Pages

Subscribe:

Jumat, 06 Juni 2014

Karna Salya Padhu

Kembali remuk hati Aswatama. Belum lagi jelas pulihnya kepercayaan Prabu Duryudana kepadanya setelah terjadinya kericuhan di Bulupitu waktu lalu hingga menewaskan paman terkasihnya, Resi Krepa, kembali kematian ayahnya bagaikan meremuk redamkan sisa bagian hatinya yang masih utuh. Remuknya hati dibawanya menyingkir dari palagan peperangan disore yang mulai mendung. Seribu hitungan langkah yang ia rencanakan selanjutnya berkecamuk dalam pikirannya. Rencana bagaimana cara membalaskan sakit hati atas pokal orang Pancalaradya utamanya, dan orang Pandawa bersaudara atas kematian orang tuanya secara keseluruhan.

“Bapa, disini aku akan bersumpah untukmu atas perilaku Drestajumna. Belum merasa lega hati anakmu, bila belum bisa menumpas anak anak Pancalaradya. Sanggup anakmu ini melakoni usaha apapun, bahkan menjadi hewan paling hina-pun anakmu akan tetap berusaha menuntut balas atas kematianmu ”.kilat dan serentak suara gelegarnya menjadi saksi sumpah Aswatama.

Sedih hati Aswatama membawanya mengenang orang orang yang dicintainya. Pamannya, Krepa, yang menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri, pamannya itu  yang telah mencurahkan segala kasih sayang kepada dirinya, tak terbatas pada rasa sayang seorang paman. Dirinya yang ditinggal ayahnya sedari kecil di Timpuru telah mendekat-lekatkan hatinya kepada pamannya itu.

Sedangkan ayahnya yang menikahi ibu sambungnya, Krepi, bukan atas nama cinta, tetapi semata mata hanyalah berdasar usaha melepas beban mengasuh dirinya sebagai anak bayi Aswatama kecil. Dalih menikahi Krepi adalah perilaku yang menghindari diri dari kerepotan itu, demi mengejar angan tinggi seorang perantau muda yang haus akan pengalaman dan cecapan kebebasan masa mudanya.

Angan kebebasan berpetualang yang membawa ayahnya  menjadi rusak raga atas hajaran Raden Gandamana, namun ayah tercintanya juga diberkati kesaktian pinunjul ketika berguru kepada Rama Bargawa dan menjadi guru ilmu kanuragan para Kurawa dan Pandawa.

Kemudian bayangan angan Aswatama menerawang mengenang kasih sayang sang ayah ketika ia menyusul ke Sokalima. Ayahnya yang merasa bangga dengan sosok dirinya yang merupakan keturunan satu satunya. Bagi ayahnya adalah pelecut semangat hidup, ketika raganya telah rapuh dan tak lagi sempurna. Sosok dirinya yang mengingatkan atas sosok muda ayahnya, hingga ia dilimpahi kasih sayang tak terhingga dari ayahnya itu.

Tidak berpanjang panjang angan Aswatama, ketika Harya Suman yang mencari dirinya telah menemukannya.

“Aswatama, jangan lagi menyesali kematian orang tuamu berpanjang panjang, marilah anakku, aku iring langkahmu menuju balairung Bulupitu. Sinuwun Prabu Duryudana berkenan memanggilmu”

Ragu Aswatama mendengar perkataan Harya Suman. Dalam benaknya masih tersimpan ingatan, bagaimana junjungannnya Prabu Duryudana sangat marah, ketika ia berusaha membela pamannya terkasih, Resi Krapa, ketika pertengkaran pamannya itu dengan Adipati Karna, yang berujung pada kematian pamannya.

Harya Suman sangat mengerti perasaan Aswatama, maka ia melanjutkan.

“Sinuwun Prabu Duryudana memanggilmu atas kemurahan hati beliau, yang menganggap orang tuamu telah menjadi pahlawan atas gugurnya dalam membela para Kurawa dan melihat kesetiaanmu kepada negara. Ayolah anakku, jangan ragukan kata kata pamanmu. Aku yang akan menjadi jaminan atas sabda Prabu Duryudana”.

“Baiklah paman, hamba mengerti akan keadaan ini” Aswatama menuruti kata kata Patih Sangkuni. Ia ingin mengumpulkan kembali kekuatannya lahir dan batin. Dengan bergabung kembali ke barisan Kurawa, seribu kemungkinan akan ia dapatkan dalam usahanya membalaskan sakit hati kepada trah Pancala. Hitungan dalam kepalanya juga mengarah kepada suatu agenda tersendiri yang hanya ia yang tahu.
******

Malam kembali jatuh. Di Pesanggrahan Bulupitu, Prabu Duryudana sangat berduka dengan apa yang terjadi pada peperangan hari tadi. Kematian demi kematian para sanak saudara bahkan gurunya, telah membuat ia merasa telah terlolosi otot dan tulang tulang dari sekujur tubuhnya. Kematian gurunya Pendita Durna-lah yang membuat serasa lumpuh. Ditambah lagi dengan kematian adiknya Dursasana yang sudah ia terima dari abdi telik sandi. Kematiannya yang diluar arena resmi sangat ia sesalkan. Ditambah lagi dengan kematiannya yang sangat menyedihkan dengan badan yang tercerai berai, membuahkan dendam kepada Werkudara.

“Rama Prabu, sekaranglah waktunya putramu untuk maju sendiri kemedan pertempuran” Duryudana tidak lagi terkendali rasa hatinya ketika orang orang terkasihnya tewas satu persatu.

“Pikirkanlah baik baik langkah yang hendak kau ambil, anak mantu Prabu”. Salya mencoba menyabarkan hati menantunya. Kemudian ia mencoba memberikan pilihan. “Barangkali dengan telah tewasnya banyak andalan pihak kita, anak Prabu mempunyai pertimbangan untuk mengakhiri saja perang ini. Dan bila anak Prabu berkenan akan tindakan ini, aku sanggup untuk menjadi perantara dalam menyampaikan pesan perdamaian kepada adik adikmu Pandawa”.

“Tidak rama Prabu, akan sia sia pengorbanan yang telah diberikan oleh para prajurit dan senapati yang telah gugur. Tidak layak putramu berdamai dengan Para Pandawa dengan landasan bangkai para prajurit dan bergelimang dengan darah para bebanten perang”. Duryudana menjawab dengan tegas. Perasaan dendam yang membara didadanya atas kematian adik terkasihnya, Dursasana, telah mendorongnya mengatakan bantahan atas pilihan tawaran dari Prabu Salya.

“Baiklah, bila demikian. Anak Prabu masih mempunyai satria agul-agul yang kiraku dapat mengatasi keadaan ini dengan memenangi perang. Disini masih berdiri kokoh seorang calon senapati yang bukan orang sembarangan. Orang itu adalah anak dewa penerang hari, yang telah kuasa memenangi pertempuran malam dengan korban yang tak terkira jumlahnya termasuk senapati muda Gatutkaca”. Tutur Salya sambil melirik mantunya yang paling ia tidak sukai dari ketiga mantu yang lain sambil tersenyum penuh arti. Senyum yang keluar bukan dari hati yang tulus. Senyum yang setengah mengejek, karena rasa yang terlanjur tidak suka terhadap mantu itu. Juga senyum sinis itu disebabkan atas hasil kemenangan yang dicapainya baru baru ini yang tidak dilakukan dengan cara kesatria, layaknya perang yang terjadi di waktu waktu sebelumnya yang terjadi diwaktu yang wajar, siang hari.

 “Terimakasih rama Prabu, anakmu setuju atas kehendak rama. Hanya kepada kanda Adipati, kami menyandarkan kekuatan para Kurawa dalam memenangi perang ini. Kami harap kanda Adipati dapat melaksanakan segala gelar perang yang akan terlaksana besok pagi”.

“Kehormatan yang tiada terkira yang saya cadang siang dan malam telah terucap dari sabda paduka adinda Prabu. Ada satu permintaan yang akan kami sampaikan kepada adinda Prabu, dalam perang nanti, kami pasti akan berhadapan dengan adimas Arjuna. Ini sudah menjadi takdir yang sudah terucap dari sabda Batara Narada waktu lalu, bahwa kami berdua adimas Arjuna bakal bertemu kembali dalam medan Baratayuda. Dari itu, para Pandawa akan menampilkan adimas Arjuna sebagai senapati dari pihak Hupalawiya”. Kembali Adipati Karna mengingatkan akan peristiwa masa lalu ketika anugrah Kuntawijayandanu yang hendak diberikan kepada Arjuna sebagai pemutus tali pusar Gatutkaca, telah salah diterimakan kepada Karna-Suryatmaja.

Perkelahian keduanya terjadi ketika Arjuna tidak terima atas kesalahan pemberian pusaka itu, dan bahwa ia juga telah dibebani tugas oleh kakaknya, Bratasena Werkudara, untuk mendapatkan senjata yang bisa memutus tali pusar keponakannya. Pertempuran yang kemudian dipisah oleh Narada, dijanjikannya bakal terlaksana hingga salah satunya tewas pada saat Perang Baratayuda berlangsung nanti.

“Permintaan apakah yang hendak kanda sampaikan. Kalau masih dalam jangkauan kami, pasti akan kami kabulkan” Duryudana setengah menyanggupi permintaan yang hendak ia sampaikan.

“Adinda Prabu, Bila terjadi perang tanding dengan kereta perang nanti antara kami dengan dimas Arjuna, tidak urung adimas Arjuna akan dikusiri oleh Prabu Kresna. Bila ini yang terjadi, mohon kesanggupannya agar kami dikusiri juga oleh manusia yang setimbang dengan derajat Prabu Kresna”. Sejenak Karna diam, ragu dalam hati ia hendak menyampaikan maksudnya kepada adik iparnya itu.

Jeda kesunyian itu kemudian diseling dengan pertanyaan sang Prabu. “Kanda, apakah kanda hendak dikusiri oleh Kartamarma, ataukah oleh paman Harya Sangkuni? Akan kami perintahkan kapanpun, pasti keduanya dengan senang hati akan memenuhi kehendak kanda Adipati”.

Adipati Karna tersenyum hambar. Perasaan sungkan yang ia pendam sedari tadi telah ia keluarkan dan ia buang sedikit demi sedikit. Keinginan membalas perlakuan mertuanya yang selalu tidak cocok dihatinya, dalam peristiwa ini, bagaikan suatu sarana untuk melawan balik sikap mertuanya itu. Bagaimanapun permintaan seorang senapati akan dipenuhi tanpa harus tercampuri oleh urusan pribadi. Dan urusan negara ini akan dijadikan dalih dalam melawan sikap mertuanya itu. Inilah saatnya, pikir Karna.

“Adinda Prabu, bukan seorang Kartamarma atau Paman Sengkuni yang aku kehendaki. Keduanya belum setimbang dengan derajat yang disandang oleh Prabu Kresna. Satu satunya orang yang dapat menyamai derajatnya, adalah  . . . Rama Prabu Salya”.

Terkejut Salya dengan permintaan yang diajukan oleh menantunya. Tidak senang ia berkata. “Ooh . . , inikah ujud bakti seorang menantu terhadap mertuanya? Aku ini dianggap apa? Derajat Prabu Kresna yang kau anggap sebagai dalih agar mertuamu ini mau kau perintahkan aku sebagai kusirmu? Sekali menjadi mantu kualat, tetap menjadi menantu kualat juga. Belum juga sembuh rasa hati atas tuduhanmu diawal perang, telah kau lukai hati ini sekali lagi dengan permintaanmu yang merendahkan derajat raja Mandaraka”. Tanpa diduga sebelumnya oleh Karna, rayuannya atas derajat yang ia lontarkan kepada mertuanya, tidak mempan mengatasi anggapan rendah seorang kusir bagi dirinya. Bahkan kembali Salya mengungkit ungkit sakit hatinya atas tuduhan menantunya diawal perang.

“Rama Prabu, bila rama tidak berkenan atas permintaan kanda Adipati, baiklah sekarang putramu sendiri yang akan maju kemedan Kurusetra. Saya relakan jiwaku demi kemenangan yang hendak aku raih. Putramu minta diri untuk berangkat malam ini juga”. Duryudana mencoba untuk menarik perhatian ayah mertuanya. Ia berharap mertuanya akan menyanggupi permintaan kakak iparnya bila ia mengancam akan bertindak sendiri.

Kembali diluar dugaan, Salya berkata sambil tertawa sumbang. “Anak mantu Duyudana, aku ini orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Tidak usahlah merajuk seperti itu. Dalam pendengaranku, kata kata anakmas Duryudana tadi, bukan keluar dari lubuk hati anakmas sendiri. Tidak usahlah memaksa dengan ancaman halus seperti yang anak Prabu katakan, aku akan menuruti keinginan menantuku Awangga yang tampan itu, anak mantu yang membuat anakku Surtikanti mabuk kepayang”. Akhirnya Salya menyanggupi permintaan itu. Karna yang mendengar permintaannya dikabulkan bukannya senang, namun ia malah tersenyum kecut penuh arti.

“Terimasih rama Prabu, yang telah mengabulkan permintaan anakmu ini. Mohon perkenannya adinda Prabu Duryudana, mulai malam ini kanjeng rama ada dalam tugas sebagai kusir senapati Awangga”. Adipati Karna akhirnya mengatakan kalimat seperti itu. Telah telanjur basah ia dalam melawan rasa benci dari sang mertua, maka sekalianlah basah dengan memerintahkan peran itu dari saat ini juga.

“Baiklah anakku tampan, perintahkan kepada kusirmu tugas apa yang hendak kau perintahkan untuk mengantarmu?” Salya sudah muak dengan tingkah menantunya sekalian memanjakan semu kemauan menantunya.

“Mohon maaf rama, mohon rama menemani kami untuk kembali sejenak ke Awangga. Anakmu mantu ingin ketemu sejenak dengan putri rama, Surtikanti. Sudah lama anakmu tidak memberi kabar ataupun berita. Dan pasti ia ingin mengetahui keselamatan suaminya. Sekali lagi mohon perkenannya. Ketemu dengan istri bukanlah masalah pribadi, ini sebagian dari tugas seorang senapati. Ketemu dengan istri adalah sebagai penguat jiwa, sebagai penambah moral bagi seorang lelaki sekaligus suami dalam menjalankan tugas. Apalagi ini adalah tugas luar biasa, tugas yang taruhannya adalah nyawa”. Karna mencoba memberi penjelasan kepada mertuanya.

Namun sang mertua yang sudah pegal hatinya setengah hati menjawah. “Dalih apapun yang kamu hendak berikan kepadaku, taklah menjadi sebuah arti. Mari ikuti aku, kita segera berangkat ke Awangga”

“Anak mantu Duryudana, perkenankan kami mohon diri sejenak. Kusir ini akan mengantarkan senapati agung”. Prabu Salya meminta diri.

“Semoga keselamatan rama Prabu dan Kanda Adipati menyertai perjalanan ini nanti” demikian Duryudana mengakhiri sidang dan beranjak mengikuti Prabu Salya dan Adipati Karna sampai di gapura pesanggrahan.

Lenyap bayang dua sosok menantu dan mertua itu di keremangan malam. Tetapi dua sosok tubuh yang lain muncul. Mereka adalah Harya Sangkuni dan Aswatama. Segera keduanya menghaturkan sembah kepada junjungannya . Diajaknya kemudian keduanya menuju balairung pesanggrahan.

Setelah basa basi sejenak, dan menceritakan apa yang terjadi baru saja, berkata Prabu Duryudana, “Aswatama, telah saya cabut kata kataku mengenai pengusiranmu dari hadapanku. Kematian ayahmu sebagai seorang tawur peperangan adalah labuh seorang pahlawan sejati. Sebagai seorang anak pahlawan, selayaknya kamu harus aku berikan perlakuan layaknya seorang anak pahlawan. Sedangkan perilakumu semasa pembuangan, aku lihat tetap bersikap sebagaimana prajurit yang setia terhadap negara. Itulah yang mendasari kamu aku dekatkan kembali dihadapanku”.


“Terimakasih atas kepercayaan gusti Prabu terhadap hamba. Akan kami pelihara sikap kesetiaan kami terhadap negara ini dengan kesanggupan hamba sebagai mata mata atas kedua parampara paduka gusti Prabu. Kenapa hamba mengatakan sanggup menjadi orang yang setia, dan hubungannya dengan kedua parampara paduka yang barusan pergi. Mohon seribu maaf, karena keduanya adalah masih ada hubungan batin dan jiwa dengan musuh paduka para Pandawa. Prabu Salya adalah uwak dari kembar Nakula dan Sadewa. Sedangkan kanda Adipati Karna adalah saudara tunggal wadah dengan para Pandawa melalui bibi paduka Dewi Kunti. Maka menurut hamba, keduanya harus diawasi benar benar pergerakannya. Sekali lagi sinuwun Prabu, hamba mohon maaf.

Hubungan gusti Prabu dengan mertua paduka kali ini hamba kesampingkan”. Aswatama menghaturkan kata kata itu dengan hati hati.

Sebenarnya ia khawatir mengatakan itu. Namun angin mengarah kepada dirinya hingga diberanikan dirinya mengutarakan isi hatinya.

Takut ia dengan kemurkaan kembali gustinya, ia menunduk dalam. Tetapi hatinya menjadi besar, ketika Patih Sengkuni mengamini kata katanya.” Anak Prabu, benar apa yang dikatakan Aswatama. Segala sesuatu dapat saja terjadi dengan keduanya. Kami sependapat, dan Aswatama akan membuktikan keterangan yang diberikan besok hari ketika perang esok hari telah usai”.


Maka malam itu ketika sudah larut, Aswatama tak segera dapat memejamkan matanya. Kenangan masa lalu dan rencana kedepan hilir mudik mengisi kepalanya. Tapi putusannya adalah, siapapun yang akan memenangi Baratayuda tidaklah menjadi persoalan baginya. Tak ada lagi untung rugi yang ia hitung hitung dalam perkara ini. Yang utama adalah bagaimana ia dapat membalaskan sakit hati terhadap pembunuh ayah dan pamannya, baik itu melalui tangannya sendiri maupun melalui tangan orang lain. Sekarang telah diputuskan, bahwa dirinya akan menjadi seorang oportunis sejati. Kurawa menang, dirinya aman, tetapi bila Pandawa yang menang, kembali ke Timpuru atau Atasangin menjadi pilihan terakhir. Bahkan dibayangkannya ia dapat menggulung kedua pihak yang sedang berperang, Pendawa dan Kurawa sekaligus, dan kemudian bertahta diatas bangkai mereka, nyakrawati mbahu denda di kerajaan Astina dengan permaisuri Dewi Banuwati. Entahlah ini dipikirkan ketika ia masih terjaga atau sudah terlelap dalam mimpi besarnya.

Inilah Coretan Busukku


Nikamti saja coretan busukku
Kubebaskan setiap mata menjamahnya
Perkara suka atau tidak suka
Perkara setuju atau tidak setuju
Aku tak pernah mau tahu
Inilah goresan tinta yang ku bisa
Inilah caraku tunjukkan bahwa aku "ada"
Inilah pelampiasan atas semua yang kurasakan
Dan inilah bagaimana cara aku ungkapkan semua pertempuran pemikiran
Sudahlah...
Begini saja
Jika kalian suka maka silahkan baca
Jika tidak suka ya abaikan saja
Aku sedang tak marah
Aku hanya sedikit jengah
Ketika semua yang ku goreskan sering kalian acuhkan
Ketika buah pikiran yang kuhasilkan tak jarang diperdebatkan
Dan inilah coretan busukku kawan
Penuh dengan kotoran dan kekurangan
Tak seperti punya kalian
Yang penuh dengan keindahan dan kesempurnaan
== Lihatlah tulisan yang dihasilkan dan makna yang disampaikan dan jangan hanya lhat siapa yang menghasilkan tulisan! ==

SEKADAR NAMA


Bersembunyi daripada yang membenci
Kerana mereka dengki
Untuk apa lagi aku di sini
Lebih baik aku pergi
Mereka hanya akan peduli
Bila aku menjadi ugutan pada mereka
Dan ketika mereka cuba tegakkan keadilan penipuan
Mereka tidak akan hiraukan aku
Bila aku bukanlah sesiapa
Aku mahu tersenyum
Kerana aku terlalu hebat
Sehinggakan mereka takut akan kemampuanku
Tapi senyumku itu telah diragut sebelum masanya
Kerana yang seharusnya menjadi milikku sudah dirampas
Yang dipercayai telah mengkhianati
Atas nama sahabat
Mereka cuma muncul apabila dirasakan tergugat
Untuk apa jika kau hanya mahukan permusuhan
Apakah makna persahabatan yang sebenar bagimu?
Walau aku tulis panjang berjela-jela pun
Kau tetap takkan dapat melihat
Kerana orang-orang seperti kamu takkan mengerti
Mata rosak telinga pekak
(Haziq, 6 Juni 2014)

MALU PADAMU, HANTU


langkah ku percepat
pada lantai marmer mengkilat
mata merendah kian lekat
enggan menatap makhluk laknat
mereka menyapa..
tapi aku acuh diam saja
lalu mereka bicara :
"jangan pura-pura.."
keringat deras mulai mengalir
tak lepas do'a berayun di bibir
mereka hanya mencibir
berlalu seraya tersenyum getir
bathinku sedikit lega..
karena mereka sudah tidak ada
tapi tiba-tiba..
mereka muncul lagi sambil tertawa
"apa mau mu..??"
teriakku menderu..
"darahku pahit dan badanku bau"
"jadi..jangan makan aku..!!"
mereka bisu, tertunduk lesu
mata merah berubah jadi abu-abu
tangannya bergetar lidah menjulur kelu
tawa pudar menjadi ratap pilu
"mana bayaranku..?"
"bayaran shooting malam lalu.."
bisik mereka setengah sayu
"lama kami menunggu.."
"terkenal, kami tak perlu.."
"jangan manfaatkan kami.."
"hanya demi rating tinggi.."
"dan jangan samakan kami.."
"dengan badut televisi.."
kini giliran aku..
tertunduk layu
malu..
padamu..
hantu..

KUHARAP MALAM TAK BERLALU

Mentari kembali keperaduan.
Tinggalah bulan sabit mengintip.
Dibalik gelapnya awan.
Tanpa berkawan bintang kemerlip.
Di atas dua roda berputar.
Di antara kabut bergelayut.
Tubuh ini sedikit gemetar.
Seakan nadi beku berhenti berdenyut.
Ditariknya tanganku perlahan.
Didekapnya dalam pelukan.
Kunikmati kehangatan.
Dalam dingin yang kurasakan.
Kuhela nafas panjang.
Seraya kupanjatkan doa.
Agar rasa ini takan hilang.
Meski harus ditelan masa.
Andai bisa ku meminta.
Tuhan tolong hentikan waktu.
Supaya kita tetap bersama.
Terperangkap dipenghujung malam itu.
>>Quatrain<<
『sajak curahan hati』

cerita terbalik



Dia ceritakan ini setengah berbisik
Di negri ini banyak hal yang terbalik
Semua tatanan jadi ajang politik
Banyak dewa dijadikan pemantik
Membuat suasana tambah berisik
Lihatlah itu, ada pagar makan tanaman!
Semua tumbuhan yang ada di halaman
Dilalap habis dari luar ke kedalaman
Itu dibiarkannya berlanjut semalaman
Pagar dan sang hama lalu bersalaman
Dengan segala keriangan merayakan keadaan
"Aturannya memang begitu", katanya bersamaan
Ada perempuan diperkosa berdiri
Katanya , itu salah mereka sendiri
Ada yang pincang menginjak duri
Yang dipersalahkan diri sendiri
Di sini, maling mengejar polisi
Jaksa dan hakim minta grasi
Di sini, hidup tanpa hak azasi
Lindungilah diri dalam tiap situasi
Satu babak diakhiri tanpa permisi
Dalam jadi luar, di luar ada isi
Atas dan bawah tukar posisi

Aku tahu,..


Kamu tidak ingin meminum dari cawan ini
Namun kamu meneguk isinya demi aku
Demi menjaga bukit kesunyian ini
Kita beraksara
Demi rahasia kecil kita
Ada batasan yang memburamkan pandangan mata
Perjalanan takdir menagisi kebahagian
Mungkin ini adalah hal membingungkan bagi yang tidak memahami
Kita tidak mengetahui cerita di novel ini akan dibawa kemana oleh penulisnya
Sepasang bibir berbicara dengan bahasa jemari
Ketika pena mencumbui kertas yang terbuat dari kelopak mawar
Pesona nikmat desah nafas mengingkari hati
Suara lirih,.. merintih diatas naskah asmara
Sepasang kekasih terpisah demi mendamaikan khayangan
Sepasang kekasih harus terpisah demi menenangkan hati Dewata

Minggu, 01 Juni 2014

photo bunga


Kutunggu Janjimu Kekasih


Kutunggu Janjimu Kekasih

Pagi ini begitu indah
sebab ada janjimu tertulis diselaput biasnya mentari di luasnya langit
juga menembus sisi jendela hatiku yang terlalu lama tak kubersihkan hingga banyak sekali jelaga yang menyumpal di sana
ternyata kau tembus dgn rindumu yang lama kunanti
betapa indahnya....

Di luar sana,
kudengar nyanyian katak dan kicauan burung,
menambah bahagia hatiku
seakan melambungkan rasaku tinggi ke atas awan, berputar-putar,
dan bercengkerama dengan ratu angin hingga lupa pada kemunafikan dan pertikaian di bumiku

Mataku terasa lebih bundar dari kemarin, 
cantik seperti katamu ketika terakhir kau sulamkan rindu di mataku
aku rindu saat itu

Pagi ini akankah kau ulangi menyulam rindu di mataku?
Aku selalu menunggumu, kekasih hatiku....

Sidoarjo.. 11-5-14
Lestari Panca Wardani merasa dicintai 

Pagi ini begitu indah
sebab ada janjimu tertulis diselaput biasnya mentari di luasnya langit
juga menembus sisi jendela hatiku yang terlalu lama tak kubersihkan hingga banyak sekali jelaga yang menyumpal di sana
ternyata kau tembus dgn rindumu yang lama kunanti
betapa indahnya....
Di luar sana,
kudengar nyanyian katak dan kicauan burung,
menambah bahagia hatiku
seakan melambungkan rasaku tinggi ke atas awan, berputar-putar,
dan bercengkerama dengan ratu angin hingga lupa pada kemunafikan dan pertikaian di bumiku
Mataku terasa lebih bundar dari kemarin,
cantik seperti katamu ketika terakhir kau sulamkan rindu di mataku
aku rindu saat itu
Pagi ini akankah kau ulangi menyulam rindu di mataku?
Aku selalu menunggumu, kekasih hatiku....
Sidoarjo.. 11-5-14
Suka · 

pembunuh naga


                                                               Rahman Syaifoel

George, nama harumku di dataran Eropa
Dengan berbagai alias namaku disapa
Apakah engkau tahu, itu mengapa?
Karena mereka tidak perlu seorang pertapa
Yang diperlukan justru fungsi seorang bapa
Yang melidungi rakyat dari segala nestapa


Aku adalah santa pembunuh naga
Kau lihat aku bertarung dan berlaga
Kuhunus pedang di atas kuda yang siaga
Kesaksianku akan membuatmu terjaga
Juga dikisahkan dalam musik Lady Gaga

Banyak sekali naga antara nusa-nusa
Mulutnya semburkan api berbusa-busa
Kemarin, bau menyebar kini dan esok lusa
Cakar besarnya yang gagah perkasa
Mata tajam merahnya yang berkuasa
Runtuhkan nyali kita, membuat putus asa

Di mana engkau sang relawan?
Kami perlu satria di atas awan
Seorang pangeran untuk melawan
Banyak naga di nusa ini, kami tertawan
Tolong diberitakan ini, para wartawan!
Tuliskan kisah kami ini, para sastrawan!
O, tolonglah kami ini, hai sang pahlawan!
Suka · 

menjadi setan


                                                         Rahman Syaifoel

                                          Setan satu pada setan jaga
                                                               Masih belum berhasil juga?
                                                             Menggoda tengkulak mangga 
Supaya tidak lagi terlalu siaga
Mengajak untuk bersama berlaga

Ternyata,jalan neraka terjal juga!
Prosesnya panjang tak terduga

Tan, kau harus ganti strategi
Jangan biarkan mereka pergi
Mendekati kantornya tiap pagi
Yang di dekat jalan Semanggi
Dengan gaji yang cukup tinggi
Lagi.....
Lihat duit korupsi? minta dibagi!

Lalu kau ambil langkah berikut
Kau ciptakan sistem yang semrawut
Sehingga mereka dalam kondisi takut
Mereka pertahankan posisi adu sikut
Dengan cara ini pancingmu nyangkut
Mereka akan segera jadi pengikut!

Kita sebagai etnik setan
Juga harus berlaku jantan
Selalu pakai jalan kekerabatan
Menuju ke arah jurang selatan
Niat orang pasti bisa kelihatan!
Kau katakan dalam selamatan
Selamat datang di rumah setan!

ADA SENYUM


Gemuruhnya
pohon-pohon tumbang
di tengah hutan belantara

Ada senyum
dan ada canda tawa
di sudut bibir mereka

Saat roda waktu
menghentikan putaran sejenak

Gadis kecil melintas
rambutnya hitam legam
kini tampak kering bercabang

Semalam hujan deras
banjir bandang datang melanda
haruskah.......
menyalahkan keadaan atau alam yang tak ramah

Badut-badutpun menari
demi sebuah kepuasan pribadi
tak menghiraukan jerit tangis sesama

21 Mei 2014.
— bersama Jona Nazhara.

naruto eps 363


GPK Albama


Resep Ayam Goreng Padang untuk menu berbuka puasa dan sahur



Waktu persiapan
Waktu memasak
Waktu total
 
Penulis:
Macam resep: Main
Cuisine: Indonesia
Saran penyajian: 8
Bahan-bahan
Bahan:
  • 2 ekor ayam kampung muda, masing-masing belah 4
  • 2 sdm air jeruk nipis
  • 2 butir telur, kocok sebentar
  • 2 ruas ibu jari lengkuas, parut
  • minyak goreng secukupnya, untuk menggoreng
Bumbu halus:
  • 1 ruas ibu jari lengkuas, parut
  • 4 siung bawang putih
  • ½ sdt merica bulat
  • 1 ruas jari kunyit
  • garam secukupnya
Cara membuat
  1. Cuci bersih ayam, kemudian lumuri dengan bumbu halus, air jeruk nipis,diamkan selama 30 menit hingga bumbu meresap.
  2. Celupkan ayam berbumbu ke dalam telur kocok yang di campur dengan lengkuas parut, kemudian goring ayam dengan minyak panas hingga berwarna kuning kecoklatan dan atang. Angkat, tiriskan.

Resep Pecak Ikan Mas untuk berbuka puasa dan sahur



Waktu persiapan
Waktu memasak
Waktu total
 
Penulis:
Macam resep: Main
Cuisine: Indonesia
Saran penyajian: 5
Bahan-bahan
Bahan:
  • 5 ekor ikan mas @ 250 gr
  • 3 sdm air asam jawa
  • 2 sdt garam
  • 200 ml air
Bumbu halus:
  • 10 butir bawang merah, bakar setengah matang
  • 5 siung bawang putig, bakar setengah matang
  • 5 cm jahe, bakar setengah matang
  • 5 butir kemiri
  • 3 sdt terasi
  • 1 sdm garam
  • 2 sdt gula merah
Cara membuat
  1. Bersihkan dan cuci ikan mas, baluri dengan air asam jawa dan garam. Biarkan selama 30 menit.
  2. Panaskan minyak, goreng ikan mas hingga agak kering. Sisihkan.
  3. Tumis humbu halus hingga harum, tambahkan 100 ml air, masak hingga kuah agak mengering. Angkat.
  4. Siramkan di atas ikan mas goreng, sajikan segera.

