Pages

Subscribe:

Kamis, 29 Mei 2014

Ikan Hias Redfin Dan Cara Budidayanya



Ikan Redfin adalah salah satu jenis ikan hias yang memiliki keindahan dari segi warna dan bentuk tubuhnya, maka tedak heran ikan redfin banyak juga penggemarnya. Ikan yang indah ini adalah ikan asli dari negara Vietnam namun sekarang sudah banyak yang membudidayakannya di Indonesia.
Ikan Hias Redfin, ikan redfin, Budidaya ikan redfin, budidaya redfin, ternak ikan redfin, redfin albino
Ikan hias air tawar ini sangat menyukai lumut, tetapi apabila kita kesulitan untuk menyediakan lumut kita juga bisa memberikannya cuk merah / cacing darah atau cacing sutra dengan pakan yang sperti itu maka tidak sulit untuk kita apabila kita ingin memelihara atau merawatnya.
Namun bagi anda yang berencana beternak ataupun sekaligus budidaya ikan redfin ini, di postingan kali ini akan di bahas secara singkat tahpannya, ok langsung saja lihat tahapan cara ternak atau budidaya ikan hias redfin di bawah ini:

Persiapamn wadah pemijahan

Sebelum pemijahan induk, sebaiknya dilakukan persiapan wadah yang baik agar proses pemijahan dapat berlangsung dengan sempurna. Dalam penggunaan box sterofoam yang sangat di nilai adalah dari segi kestabilan suhu dalam waktu pemijahan dan penetasan. 
Factor suhu sangat penting dalam proses pemijahan, karena  perubahan suhu akan mempengaruhi pemijahan. Persiapan wadah diawali pencucian wadah pemjahan berupa box stereofoam yang bertujuan untuk meminimalisir serangan bakteri pathogen akibat wadah yang kotor. Box sterofoam yang digunakan berukuran 80 x 40 x 30 cm. 
Box terlebih dahulu dicuci dengan air bersih sampai kotoran yang menempel tidak ada. Setelah pencucian, box di bilas dengan air bersih. Box yang sudah bersih di susun rapat pada tempat yang sudah ditentukan. Setelah box disusun dilakukan pengisian air dan pengaturan aerasi. Air dipompa langsung dari tendon  dan dialirkan melalui selang yang berukuran ¾ inch. Air diisi dengan ketinggian 20 cm.

Seleksi induk

Kegiatan seleksi induk dilakukan untuk memilih induk yang matang gonad dan siap dipijahkan. Induk betina matang gonad, secara fisik ditandai dengan perut yang membundar, lembek bila diraba. Bobot induk sekitar antara 28-35 gr, panjang sekitar 8-12 cm dan berumur minimal 8 bulan. Sedangkan induk jantan, ditandai dengan adanya sperma waktu dilakukan penyitripiingan. Bobot indukan jantan sekitar 23-28 gr,panjang sekitar 6-9 cm dan berumur minimal 6 bulan.

Pemberokan

Pemberokan bertujuan untuk menggosongkan isi perut sehingga nduk yang ada benar-benar membesar perutnya karena berisi telur, bukan karena kekenyangan atau karena lemak. Induk-induk hasil seleksi kemudian diberok(dipuaskan). Pemberokan dilakukan selama 24 jam dalam akuarium pemberokan, berukuran 60x 40x30cm. pemberokan dilakukan secara terpisah antara induk jantan dan betina untuk menghindari pemijahan yang tidak diinginkan.

Rangsangan pemijahan

Tekhnik pemijahan  secara semi alami, yaitu dengan melakukan  menyuntikan hormone pada induk betina dan jantan. Pada induk betina penyuntikan dilakukan untuk merangsang ovulasi dan pada induk jantan untuk merangsang sperma. Sebelum penyuntikan, dilakukan penimbangan induk yang akan dipijahkan. 
Berdasarkan berat induk ini, dapat dihitung volume larutan ovaprim yang telah diencerkan, yaitu 0,5 ml/ kg bobot induk tubuh induk betina, sedangkan pada induk jantan 0,3 ml/kg bobot tubuh. Pengenceran ovaprim menggunakan Larutan fisiologis (naCl 0,9%). Untuk memperoleh dosis larutan fisiologis yaitu dengan menghitung seberapa banyak ovaprim yang digunakan, karena perbandingan ovaprim dan larfis 1 : 1.
Jadi dalam satu siklus pemijahan, penyuntikan dilakukan pada 2 pasang indukan sebesar 0,09 ml yang terdiri dari ovaprim dan NaCl 0,9 %. Penyuntikan dilakukan pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB atau pukul 20.30 WIB. Penyuntikan dilakukan satu kali secara intramuscular, yaitu penyuntikan pada bagian punggung ikan. 
Rentag waktu antara penyuntikan dengan ovulasi telur yaitu 10-14 jam pada suhu 23-260C. Setelah dilakukan penyuntikan terhadap induk jantan dan betina dicampurkan pada box sterofoam berukuran 90x40x30 cm dengan dosis 1 pasang induk dalam 1 box. Selang waktu 10-14 jam setelah penyuntikan, terjadi pemijahan.

Penetasan Telur

Telur Redfin albino akan menetas dalam jangka waktu 40-50 jam. Telur menetas tetap di dalam akuarium pemijahan. Induk dikeluarkan setelah induk mengeluarkan telur secara  kaseluruhan.Induk dipindahkan ke akuarium pemeliharaan.Telur yang tidak menetas segera disifon untuk menjaga kualitas air agar tidak tercemar karena pembusukan telur yang tidak menetas. Telur yang menetas akan di kasi makan setelah kuning telur habis atau setelah 2-3 hari setelah menetas. Pakan pertama yang diberi pada larva yakni kuning telur yang direbus terlebih dahulu.

Pemeliharaan larva

Larva dipelihara di box sterefoam sampai berumur 10 hari. Setelah berumur 10 hari larva di hitung dan padat tebar dikecilkan dengan manambah 8 buah box sterefoam sebagai pemeliharaan lanjutan.


Manajemen pemberian pakan

Larva mulai diberi pakan pada hari ketiga atau menjelang kuning telur di tubuh habis (perubahan endogenous ke eksogeneus). Pakan pertama yang diberi berupa rebusan kuning telur. Pemberian kuning telur pada larva selama 3 hari, atau larva dari umur 3 hari sampai  berumur 5 hari. Pemberian pakan kuning telur 2 kali sehari dalam 8 jam dan 4 jam sore. Pada umur ke 6 larva diberi pakan artemia.
Peberian pakan artemia dilakukan selama 7 hari. Artemia diberikan dengan dosis pemberian 4 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, 16.00, dan 21.00 WIB. Dosis artemia yan diberikan sebanyak 0,25 gr/hari.larva yang akan diberi terlebih dahulu di kultur pada bak kultur pakan alami. Artemia dikultur sehari sebelum pemberian pakan. Pemberian artemia akan berhenti setelah larva berumur 12 hari. Setelah pemberian artemin atau larva berumur 12 hari dilakuakn penjarangan. Penjarangan dilakukan dengan menambah 8 buah.
Box sterefoam untuk pemeliharaan larva. Box sterefoam diisi sir sehari sebelum dilakukan penjarangan. Pada proses penjarangan juga dilakukan penghitungan agar dapat menentukan derajat penetasan redfin albino. Pada penghitungan di dapat jumlah larva sebanyak 10.125 ekor.  Pada umur 13 hari  larva redfin diberi pakan kutu air. 
Pemberian kutu air dilakukan selama 14 hari. Pemberian kutu air berguna untuk penyeragaman ukuran benih. Kutu air  yang diberikan berupa kutu air beku.  Pemberian kutu air sebanyak 4 sendok makan/ hari. Pemberian kutu air dua kali sehari yakni pada pukul 07.00, dan pukul 21.00 WIB. Kutu air diberikan dengan cara melarutkan kutu air terlebih dahulu dengan air. Kutu  air beku yang digunakan harus dilarutkan agar kutu air dapat dimakan oleh larva.

Pengelolaan kualitas air

Dalam pengelolaan kaulitas air yang dilakuakn seperti penyifonan kotoran bekas pakan dan larva yang mati. Pengecekkan  kualitas air dilakukan setiap hari.  Penyifonan hanya dilakukan jika air sudah kelihatan jusam karena sisa pakan. Untuk penambahan air dilakuakn menggunakan selang air kecil berukuran ¼ inch yang langsung dipompa dari tendon.

Pemanenan larva

Larva dipanen atau dipindahkan dari box penetasan ke bak terpal setelah berumur 30 hari, sekaligus dilakukan grading. Larva dipanen dengan cara menggunakan serokan yang halus agar tidak membahayakan pada larva. Larva dipindahkan pada baskom kecil dan dilakukan penggradingan sekaligus penghitungan. Sebelum larva ditebar dlakukan pengecekan aerasi pada bak. Air di dalam bak sudah di isi sehari sebelum dilakukan penebaran. Larva yang sudah degrading langsung ditebar pada 2 buah bak terpal dengan aklimatisasi terlebih dahulu.

Penebaran benih

Larva ditebar ke bak terpal saat mencapai umur 30 hari setelah menetas, atau ketika larva sudah dapat makan cacing. Pemberian pakan sebelumnya berupa kuning telur selama 2 hari, artemia selama 7 hari, dan kutu air (daphnia sp.). penebaran larva dilakukan pada pagi hari pukul 09.00 WIB dengan melakukan aklimatisasi terlebih dahulu untuk penyesuaian suhu air pada bak pendederan. Aklimatisasi yang dilakukan dengan memasukan air kolam ke dalam wadah larva sedikit demi sedikit selama 10-15 menit, dan barulah benih ditebar dilakuakn grading agar tidak terdapat ukuran yang mencolok dalm pemeliharaan. Benih yang ditebar berukuran 1-15 cm.
Pakan selama pendederan berupa cacing cacah yang diberikan pada larva selama 7 hari dan cacing yang tidak dicacah selama 7 hari. Jadi pemberian cacing dilakukan sampai benih dipanen yakni berumur 45 hari yang mencapai ukuran ¾ inch. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari, pada pukul 08.00, dan 16.00 WIB.

Pemanenan

Pemanenan dilakukan setelah pendederan selama 14 hari pemeliharaan atau benih berumur 45 hari dari telur. Pemanenan dilakukan pada waktu pagi hari pukul 07.00-09.00 WIB bertujuan untuk mengurangi tingkat kematian pada benih, karena stress akibat suhu yang terlalu tinggi. Pemanenan menghasilkan benih ukuran rata-rata ¾ inch. Ciri morfologi yang dapat diamati, bentuk ikan yang telah definitive, gerakan dari kondisi ikan sehat.
Sumber: Buku "Untung Besar Bisnis & Budidaya Ikan Hias Paling Top Markotop" Pnerbit: Araska
Sumber Gambar: http://zonaikan.wordpress.com

0 comments: