Pages

Subscribe:

Minggu, 04 Mei 2014

Petruk Mencari Jati Diri 2 (Tumpasnya Ekalaya)

Meskipun selalu berusaha memahami keadaan sebagaimana apa adanya, Petruk tidak sepenuhnya bisa menerima jalan fikiran tuan-tuanya yang seringkali melanggar “paugeran” (aturan), bahkan tak jarang mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.
PetrukBendoro-bendoronya yang selalu diasumsikan sebagai pihak yang benar, ternyata pada kenyataannya seringkali melakukan tindakan yang cenderung keji. Kenyataan yang mau tidak mau menimbulkan perang di batin Petruk, perang batin yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya.
“… midero sak jagat royo, kalingono wukir lan samudro, nora ilang memanise, dadi ati selawase…”
Sayup-sayup tendengar tembang mendayu-dayu, membuat Petruk menghentikan ayunan kapaknya. Dia teringat kejadian yang menyedihkan sekaligus memalukan, kisah tumpasnya Ekalaya
Awal peristiwa terjadi di suatu siang yang gerah di tepi hutan yang nampak sejuk. Petruk tak mampu menyembunyikan kegelisahan, dia menangkap gejala alam, sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan.
Semar memejamkan pura-pura tidur, Gareng sibuk menulis puisi tentang kegelisahan hati. sedangkan Bagong mondar mandir dengan wajah seperti arca tanpa ekspresi. Semua gelisah.
Mereka sedang menemani momongan sekaligus tuan mereka, Raden Arjuna yang juga bernama Janaka, Permadi atau Parto, satria lelananging jagat panengahing pandawa. Mereka sadar sepenuhnya bahwa masalah yang akan timbul bersumber pada momongan mereka ini.
Sangat jelas dimata batin Petruk, aura yang nampak dari pancaran wajah ndoronya ini. Aura yang memalukan, aura yang bersifat “rendah”. Dan Petruk pun sudah sangat hafal dengan tabiat tuannya yang satu ini.
Kegelisahan para punakawan ini segera terjawab. Tiba-tiba dihadapan mereka mucul seorang kesatria tampan (meskipun tak serupawan Arjuna), berkacak pinggang dengan wajah marah. “Hai Arjuna, kalau kamu memang merasa laki-laki hadapi aku, Ekalaya”
Laki-laki ini adalah Bambang Ekalaya, raja kerajaan Nisada. Apa pasalnya sehingga lelaki gagah ini sedemikian murkanya?
Beberapa saat yang lalu saat matahari baru saja memancarkan sinarnya ke bumi, ditepi hutan ini, ada seorang wanita cantik yang sedang dikejar-kejar oleh segerombolan raksasa. Setelah terkejar wanita ini dekepung rapat. Raksasa-raksasa ini berhaha-hihi, bagai segerombolan kucing yang berebut seekor tikus.
Dewi Angraeni nama wanita cantik ini. Apa daya seorang wanita dihadapan segerombolan raksasa? Dia hanya bisa berteriak meminta tolong.
Teriakannya terdengar oleh Raden Arjuna. Bagi Arjuna yang sakti mandraguna, bukanlah hal yang sulit untuk bertindak. Dengan sekali sentakan, hilang sudah nyawa semua raksasa.
Arjuna memandang Anggraeni dengan tatapan mata aneh, tatapan mata yang muncul karena bangkitnya dorongan yang bersifat rendah. Senyum Arjuna juga senyum kurang ajar. Anggraeni bukannya tidak merasakan hal ini.
Sang dewi mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang diterimanya.
Tapi ternyata ucapan terimakasih saja, tidak cukup bagi Raja Madukara ini. Den Bagus Casanova Raden Janaka, playboy kelas internasional yang jumlah isterinya sudah tak terbilang ini menginginkan yang lebih dari itu!!! Dia menginginkan dilayani bercinta sebagai imbalan jasanya!!! Duh Gusti…
“Saya sudah bersuami, Raden”, tampik Anggraeni
“Apa masalahnya kalau kamu sudah bersuami? aku bisa membunuh suamimu”, jawab Arjuna enteng. “Dan lagi pula apakah suamimu setampan aku? Apakah dia sekaya aku? Aku ini Raja agung”
Anggraeni juga tahu Arjuna gagah perkasa tampan tiada banding, dia juga tidak memungkiri sesungguhnya dia juga tertarik. Namun bagi Anggraeni, cinta terlalu agung untuk diperjualbelikan. Dia bercinta karena memang mencintai. Baginya tidak ada cinta bagi laki-laki macam Arjuna. Anggraeni adalah pribadi yang bahagia dengan bersetia kepada cintanya.
Dia menolak keras!!!
Sebelumnya, Arjuna tak pernah menerima penolakan dari wanita. Ratusan wanita dan dewi-dewi dari kahyangan pun berebut untuk jatuh dalam pelukan Don Juan titisan Batara Indra ini.
Penolakan ini semakin menyulut birahi Arjuna. Kobaran nafsu membuat buta hatinya. Dia hendak memaksakan kehendaknya. Anggraeni terancam menjadi korban perkosaan. Apalah daya Anggraeni berhadapan dengan kesaktian Arjuna? Dia berlari…. sampailah ke tepi jurang!!! Dead end!!! Jalan buntu!!!
Dalam putus asa nya, Anggraeni melompat ke jurang. Luncuran tubuhnya ke jurang yang sangat dalam membuatnya pingsan. Untunglah seseorang menyambar tubuhnya sebelum terbentur dasar jurang, orang itu adalah Dewi Ipri, ibunya sendiri.
Dewi Anggraeni adalah isteri Bambang Ekalaya yang sedang berhadapan dengan Arjuna. Dia menuntut pertanggungjawaban atas perlakuan yang diterima isterinya.
Sangat wajar kalau Ekalaya jadi berang. Jangankan seorang raja, Petruk pun akan mengangkat pecoknya kalau isterinya diganggu orang.
Tantangan Ekalaya dilayani oleh Arjuna. Duel berlangsung singkat. Hanya satu jurus, Arjuna terkapar tak bernyawa!!!
Bagaimana bisa jagoan andalan Pandawa yang sakti mandraguna, murid terkasih Pendeta Durna, kalah oleh seorang yang tidak terkenal?
Sepuluh tahun sebelumnya, Ekalaya pernah datang menghadap Durna untuk diterima sebagai murid. Durna menolak, karena Ekalaya hanyalah raja sebuah kerajaan kecil. Durna hanya menerima murid dari kalangan kerajaan-kerajaan besar dan elit macam Astina, Nisada tidak masuk itungannya.
Penolakan Durna tidak membuat Ekalaya patah semangat. Dia menyepi dan mendirikan sebuah tenda di sebuah tempat rahasia. Di dalam tenda itu dia mengukir sebongkah kayu menjadi patung Durna. Setiap hendak mengasah ilmu kanuragan, dia selalu bersemedi di depan patung Durna, memohon bimbingan dari “guru”nya. Dia bukan sekedar murid yang hanya “menerima” tapi dia adalah murid yang “mencari”, murid yang “mencari” akan selalu lebih hebat daripada seorang murid yang hanya “menerima”. Oleh karena itu Ekalaya jauh lebih sakti ketimbang Arjuna.
Ekalaya menginjak dada Arjuna dan berkata “Kalau ada yang tidak menerimakan kematian keparat ini, silahkan datang padaku”. Dan kemudia dia berlalu.
Wajah Petruk pucat pasi, tidak tahu harus berbuat apa. Dia faham betul siapa yang bersalah. Gareng meratap dan bersiap dengan bait-bait sajak duka nya. Bagong menangis menjerit-jerit.
Menangis memang adalah salah satu tugas punakawan, mereka menangis bukan karena menangisi kepergian tuannya. Mereka menangis menyesali alasan kematian Arjuna. Mereka malu mengetahui kelakuan tidak bermartabat tuannya.
Semar tetap mendengkur. Petruk tahu persis bahwa bapaknya itu hanya pura-pura tidur…
Gareng sudah mulai dengan sajaknya, “Bumi akan berduka, langit akan menangis bertahun-tahun, mengiringi kepergian Raden Arjuna. Seluruh rakyat akan berkabung dan meratapi pemakaman raja yang agung…”
“Tidak ada pemakaman dan tidak ada perkabungan!!!”, tiba-tiba saja Sri Kresna sudah berdiri dihadapan Gareng dan membentak.
“Gimana toh Ndoro Kresna ini, apa jasad Den Rejuno dibiarkan dimakan anjing hutan, kok nggak dimakamkan, pripun toh, nganeh-anehi?” Bagong nimbrung.
“Arjuna belum waktunya mati, ” Kresna berujar.
“Oooo… jadi Yamadipati si Dewa Maut salah administrasi ya?” Bagong memang tidak sopan.
“Perang Baratayudha memerlukan keberadaan Arjuna. Adik iparku ini harus hidup lagi” Kresna semakin tegas, sembari mengeluarkan pusaka Kembang Wijayakusuma untuk menghidupkan lagi Raden Arjuna
“Biyuh… orang mau mati kok nggak boleh. Apa hanya gara-gara Baratayudha trus Den Rejuno harus hidup terus? Lha kok enak” Bagong makin tak terkendali, “Lha apa para dewa di kahyangan sudah terlanjur mengeluarkan biaya yang besar untuk skenario perang Baratayudha? Sehingga perang nggak boleh batal?”
“Kamu bisa diam atau tidak???” Kresna membentak, wajah Bagong tetap datar dan dingin seperti dinding candi.
“Apa yang terjadi Kanda Prabu?” Yudistira datang dan bertanya, diikuti oleh Bima, Nakula dan Sadewa. Lengkaplah Pandawa!!!
“Ah… Dimas Yudistira sudah datang, aku akan menghidupkan lagi Dimas Permadi yang baru saja dibunuh oleh penjahat Ekalaya, lalu…”
“Yang penjahat bukan Ekalaya!!!” Petruk memotong kalimat Kresna yang belum selesai.
“Jaga mulutmu Petruk!!!”
“Justeru karena saya menjaga mulut, maka saya bicara yang sebenarnya!!!”
Dengkuran Semar yang mendadak makin keras menghentikan perdebatan Kresna-Petruk.
Suasana jadi kaku. Yudistira nampak bersedih. Bima menggeretakkan gigi tanpa mengeluarkan satu kata pun. Bima adalah orang yang jujur, dia marah bukan karena Arjuna terbunuh, tapi dia sangat malu mengetahui alasan mengapa adiknya menemui ajal.
Kresna menghampiri jasad Arjuna. Sekali usap hiduplah kembali Raden Arjuna!!!
“Terimakasih Kakang Kresna, sekarang saya akan pergi menuntut balas”, kalimat pertama yang keluar dari mulut Arjuna membuat Petruk mendadak mual hebat.
Kresna tersenyum, “Seribu Arjuna tak akan mampu menandingi kesaktian satu orang Ekalaya, Dimas harus faham hal ini”
“Kalau begitu biarkan saya mati menebus malu, saya, Arjuna, tidak mau hidup satu atap langit dengan Ekalaya”
“Baiklah kalau begitu, biarkan saya yang akan menyelesaikan masalah kecil ini. Dimas Yudistira, ajak adik-adikmu pulang ke Amarta. Gareng, Petruk, Bagong ikut aku. Eee lhadalah… Kakang Semar lha kok malah tidur terus?”
“Hemmm….., Anakmas Prabu tahu persis apa yang saya lakan lakukan kalau saya tidak tidur, oaahmmmm” Semar menjawab pertanyaan Kresna, dan tidur lagi.
Petruk tahu persis bahwa Kresna adalah rajanya ahli tipu muslihat, dia berusaha menerka apa yang akan dilakukan titisan Wisnu ini.
Dan Petruk juga gemas melihat bapaknya tidak berkomentar apa-apa. Sambil menahan gejolak hati dia mengikuti langkah kedua saudaranya, dia bisa merasakan akan ada kejadian yang lebih memalukan.
Ternyata Kresna mengendap bagaikan maling, masuk kedalam tenda rahasia Ekalaya, kemudian bersembunyi dibelakang patung Resi Durna!!! Petruk semakin mual disertai dengan nyeri dada hebat melihat hal ini.
Ekalaya masuk ke dalam tenda beberapa saat kemudian. Dia berlutut didepan “guru”nya, semedi, menghaturkan terimakasih yang tak terhingga, karena atas restu gurunya, dia memiliki kesaktian melebihi Arjuna, murid terkasih Resi Durna, murid “guru”nya.
