkan bukti sejarah berupa benda-benda dan bangunan peribadatan. Misalnya, menhir dan dolmen.
2.       Jejak Sejarah Masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan
Jejak sejarah masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan dapat ditelusuri melalui folklore, mitologi, legenda, dongeng, lagu daerah, dan upacara adat.
a.      Folklor
Folklor berasal dari bahasa Inggris, yaitu folk dan lore. Folk artinya sekelompok orang yang memiliki cirr-ciri fisik sama, sedangkan lore artinya kebudayaan yangd iwariskan secara lisan atau dengan alat bantu untuk mengingat kebudayaan itu.
Folklor memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1)       Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara  turun temurun, tetapi tidak dibukukan.
2)      Foklor diciptakan, disebarkan dan diwariskan secara lisand ari satu generasi ke generasi berikutnya.
3)     Folklor bersifat tradisional yang tersebar di wilayah tertentu dalam bentuk relative tetap dan disebarkan di antara kelompok tertentu dalam waktu yang cukup lama
4)     Folklor menjadi milik bersama dari kelompok tertentu karena pencipta pertamanya sudah tidak diketahui (anonim) sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
5)     Folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan masyarakat, yaitu sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendam.
6)     Folklor terdiri atas banyak versi, mengandung pesan moral, dan mempunyai bentuk atau berpola.
7)      Folklor bersifat pralogis, lugu dan polos
                   (Folklore dari Bali, Seorang Petani yang setia).
Menurut Jan Harold Brunvard, folklore dapat digolongkan menjadi tiga macam sebagai berikut :
1)    Folklore LIsan
Folklor lisan adalah folklore yang disebarluaskan dan diwariskan secara lisan atau oral tradition. Jenis folklore lisan, antara lain bahasa rakyat, ungkapan tradisinal (peribahasa atau pepatah), pertanyaan tradisional (teka-teki), puisi rakyat, cerita rakyat, dan nyanyian rakyat. Nyanyian rakyat memiliki kegunaan rekreatif. Artinya, nyanyian rakyat dapat berfungs untuk mengusir kebosanan hidup sehari-hari maupun untuk menghindari dari kesukaran hidup sehingga dapat menjadi semacam pelipur lara. Ungkapan tradisional adalah kalimat pendek yang disarikand ari pengalaman yang panjang, misalnya peribahasa dan pepatah. Bahasa rakyat adalah bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi di antara rakyat dalam suatu masyarakat atau bahasa yang dijadikan sebagai sarana pergaulan dalam hidup sehari-hari. Misalnya, logat, dialek, kosa kata, dan julukan.
2)   Folklore sebagian lisan
Folklor sebagian lisan merupakan folklore campuran antara unsur lisan dan bukan lisan. Folklor sebagian lisan dikenals ebagai fakta sosial. Bentuk folklore sebagian lisana dalah kepecayaan rakyat (takhyul), permainan rakyat, teater rakyat, tari rakyat, pesta rakyat, dan upacara adat. Upacara adat yang berkembang di masyarakat didasarkan oleh adanya keyakinan ataupun kepercayaan masyarakat setempat. Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap ikan perlindungan dan kesejahteraan kepada mereka.
3)   Folklore bukan lisan
Folklor bukan lisan merupakan folklore yang berbentuk bukan lisan, tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folklor bukan lisan biasanya berbentuk material atau artefak. Jenis folklore bukan lisan adalah artitektur rakyat, kerajinan tangan rakyat, pakaian tradisional, perhiasan tradisional, obat-obatan tradisional, masakan tradisional, dan minuman tradisional. Arsitektur merupakan sebuah seni atau  ilmu merancang bangunan. Bentuk arsitektur rakyat adalah prasasti dan bangunan-bangunan suci. Kerajinan tangan rakyat awalnya dibuat hanya sekedar untuk mengisi waktu senggang dan untuk kebutuhan rumah tangga.
b.       Mitologi
Mitologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan dewa dan makhluk halus pada suatu kebudyaaan. Mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, berisi penafsiran tentang asal-usul alams emesta, manusia, dan bangsa serta mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.
Cerita yang dimiliki setiap suku bangsa di Indonesia biasanya terkait dengan sejarah kehidupan masyarakat di suatu daerah, seperti awal mula masyarakat menempati suatu daerah. Contoh kisah yang ada  dalam mitos adlaah tentang etrjadinya alam semesta, d unia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, dan gejala alam serta petualangan para dewa, kisah percintaan , hubungan kekerabatan, kisah perang, dunia dewata, dan makanan pokok.
Mitos yang berkembang di Indonesia dibagi menjadi dua macam berdasarkan  tempat asalnya,  yaitu asli Indonesia dan dari luar negeri (terutama dari India, Arab, dan Timur Tengah). Mitos dari luar negeri umumnya telah disesuaikan atau diadaptasikan dengan lingkungan di Indonesia sehingga tidak terasa lagi keasingannya. Contoh, orang Jawa telah mengadposi dewa-dewa serta pahlawan-pahlawan Hindu sebagaid ewa dan pahlawan Jawa. Orang Jawa percaya bahwa mitos  yang berasal dari epos Ramayana dan Mahabarata terjadi di Pulau Jawa dan bukan di India.
Contoh cerita mitos, antara lain Leak dan Barong di Bali; Kisah terjadinya Gunung Batok (Gunung Bromo), Dewi Sri di Jawa Tengah dan Bali; Nyai Pohaci di Jawa Barat; Nyai Roro Kidul di Yogyakarta; Mado-Mado (lawalangi) di Nias. Berdasarkan tempat asalnya, mitos di Indonesia terbagi menjadi dua macam, yaitu asli Indonesia dan berasal dari luar negeri terutama dari India, Arab, dan Kawasan Laut Tengah. Mitos dari luar negeri umumnya sudah digubah dand isesuaikan dengan unsur-unsur lokal di Indonesia.
            (Salah satu mitos di indonesia , Myi Ratu Kidul)
c.       Legenda
Legenda adlaah cerita rakyat yang dianggap sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi pada zaman dahulu
1)       Legenda bersifat sekuler atau keduniawian. Legenda terjadi pada masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang
2)      Legenda ditokohi oleh manusia bisaa. Akan tetapi, adakalanya manusia tersebut mempunyai sifat luar bisaa dan seringkali dibantu makhluk – makhluk gaib
3)     Legenda sering dianggap sebagai sejarah kolektif atau folk history. Meskipun dianggap sebagai sejarah,  tetapi kisahnya tidak tertulis. Oleh karena itu, isi legenda dapat mengalami penyimpangan sehingga seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya.
4)     Legenda diwariskan secara turun-temurun. Legenda biasanya berisi petuah atau petunjuk mengenai yang benar dan yang salah. Dalam legenda dimunculkan pula berbagai sifat dan karakter manusia dalam menjalani kehidupannya. Sifat dan karkater yang mencakup sifat baik dan buruk serta sifat benar dan salah dapat dijadikan pedoman bagi generasi selanjutnya.
Menurut Jan Harold Brunvard, legenda dapat digolongkan menajdi empat yaitu legenda perseorangan, legenda keagamaan (religious legend), legenda daerah setempat,d an legenda dunia gaib.
1)       Legenda keagamaan (religious legend)
Legenda keagamaan adalah legenda yang memuat kisah-kisah keagamaan. Legenda yang termasuk dalam legenda keagamaan adalah kisah orang-orang suci atau saleh (hagiografi). Meskipun hagiografi telah tertulis, tetapi kisahnya masih merupakan folklore karena versi asalnya masih tetap hidup di antara rakyat sebagai tradisi lisan. Contoh legenda keagamaan (religious legend) adalah kisah Wali Sanga dan Syekh Siti Jenar.
                                          

                                                   (Legenda Wali Songo)
2)      Legenda alam gaib
Legenda alam gaib memuat kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang . Legenda alam gaib berfungsi untuk meneguhkan kebenaran takhayul atau kepercayaan rakyat. Contoh legenda dunia gaib adalah kisah tentang Kerajaan Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul) dan kepercayaan terhadap adanya hantu, gendoruwo, sundelbolog, atau tempat-tempat gaib.
3)     Legenda daerah setempat
Legenda daerah setempat adalah legenda yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, dan bentuk topografi atau bentuk permukaan suatu daerah. Contoh legenda daerah setempat, misalnya legenda asal mula Kota Surabaya (sura:hiu dan baya; buaya) atau legenda asal mula kota banyuwangi.
                                 

                                        (Legenda Asal Mula Kota Surabaya)
4)     Legenda perseorangan
Legenda perseorangan adalah cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh pengarang ceritanya benar-benar pernah terjadi. Contoh legenda perseorangan, misalnya legenda Si Pitung dari Betawi.
                               

                                               (Legenda Si Pitung dari Betawi)
d.      Dongeng (Folktale)
Dongeng adlaah cerita yang tidak benar-benar terjadi. Misalnya, cerita tentang para dewa. Dongeng hanya bersifat hiburan yang pada umumnya berisi pelajarna moral atau bahkan ejekan dan sindiran. Hakikat dan inti dari dongeng disetiap daerah memiliki kesamaan pesan dan pelajaran. Dongeng terbagi menjadi dua bagian, yaitu dongeng binatang (fable) dan dongeng manusia.
Dongeng binatang adalah suatu cerita yang semua tokohnya adalah bnatang. Contoh dongeng binatang yang sudah sangat dikenal di masyarakat adalah Cerita Si Kancil. Dongeng ini mengajarkan tentang tolong menolong, penggunaan akal, dan kecerdikan. Dongeng manusia adalah cerita yang tokohnya adalah manusia atau menceirtakan kehidupan manusia. Contoh dongeng manusia adalah Ande-Ande Lumut, Si Kabayan, Bawang Merah dan Bawang Putih dan Sangkuriang.
                     

                                  (Legenda sangkuriang, Tangkuban perahu)
e.       Lagu Daerah
Lagu Daerah adalah lagu yang menggunakan bahasa daerah. Lagu daerah berkembang di daerah tertentu.
Lagu daerah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1)       Lagu daerah terdiri atas kata-kata dan lagu yang keduanya tidak dapat dipisahkan
2)      Lagu daerah memiliki sifat mudah berubah-ubah (dapat diolah menjadi nyanyian pop)
3)     Lagu daerah beredar secara lisan di antara kelompok masyarakat tertentu dan memiliki banyak varian atau bentuk
4)     Lagu daerah memiliki bentuk sangat beraneka ragam dari yang paling sederhana sampai yang cukup rumit.
Lagu daerah memiliki fungsi sebagai berikut :
1)       Lagu daerah memiliki fungsi kreatif. Artinya, lagu daerah berguna untuk menghilangkan kebosanan hidup sehari-hari, menghibur diri, dan mengiringi permainan anak-anak
2)      Lagu daerah memiliki fungsi sebagai pembangkit semangat, terutama nyanyian utnuk bekerja. Misalnya, Holopis Kuntul Baris (Jawa Timur) dan Rambate Rata (Sulawesi Selatan )
3)     Lagu daerah memiliki fungsi sebagai protes sosial, yaitu protes mengenai ketidakadilan dalam masyarakat atau Negara bahkan dunia.
4)     Lagu daerah dapat dijadikan sebagai sarana untuk memelihara sejarah setempat dan klan.
f.        Upacara Adat
Upacara adat adalah rangkaian tidnakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu, baik aturan adat istiadat, agama, maupun kepercayaan. Contoh upacara adat di dalam masyarakat, yaitu upacara kematian / penguburan, mendirikan rumah, membuat perahu, memulai perburuan, dan pengukuhan kepala suku. Pelaksanaan upacara dat berfungsi sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan dalam sekitar yang dianggap ikan perlindungan dan kesejahteraan. Selain itu, bertujuan untuk menghindarkan diri dari kemarahan kekuatan-kekuatan gaib yang dipercaya dapat berwujud berbagai malapetaka dan bencana alam. Contoh wujud upacara adat antara lain upacara Mapang Sri di Parahyangan, upacara Kasodo oleh masyarakat Tengger di Gunung Bromo, upacara, seren Taun di Kuningan dan upacara Larung Samudra melarung makanan ke tengah laut.
               


                                (Upacara Adat Suku Tengger di Bromo)