Resep Ikan Bumbu Arsik untuk sahur dan berbuka


 
Waktu persiapan
Waktu memasak
Waktu total
 
Penulis:
Macam resep: Main
Cuisine: Indonesia
Saran penyajian: 6 porsi
Bahan-bahan
Bahan:
  • 2 ekor ikan mas @750 gr
  • 3 buah jeruk nipis, ambil airnya
  • 10 batang serai, memarkan
  • 20 lembar daun ruku-ruku atau kemangi
  • 4 buah bunga kecombrang, jika suka
  • 5 lembar daun mangkokan, sobek-sobek kecil
Bumbu yang dihaluskan:
  • 10 buah cabai merah
  • 10 butir bawang merah
  • 1 sdm andaliman, jika ada
  • 6 butir kemiri
  • 10 cm kunyit
  • 5 cm jahe
  • 5 cm lengkuas
  • 2 potong asam (glugur/kandis)
  • 1 sdt garam
Cara membuat
  1. Setelah ikan dibersihkan, lumuri dengan air jeruk nipis, biarkan 10 menit.
  2. Lumuri ikan dengan bumbu yang dihaluskan, isi rongga perutnya dengan sebagian bumbu serau dan bunga kecombrang
  3. Alasi wajan dengan batang serai, letakkan ikan di atasnya. Letakkan daun kemangi, kecombrang, daun mangkokan, dan asam potong.
  4. Beri air hingga ikan terendam.
  5. Masak dengan api kecil hingga matang dan airnya habis

Resep Sop Ikan untuk berbuka puasa


 
Waktu persiapan
Waktu memasak
Waktu total
 
Penulis:
Macam resep: Main
Cuisine: Indonesia
Saran penyajian: 6
Bahan-bahan
Bahan:
  • 2 ekor ikan kakap, potong masing-masing jadi 3 bagian
  • 10 buah belimbing wuluh
  • 50 gr daun kemangi
  • 800 ml air
Bumbu halus:
  • 3 butir bawang putih
  • 3 buah cabai merah
  • 2 cm jahe
  • 1 cm kunyit
  • 1 sdm garam
  • 1 batang serai, memarkan
  • 2 lembar daun jeruk
  • 1 buah tomat, iris dadu
Cara membuat
  1. Didihkan air, masukkan bumbu halus, serai, daun jeruk dan ikan. Masak hingga bumbu meresap ke dalam ikan.
  2. Masukkan tomat, belimbing wuluh, dan daun kemangi. Masak hingga daun kemangi layu.
  3. Angkat, sajikan hangat.

Resep Biji Salak segar untuk buka puasa


 
Waktu persiapan
Waktu memasak
Waktu total
 
Penulis:
Macam resep: Dessert
Cuisine: Indonesia
Saran penyajian: 5
Bahan-bahan
Bubur:
  • 750 air
  • 250 gr gula merah, sisir halus
  • 50 gr gula pasir
  • 3 lembar daun pandan
  • ½ sdt garam
Biji salak:
  • 500 gr ubi jalar, kupas, cuci bersih, kukus, haluskan.
  • 100 gr tepung tapioka
  • ½ sdt garam
Saus santan:
  • 300 ml santan
  • 2 lembar daun pandan
  • ½ sdt garam
  • ½ sdt tepung maizena, larutkan dengan 2 sdm air
Cara membuat
  1. Campur ubi jalar, garam tepung tapioka, aduk rata. Bentuk adonan menjadi bulatan kecil seukuran kelereng. Sisihkan.
  2. Rebus air, gula merah, gula pasir, daun pandan dan garam hingga mendidih. Angkat dan saring.
  3. Masak kembali larutan gula hingga mendidih. Masukkan biji salak, masak hingga biji salak mengapung. Angkat.
  4. Saus santan: rebus santan, daun pandan, dan garam hingga mendidih sambil diaduk perlahan. Masukkan larutan tepung maizena, maaak hingga santan mengental. Angkat.
  5. Sajikan bubur dengan saus santan diatasnya.

ES BUAH UNTUK BUKA PUASA

Berikut ini ada resep atau cara membuat es buah segar untuk berbuka puasa pada tahun ini, simaklah resep selengkapnya:
Bahan:
  • 1/2bh Pepaya, potong dadu
  • 1/2bh Melon, potong dadu
  • 1 bh Nanas, potong2 kecil
  • 1/2 bh Semangka, potong dadu
  • 30 bh anggur hitam
  • 3 siung jeruk bali, suir-suir
Kuah:
  • 15 bh Jeruk manis, ambil airnya
  • 2 bh Jeruk lemon, ambil airnya
  • 200 cc sirup rose
  • 500 cc minuman bersoda merah
  • es batu secukupnya
Cara Membuat:
Campur air jeruk manis, air lemon dan sirup rose Tuang campuran air jeruk tadi dalam mangkuk yang berisi campuran buah. Tambahkan minuman bersoda dan es batu. Biarkan es mencair hingga rasa manisnya pas. Sajikan dingin, selamat menikmati.[cbm]