“Ekalaya! Apa yang telah kamu lakukan?” Patung Durna bersuara,”Kamu telah membunuh murid ku yang paling kusayangi!”
Ekalaya bersujud, “Maafkan saya Guru, saya membunuh Arjuna adalah sebuah kewajaran”
“Kalau begitu, adalah sebuah kewajaran juga kalau aku sekarang marah kepadamu”
“Baiklah Guru, jika demikian, ijinkan saya menerima kewajaran berikutnya. Kalau Guru menginginkan nyawaku, ambil saja, saya ikhlas”
“Tidak Ekalaya, aku tidak menghendaki nyawamu. Tapi serahkan cincin di jari manismu itu”
Ekalaya seratus persen sadar, bahwa cincin ampal gading yang melingkar di jari manisnya adalah akumulasi daya kesaktian yang didapatkan selama ini. Tanpa cincin itu dia bukan lagi Ekalaya yang sakti, dia akan menjadi manusia biasa.
Namun Ekalaya beranggapan bahwa kesaktiannya selama ini dia dapatkan berkat bimbingan Resi Durna. Dan karena itu Durna sangat berhak memintanya kembali. Dengan hati yang tulus ikhlas, Ekalaya sujud semakin dalam, melepaskan dan menyerahkan cicin itu.
Pada saat yang bersamaan, sebilah keris melayang dari belakang patung Durna, menembus dada kiri Ekalaya!!! Inilah saat yang kritis, detik-detik yang merupakan batas, batas yang kabur antara duka dan bahagia seorang anak manusia.
“Keparat kamu Durna…”, Ekalaya tersungkur !!! Dia sangat kecewa atas keculasan Durna!!! Gurunya!!! Nyawanya meninggalkan raga dengan sejuta dendam.
Dari kejauhan, para punakawan ribut berteriak melihat kejadian ini.
Petruk terduduk lemas dengan tatapan kosong.
“Reng…, lihat itu… itu….!!! yang membunuh Ekalaya bukan Durna, tapi Kresna!!!” Bagong yang tak tahu tata krama memang seringkali memanggil orang tanpa embel-embel penghormatan
“Bagong menyun, Bagong druhun!!! Meskipun mataku tidak sebesar matamu, tapi aku, Gareng, Kakangmu ini tidak buta!!! Aku juga tahu kalau Prabu Kresna pelakunya!!! Aduh Gusti kang Moho Widhi, mengapa kau biarkan semua ini terjadi”
Semar mendengkur semakin keras. Ketiga anaknya hanya ribut tak berani melakukan apa-apa, karena bapakanya juga tak melakukan apa-apa, mereka hanya menunggu reaksi Semar.
Petruk semakin tidak mengerti sikap bapaknya yang membiarkan semua ini terjadi. Apa sulitnya bagi Semar untuk menghalangi keculasan Kresna?
Kesaktian Semar tak tertandingi oleh siapapun juga. Seluruh dewa-dewa dikahyangan maju bersama ditambah dengan seribu Kresna pun tak akan mampu menandingi kesaktian Sang Hyang Ismoyo ini. Tapi ternyata Semar tak kunjung melakukan sesuatu.
Hati Petruk terguncang!!! Jiwanya terluka!!! Tanpa disadari, dia berjalan meninggalkan kakak dan adiknya yang masih ribut, meninggalkan bapaknya yang tetap tidur, meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu tragedi kehidupan.
Perasaan Petruk semakin teriris mengetahui Dewi Anggraeni yang bersedih dan berkabung sepanjang hidupnya. Dia ingin menghibur tapi tidak punya keberanian, dia malu bertatapan mata. Malu karena tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya memandang Dewi anggraeni dari kejauhan, setiap hari, setiap saat, hingga penghujung hayat Sang Dewi.
Duh… Gusti Kang Murbeng Dumadi yang kuinginkan hanyalah cintaMu
Petruk menghela nafas panjang, mengenang semua peristiwa itu. Kemudian dia kembali mengayunkan kapaknya membelah kayu bakar. Sambil mengalunkan tembang asmorondhono, tembang kerinduan.
“…naliko niro ing dalu, atiku lam-lamen siro wong ayu, nganti mati ora bakal lali, lha kae lintange mlaku”
Sumber: bharatayudha.multiply.com.

0 comments: