Pages

Subscribe:

Jumat, 01 Mei 2015

Sejarah Houtsi Yaman, dari Zaidiyah hingga Itsna Asyariyah

         Awal mula sekte Zaidiyah masuk ke Yaman dibawa oleh Imam bin Al-Husain bin Al-Qasim (245-298H). Ia juga dikenal dengan sebutan Al-Hadi (Sang Pemberi Petunjuk). Al-Hadi dilahirkan di Madinah dan merupakan anak keturunan Hasan bin Ali RA. Pada tahun 280H, ia pergi ke Yaman untuk menyebarkan pemikirannya. Di Saada, Yaman Utara, ia bermukim sekaligus berdakwah. Dalam berdakwah, ia berusaha untuk berkomitmen terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah. Selain itu, dakwah kepada amar makruf nahi munkar pun dijalankan.
Dalam sejarahnya, sekte Zaidiyah pernah mengalami peperangan dengan sekte Qaramithah Bathiniyah. Dalam kurun waktu 11 tahun, keturunan Al-Hadi memegang pemerintahan Yaman. Kemudian, beralih setelah terjadi revolusi Yaman tahun 1382H/ 1962M. Ini adalah masa terlama dalam sejarah ahlul bait memegang tampuk kepemimpinan.
Penduduk Yaman, menurut beberapa sumber 45%nya dihuni oleh penganut sekte Zaidiyah, yang terkumpul di daerah Yaman utara. Sedangkan di selatan, mayoritas dihuni oleh kalangan Sunni yang bermadzhab Syafi’iyah.
Nama Zaidiyah dinisbatkan kepada imam mereka, Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (80-122H). Imam Zaid memimpin revolusi melawan Bani Umayyah pada masa Hisyam bin Abdul Malik (122H). Saat itu, penduduk Kuffah membelanya. Tapi, saat diketahui bahwa kelompok Zaidiyah tidak berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar dan tidak mau melaknat keduanya, mereka pun tak lagi membantunya. Maka, kelompok Zaidiyah tinggal sendirian melawan Bani Umayyah dengan hanya 500 penunggang kuda.
Sekte Zaidiyah masih mengakui kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Mereka juga enggan untuk melaknat keduanya sebagaimana sekte-sekte Syiah yang lain. Menurut mereka, imamah/ kepemimpinan itu bukan berdasarkan nash atau pewarisan, namun berlandaskan baiat. Imam menjadi layak setelah dipilih oleh ahlul halli wal aqdi. Selain itu, mereka juga memperbolehkan untuk dipimpin seorang yang kurang memiliki keutamaan, walaupun ada orang yang lebih utama atasnya.
Dalam perkembangannya, sekte Zaidiyah menganut fikih ahlul bait dan terkontaminasi paham mu’tazilah. Zaidiyah cenderung kepada madzhab Hanafi, dan dibangun atas prinsip, “Keluar dari pemerintahan yang zalim”. Inilah kaedah yang selalu dipegangi Zaidiyah dari generasi ke generasi. Sebenarnya, mereka lebih condong kepada paham Mu’tazilah dalam hal yang terkait keyakinan kepada Allah serta qadha dan qadar. Mereka mengatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka.
Awal Mula Perubahan hingga Indikasi Amalan
Wilayah Saada sejak dahulu menjadi tempat bermukim penganut Zaidiyah. Hautsi Yaman, lebih terkonsentrasi di daerah ini. Maka, tidak mengherankan kalau pemahaman Hautsi bermula menganut paham Zaidiyah. Seiring berkembangnya waktu, pemahaman Zaidiyah mulai luntur dalam diri mereka. Hal ini terutama dipengaruhi iklim revolusi Khomeini di Iran ketika itu, yaitu tahun 1979.
Perubahan tersebut semakin menguat pasca kepulangan pemimpin mereka, Badrudin Al-Hautsi, dari Iran. Terlebih, Presiden Yaman waktu itu, Ali Abdullah Saleh memberi kebebasan kepadanya untuk pulang ke negaranya. Selama beberapa tahun tinggal di Iran, pemahaman Syiah Itsna Asyariyah telah tertanam kuat dalam dirinya. Paham inilah yang menyebabkan dirinya berseteru dengan para ulama Zaidiyah di Yaman.
Fikiran Itsna Asyariyah berlanjut menjangkiti Hautsi melalui Jamaah Asy-Syabab Al-Mukmin. Jamaah ini bermula dari Partai Al-Haq yang didirikan oleh Badrudin di tahun 1990. Jamaah yang berdiri ini kemudian dijadikan sarana untuk mengambil baiat, dan menyebarkan fikiran-fikiran Itsna Asyariyah. Hal ini direalisasikan dalam bentuk buku-buku dan risalah Badrudin Al-Hautsi. Setahun kemudian, anaknya, Husein bin Badrudin Al-Hautsi melanjutkan misi ayahnya dan mengubah jamaah tersebut menjadi Gerakan Asy-Syabab Al-Mukmin.
Tak beda dengan ayahnya, Husein menjadi pion dalam mengembangkan gerakan dan pahamnya. Ia terkenal sebagai orang yang gigih dan berjiwa kuat, juga pernah ikut menemani ayahnya di Iran selama beberapa tahun. Puluhan majelis taklim pun ia dirikan, dan pengikutnya juga mencapai ratusan dari kalangan orang tua dan anak-anak.
Paham Itsna Asyariyah sangat massif tersebar diantara barisan Zaidiyah di Yaman. Para pimpinan dan khalayak umum dari sekte Zaidiyah, telah banyak berkiblat kepada paham ini. Roman muka Syiah Itsna Asyariyah tampak jelas dalam amalan-amalan Zaidiyah. Selain itu, dapat terlihat dari karya-karya, penyampaian-penyampaian, perayaan hari raya dan ketika menisbatkan imam yang harus dari jalur Fatimiyah.
Dalam prakteknya, amalan keseharian mereka menunjukkan bahwa mereka tidak lagi dikategorikan berpaham Zaidiyah. Justru, dari sinilah terlihat bahwa mereka telah berpindah kepada paham Syiah Itsna Asyariyah dan menginduk ke Iran.  Seringkali mereka mengadakan majelis-majelis Husainiyah, yaitu dalam rangka mengingatkan kembali atas terbunuhnya Husain RA. Di restoran dan beberap took di wilayah mereka, kaset-kaset majelis Husainiyah di Iran juga diperdengarkan. Isinya adalah tentang penghinaan terhadap sahabat.
Selain itu, ingatan atas meninggalnya sebagian imam mereka –Ja’far Shadiq, Muhammad Al-Baqir, dan Ali Zainal Abidin—terus menerus dihidupkan. Mereka juga menjadikan gunung di kota Saada untuk dinamai dengan Muawiyah. Pada Hari Karbala (Asyura), mereka berduyun-duyun mendatanginya dengan membawa senjata-senjata untuk melukai diri mereka. Tak jarang, diantara mereka seringkali jatuh korban.
Sebuah Perhatian dan Perenungan
Sekte Zaidiyah dianggap merupakan sekte yang paling ringan kesyiahannya. Hal ini karena mereka tidak melaknat dan mencela sahabat Abu Bakar dan Umar RA. Namun, ada sisi kemiripan antara Syiah Zaidiyah dan Itsna Asyariyah. Sisi-sisi kesamaan inilah yang nantinya menjadikan seorang yang berpaham Zaidiyah, dapat dengan mudah menjadi Itsna Asyariyah.
Perlu diketahui, keduanya adalah sama-sama bagian dari Syiah yang utuh. Mereka juga sama-sama memperbolehkan taqiyah jika ada tuntutan. Selain itu, keduanya memegang prinsip bahwa ahlul baitlah yang berhak atas kekhilafahan. Sifat taklid juga menjadi pegangan yang sama, di samping lebih mengutamakan hadits-hadits yang menjadi pegangan mereka. Ketika adzan, mereka selalu menyerukan lafal “Hayya ‘ala Khairil Amal”.
Fenomena di Yaman sungguh bisa dijadikan pelajaran. Paham Zaidiyah yang semula mereka jadikan pegangan, dapat dengan mudah berubah arah dan tujuan. Kini mereka tak lagi menjadi Zaidiyah, berubah menjadi Itsna Asyariyah yang berkiblat di Iran. Tujuan agama tak hanya mereka jadikan pegangan, sikap politik dan gerakan sudah menjadi tujuan. Bukan tidak mungkin, apa yang terjadi di Yaman, diikuti oleh kalangan Zaidiyah lainnya. Terutama, hingga saat ini Iran telah leluasa menampakkan pengaruhnya. (M. Basyir)

0 comments: