Pages

Subscribe:

Sabtu, 11 Februari 2017

menyiapkan media budidaya belut



Pencampuran atau penyusunan media di dalam wadah budi daya umumnya diterapkan oleh pembudi daya belut diberbagai daerah. Cara ini mempunyai kelebihan, yaitu lebih praktis, terutama pada penggunaan wadah ukuran besar  dan skala usaha yang besar, serta tidak memerlukan wadah yang banyak. Namun kelemahannya tingkat kematangan media tidak seragam.

                           air 5 cm

                       Lumpur 10 cm


                Pupuk kandang 20 cm

            cacahan pelpah pisang 10 cm
                          jerami 15 cm


Tahapan-tahapan pencampuran/penyusunan media di dalam wadah budi daya belut adalah sebagai berikut :
  1. Siapkan semua media budi daya, lalu masukkan kedalam wadah budi daya. lalu masukkan ke dalam wadah budi daya. Media yang digunakan harus merupakan media yang matang.
  2. Media yang dimasukkan berlapis-lapis, misalnya dimulai dari jerami 15 cm, gedebog/pelepah pisang 10 cm, pupuk kandang 10 cm, lumpur 10 cm, dan air 5 cm.
  3. Selanjutnya , media dialiri air setinggi 5-10 cm dan diamkan 3-4 minggu. Apabila media mengering segera masukkan air.
  4. Untuk mengetahui media sudah matang atau belum, tancapkan sepotong bambu/kayu kedalam wadah sampai kedasar dan angkat pelan-pelan. Bila ada gelembung yang tidak berbau dan bening, berarti media sudah matang. Apabila media belum matang, maka proses pendiaman dilanjutkan agar fermentasi terjadi dengan sempurna.
  5. Setelah media matang, air dialirkan kemedia selama 3-4 hari untuk menghilangkan busa, gas, dan bahan-bahan kimia.
  6. Selanjutnya, ketinggian air di dalam wadah dipertahankan pada kedalaman 5-10 cm diatas permukaan media dan benih belut siap ditebar.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKfdMdS_StUmm91H3uWEWd9m3wwmL1mkD1r_ViWIUnd7WRd9MMvuGUfQ-V2rPCKFSguLG8RXaYzl30-Sy3cCKmN94sOPnVvVIojwupNIMu0DfPCKBGiEO6qvq4uDMg-H-Em1bzEF5I4eFo/s1600/images+(11).jpg
 Alternatif Media Budi daya Belut
Media untuk budi daya belut dibuat dari bahan-bahan berupa jerami, pelepah/gedebog pisang, lumpur/tanah humus, pupuk kandang, dan air. Belakangan digunakan pula kompos, bekatul maupun media bekas budi daya jamur atau baglog jamur Sedangkan ketinggian media, mulai dari 40 cm hingga 80 cm, kecuali untuk pendederan benih yang hanya membutuhkan media setinggi 10-15 cm. Namun, ada juga media budi daya yang ketinggiannya mencapai 100 cm.

Komposisi media budi daya belut yang digunakan oleh pembudidaya cukup bervariasi walaupun media yang digunakan tetap sama. Perbedaan ini terjadi karena faktor kondisi lokasi, kemampuan pembudi daya, wadah yang digunakan, bahan media yang tersedia, dan tentu saja pengalaman. Berikut disajikan beberapa alternatif media budi daya belut.

Alternatif 1 (paling umum dan sederhana)
Tinggi media 40-50 cm (susunan dalam wadah budi daya dari bawah keatas)
  • Tanah sawah/lumpur/tanah humus 10 cm
  • Jerami 10 cm
  • Cincangan pelepah/gedebog pisang 10 cm
  • Pupuk kandang 10 cm
  • Lumpur 5 cm
  • Air 5 cm
Alternatif 2
Tinggi media 90-100 cm.
  • Tanah sawah atau lumpur 20 cm
  • Pupuk kandang 5 cm
  • Tanah sawah atau lumpur 10 cm
  • Kompos 5 cm
  • Tanah sawah atau lumpur 10 cm
  • Jerami 15 cm
  • Tanah sawah atau lupur 20 cm
  • Cincangan gedebog pisang ditaburi sampai menutupi permukaan wadah
  • Mikrostater 1/2 liter dicampur dengan 20 liter air
Alternatif 3
Tinggi media 60 cm
    • Jerami 30%
    • Cincangan gedebog pisang 10%
    • Pupuk kandang 40%
    • Tanah sawah atau lumpur 20%
    • Air setinggi 5 cm
    • Larutan mikrostater 1/2 dicampur dengan 20 liter air
 Alternatif 4
Tinggi media 70 cm
    • Tanah sawah atau lumpur 50 cm
    • Pupuk kandang 20 cm
    • Air setinggi 5 cm
Alternatif 5
Tinggi media 60-70 cm
    • Tanah sawah atau lumpur 14,3%
    • Jerami 28,6%
    • Cincangan gedebog pisang 14,3%
    • Pupuk kandang 14,3%
    • Kompos 28,6%

Enochian: Bahasa Malaikat Yang Hilang





Pada tahun 1581, okultis yang bernama John Dee dan Edward Kelley mengkalim telah menerima komunikasi dari para malaikat yang memberikan pada mereka dasar-dasar dari sebuah bahasa yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan dunia lainnya. Bahasa malaikat ini memiliki alphabet, grammar dan penulisan sendiri, hal ini mereka tulis pada beberapa jurnal. Bahasa baru ini dikenal sebagai Enochian dan datang dari klaim John Dee bahwa Enoch (salah satu orang yang dihormati di Alkitab, leluhur dari Nuh) merupakan manusia terakhir yang menguasai bahasa ini.


Dr. John Dee, 1527-1609 adalah seorang okultis, ahli matematika, astronomer, dan astrologer yang hidup ini Mork Lake, London Barat selama hidupnya. Dia adalah seorang yang terpelajar yang belajar di St. John’s College di Cambridge, yang secara kebetulan diteria kedalam lingkaran kekuasaan para elit yang berpengaruh dan berperan sebagai ilmuwan penasehat bagi Ratu Elizabeth I. Dia juga merupakan orang yang berhubungan dengan penyebutan istilah ‘British Empire’. Selama periode awal dari hidupnya, Dee memiliki sedikit keterkaitan terhadap hal-hal supranatural. Belakangan dia terobsesi dengan sains dan memulai berbagai ekspreimen yang terkait okultisme. Dee mencari cara untuk menemukan pengetahuan tentang hal-hal spiritual yang hilang dan mengembalikan ilmu yang dia percayai tersembunyi di buku-buka jaman kuno. Diantara salah satu buku tersebut adalah Book of Enoch yang dia terima sebagai buku yang menggambarkan sistem magis yang digunakan oleh para tokoh di alkitab.

Potret dari John Dee yang digambar di abad keenambelas, diambil dari National Maritime Museum di Greenwich. 1609 (https://commons.wikimedia.org)

Istilah Enochian datang dari tokoh alkitab Enoch yang dipercaya memiliki pengetahuan tersembunyi tentang hal-hal mistis dan dibawanya ke surge. Dari 1581 hingga 1585, Dee memulai melakukan serangkaian panjang kejadian mistis. Di tahun 1581, di usia 54 tahun, Dee menulis di jurnal pribadinya bahwa Tuhan mengirimkan “Malaikat” untuk berkomunikasi secara langsung dengan umat manusia. Di 1582, dia bekerjasama dengan okultasi lainnya beserta Edward Kelley (1555–1597) untuk berkomunikasi dengan malaikat ini. Ratusan pembicaraan roh telah direkam, termasuk apa yang mereka klaim sebagai bahasa malaikan dengan disebut Enochian yang terdiri dari huruf-huruf non-bahasa inggris. Alphabet Enochian ditemukan oleh Dr. John Dee dan  Edward Kelley selama “scrying sessions” (meramal masa depan dengan bola atau permukaan kaca), ketika berbagai teks dan tabel diterima dari malaikat. 

John Dee sedang melakukan eksperimen di depan Ratu Elizabeth I. Lukisan oleh Henry Gillard Glindoni. 1913 (https://commons.wikimedia.org)
                                           
Berdasarkan dokumentasi, Dee dan Kelly menggunakan objek tertentu seperi cermin obsidian hitam dan bola Kristal untuk mendapatkan pengelihatan mereka. Dee berperan sebagai orator, mengarahkan para pengalun doa kepada Tuhan dan Malaikan sekitar 15 menit hingga satu jam. Kemudian batu peramal diletakan di atas meja, dan para malaikat dipanggil untuk memperlihatkan diri mereka. Dee dan Kelly akan melihat batu tersebut dan mencatat apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka juga diberitahu malaikan bahwa kekuatan magis dapat membuat manusia memiliki kekuatan super termasuk merubah struktur politik di Eropa dan meramal kiamat berikutnya. Dee percata bahwa yang dia lakukan bermanfaat bagi khalayak ramai dan mendokumentasujan informasi ini ke dalam serangkaian manuskrip dan buku kerja. Dia tidak pernah mendeskrepsikan bahasa yang digunakan selama ritual sebagai “Enochian: namun cenderung menyebutnya sebagai “bahasa malaikat”, “bahasa langit”, dan terkadang “bahasa Adam” karena dia berpikir bahwa bahasa ini juga digunakan oleh Adam di Taman Eden untuk menamai semua ciptaan Tuhan.

John Dee kaca obsidian digunakan untuk meramal (sumber: wwww.britishmuseum.org)

John Dee’s Seal of God (https://commons.wikimedia.org)

Terdapat dua perbedaan versi dari alphabet Enochian dengan satu skrip memiliki sedikit perbedaan disbanding yang lain. Versi pertama ditemukan di Manuskrip milik Dee, lima buku pertama dari seri of the Mysteries, dan kedua adalah versi yang lebih dapat diterima oleh khalayak umum. Skrip ini dibaca dari kanan ke kiri, dan mungkin termasuk beberapa logat khusus. Huruf-huruf Enochian memiliki persamaan dengan huruf dalam bahasa Inggris dengan beberapa hurus diucapkan sebagaimana dalam Bahasa Inggris, namun banyak juga yang diucapkan dengan berbeda. Alphabet ini umum digunakan dalam Ritual Magis Enochian yang diterima melalui Edward Kelley di 1584 di Krakow, Polandia. Pada tahun tersebut di menulis ke dalam catatan pribadinya serangkaian sembilan belas catatan magis yang disebut Kunci Malaikat atau Lunci Enochian. Kunci ini terdiri dari 48 baris puisi dan berhubungan dengan berbagai fungsi dalam sistem Magis Enochian yang ditulis dalam bahasa asli Enochian serta translasinya dalam Bahasa Inggris sebagaimana berdasarkan versi John Dee.

Huruf-huruf Enochian yang dibaca dari kiri ke kanan, huruf-huruf tersebut dapat membentuk kata yang memiliki arti yang sama dalam Bahasa Inggris. (http://en.wikipedia.org/wiki/Enochian)

Dikarenakan hilangnya beberapa bagian dari manuskrip asli John Dee, berbagai interpretasi muncul terkait arti, validitas dan keaslian dibalik bahasa Enochian. Beberapa orang percaya bahwa bahasa ini merupakan bahasa paling kuno di dunia, jauh lebih dulu dari bahasa manusia lainnya. Beberapa golongan mengkategorikannya sebagai bahasa yang memiliki kekuatan magis yang kental dan merupakan salah satu cara untuk berhubungan dengan dimensi yang lain. Salah satu ahli bahasa menyebutkan bahwa Enochian memiliki struktur yang mirip dengan Bahasa Inggris, bahasa ibu Dee dan Kelley. Beberapa persamaan seperti kata “luciftias” yang berarti terang memiliki keterkaitan dengan “Lucifer” yang berarti cahaya terang. “Londoh” kata dalam Enochian yang berarti kerajaan mungkin merepresentasikan keterkaitan dengan pemimpin kerajaan Inggris. Analisis computer juga menunjukkan bahwa Enochian secara gramatikal memiliki keterkaitana dengan bahasa Inggris.
Necromancy: seni membangkitkan orang mati dan berkomunikasi dengan mereka, gambar diatas adalah John Dee dan Edward Kelley. dari Astrology (1806) oleh Ebenezer Sibly. (http://en.wikipedia.org/wiki/Ebenezer_Sibly)

Okultis di waktu modern juga menghadapi kesulitan dalam merekonstruksi bahasa ini, walau kemajuan telah didapatkan melalui penelitian terhadap manuskrip asli yang ditemukan di koleksi Sir Hans Sloane. Bahasa ini juga sangat terkenal diantara para okultis modern seperti the Hermetic Order of the Golden Dawn, Aleister Crowley, Israel Regardie dan Anton LaVey, pendiri dari church of Satan. Bahasa ini juga dipelajari oleh ahli roket Amerika Jock Parson di OTO. Di 1994, huruf Enochian digunakan sebagai “glyphs” untuk mengoperasikan arc angle di film “Stargate”. Banyak dari barang-barang yang digunakan oleh Dee dan Kelley dapat ditemukan di the British Museum di London, Inggris.


Sumber
"Enochian Magic." Enochian. November 16, 2009. http://enochian.info/enochian-magic/
"Enochian Keys." Enochian. November 16, 2009. Accessed May 20, 2015. http://enochian.info/enochian-keys
"Enochian Alphabet." Enochian. November 21, 2009. http://enochian.info/enochian-alphabet
"John Dee - Astrologer to the Queen." John Dee - Astrologer to the Queen. http://www.bibliotecapleyades.net/bb/john_dee.htm
"British Museum - Dr John Dee (1527-c1608)." British Museum - Dr John Dee (1527-c1608). http://www.britishmuseum.org/explore/highlights/article_index/d/dr_john_dee_1527-c1608.aspx
Jones, David. "John Dee & the Enochian Apocalypse." New Dawn the World’s Most Unusual Magazine. September 8, 2012.
"Enochian Alphabet." Enochian Alphabet. http://www.omniglot.com/writing/enochian.htm


Kamis, 05 Januari 2017

Abu Ma'shar Astrolog Muslim dari Persia


Nyaris semua karya Abu Ma’shar dalam astronomi telah hilang, dan hanya karya astrologinya dalam bahasa Arab yang masih tersisa.


Al-Falaki. Gelar itu ditabalkan para ilmuwan di era kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah kepada Abu Ma’shar berkat kehebatannya dalam bidang astrologi (ilmu perbintangan). Gerrit Bos dalam tulisannya bertajuk Abu Ma’shar: The Abbreviation of the Introduction to Astrology, Together with the Medieval Latin Translation of Adelard of Bath, menyebut Abu Ma’shar sebagai astrolog hebat di abad ke-9 M.

‘’Karya-karya Abu Ma’shar dalam bidang astrologi begitu populer dan sangat ber pengaru h bagi peradaban masyarakat Eropa Barat di abad pertengahan,’’ ujar Bos. Betapa tidak. Sederet adikarya sang Astrolog Muslim itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Menurut Bos, Abu Ma’shar tak hanya berpengaruh dalam bidang astrologi, ia juga berkontribusi dalam bidang kedokteran.

Penjelasan mengenai soal epidemik, papar Bos, merupakan salah satu pengaruh besar Abu Ma’shar dalam bidang kedokteran di Eropa. Ia menghubungkan masalah kedokteran dengan fenomena luar angkasa lewat teorinya yang disangat popular, yakni Theory of the Great Conjunctions.

‘’Menurut teori ini, hubungan planet tertentu dapat menyebabkan bencana alam dan politik,’’ tutur Bos. Salah satu bencana besar yang dihubung-hubungkan para dokter di abad ke -14 dengan teori yang dicetuskan Abu Ma’shar adalah fenomena Black Death. Hal ini menunjukkan betapa pemikiran Abu Ma’shar begitu berpengaruh terhadap peradaban Barat.

Keiji Yamamoto dalam tulisannya tentang sejarah hidup Abu Ma’shar mengungkapkan, ilmuwan Muslim terkemuka di abad ke-9 M itu terlahir pada 10 Agustus 787 M di Balkh, Persia (sekarang Afganistan). Sejatinya ia memiliki nama lengkap Ja’far ibnu Muhammad Abu Ma’shar al-Balkhi.

Selain dikenal dengan sebutan Abu Ma’shar, atrolog yang satu ini juga biasa disebut dengan panggilan Abulmazar. Abu Ma’shar merupakan seorang ilmuwan serbabisa. Selain dikenal sebagai seorang ahli astrologi (ilmu perbintangan), Abu Ma’shar juga menguasai matematika, astronomi, dan filsafat Islam. Ia menekuni matematika saat berusia 47 tahun, setelah kenal dan berkecimpung dalam dunia astrologi.

Ia merupakan murid dari seorang guru yang sangat legendaris, yakni al-Kindi, ilmuwan Muslim di abad ke-8 M. Seperti sang guru, nama Abu Mas'har begitu populer di dunia Barat. Abu Ma'shar telah berjasa menyatukan pelajaran ilmu perbintangan dari berbagai sumber Islam yang luas.

Menurut Yamamoto, Abu Ma'shar juga merupakan salah satu orang yang berpe -ran sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Sayangnya, tak banyak umat Islam di era modern yang mengetahui kisah hidup Abu Mashar. Para sejarawan sains pun sangat jarang mengupas kisah hidup sang ilmuwan.

Tak heran, jika banyak hal dalam sejarah hidup sang ilmuwan yang masih misterius dan menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Menurut Yamamoto, Abu Ma'shar terkenal dengan karya astrologinya. Yamamoto menuturkan, Abu Ma'shar pernah menulis mengenai ilmu perbintangan, termasuk tabel astronomi. Ada beberapa pertanyaan mengenai tanggal kelahiran dan kematiannya, karena pendahulunya mengetahuinya hanya semata-mata berdasarkan pada kutipan horoskop (zodiak) yang tak dikenal dalam bukunya yang bertajuk The Revolutions of the Years of Nativities, papar Yamamoto.

Sejarah hidup Abu Ma'shar, tutur Yamamoto, ditulis seorang sejarawan pada abad ke-10 M bernama Ibnu al-Nadim (wafat 995/998 M). Salah satu misteri yang belum terungkap secara pasti tentang Abu Ma'shar adalah tahun wafatnya. Yamamoto memperkirakan, Abu Ma'shar wafat di Irak pada tahun 886 M. Sementara itu, al-Biruni (973-1048M) dalam karyanya bertajuk Chronology of the Ancient Nation menuturkan bahwa Abu Ma'shar masih melakukan pengamatan astrologi pada 892 M atau enam tahun sesudah tahun kematian yang disebutkan oleh para sejarawan. Al-Biruni dalam karyanya Book of Religions and Dynasties juga mengambil referensi dari karya Abu Ma'shar mengenai posisi bintang yang ditulis pada 896/897 M.

Karya tersebut ditulis Abu Ma'shar ketika berusia lebih dari 100 tahun. Ibnu al-Nadim dalam karyanya Fihrist mengungkapkan bahwa Abu Ma'shar merupakan ilmuwan dan filsuf yang menentang pandangan Helenistik. Pandangan Abu Ma'shar ini kemudian dimanfaatkan al-Biruni untuk memetahkan pendapat filsuf Islam sebelumnya yakni al-Kindi (801-873 M). Kemasyhuran Abu Ma'shar sebagai ahli astrologi hebat di istana Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad membuat namanya masuk dalam cerita tentang astrologi.

Bahkan, Ibnu Tawus (1193n1266 M) mengumpulkan beberapa anekdot Abu Ma'shar dalam karyanya berjudul Faraj al-Mahmum (Biografi Para Astrolog). Sayangnya, nyaris semua karya Abu Ma'shar dalam astronomi telah hilang, dan hanya karya astrologinya dalam bahasa Arab yang masih tersisa. Nama Abu Ma'shar tampaknya lebih populer di dunia Barat, ketimbang di dunia Islam modern. Nyaris tak ada pelajaran yang diajarkan di sekolah di Indonesia yang menyebut nama dan kontribusi Abu Ma'shar di era kekhalifahan. Sungguh sangat ironis. Kontribusi Sang Astrolog Siapa yang membaca akan mengetahui. Siapa yang menulis tak akan pernah mati. Peribahasa orang Perancis itu menemukan faktanya. Meski Abu Ma'shar telah tiada belasan abad silam, namun namanya tetap dikenang dan diperbincangkan kalangan ilmuwan, khususnya di dunia Barat.

Salah satu buku yang ditulis Charles Burnett bertajuk Abu Ma'shar: The Abbreviation of the Introduction to Astrology merupakan bukti betapa pemikiran sang ilmuwan masih dianggap penting oleh dunia Barat.

Richard Lemay dalam karyanya berjudul Abu Ma'shar and Latin Aristotelianism in the Twelfth Century, The Recovery of Aristotles Natural Philosophy through Iranian Astrology, masih tertarik dengan pemikiran sang astrolog Muslim.

Dalam bukunya itu Lemay berargumentasi bahwa tulisan Abu Ma'shar sangat mirip dengan salah satu karya terpenting teori Aristoteles tentang alam. Salah satu karya Abu Ma'shar dalam bidang astrologi yang sangat berpengaruh berjudul Kitab al-Mudkhal al-Kabir. Kitab ini terdiri dari 106 bab.

Karyanya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1133 M dan tahun 1140 M. Selain itu, buku yang ditulis Abu Mafshar pun diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Tak heran, jika buah pikir Abu Mafshar telah memiliki pengaruh yang signifikan kepada ahli filsafat Barat, salah satunyai Albert The Great.

Abu Ma'shar juga menulis sebuah versi ringkas dalam mengenalkan karyanya Kitab Mukhtafar alfMudkhal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Adelard of Bath. Buku lainnya yang ditulis Abu Ma'shar yang terkenal dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin bertajuk Introductorium in Astronmiam.

Buku itu merupakan terjemahan dari kitab berbahasa Arab yakni Kitab al-Mudkhal al-Kabir ila eIlm Ahkam Annujjum, yang ditulis Abu Ma'shar di Baghdad pada 848 M. Kali pertama, kitab itu dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin oleh John of Seville pada 1133 M, dan selanjutnya, literatur dibuat lebih sedikit dan ringkas oleh Herman of Carinthia pada 1140 M.

Karya lainnya yang ditulis Abu Ma'shar adalah sejarah astrologi yang memperkenalkan tradisi Sasaniah. Ini dibuat pada era kekuasaan Khalifah al-Mansur, khalifah kedua pada dinasti Abbasiyah. Ini merupakan bagian strategi politik al-Mansur untuk memberikan sebuah yayasan untuk lahirnya dinasti baru, dan tentu saja itu digunakan paling efektif antar Dinasti Abbasiyah sebelumnya.

Buku Abu Ma'shar yang monumental dalam kategori sejarah adalah Kitab al-Milal wa-l-Duwal (Kitab tentang agama-agama dan dinasti). Buku itu terdiri dari delapan bagian dalam 63 bab. Karyanya yang satu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dibaca oleh Roger Bacon, Pierre dfAilly, dan Pico della Mirandola (1463n1494 M).

Pemikiran Abu Ma'shar ini tentunya juga dibahas dalam karya besar mereka. Karya lain dalam kategori ini meliputi Fi dhikr ma tadullu elayhi al-ashkhas al-fulwiyya, Kitab aldalalat elaalittisalat waqiranat al-kawakib,dan Kitab aluluf (Book of Thousands), yang tidak bertahan lama tapi ringkasannya dipelihara oleh Sijzi (945-1020M).

Karya lainnya dari sang ilmuwan dikategorikan dalam genethlialogi, ilmu pengetahuan mengenai pemilihan kelahiran. Salah satu contoh adalah Kitab Tahawil Sini al-Mawalid (Book of the revolutions of the years of nativities).

Buku ini juga telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Yunani. Kitab itu terdiri dari sembilan volume dan terbagi menjadi 96 bab. Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani hanya lima volume dan terdiri dari 57 bab.

Karya lain Abu Ma'shar yang masuk dalam kategori ini adalah Kitab Mawalid al-Rijal wa-al-Nisa atau (Buku Asal Pira dan Wanita). Dalam karyanya Introductorium in Astronomiam and De magnis coniunctionibus, Abu Ma'shar, mengatakan, dunia diciptakan ketika tujuh planet bergabung dengan Aries, dan ramalan itu bisa berakhir ketika fenomena yang sama terjadi pada Pisces.

Terjemahan kedalam bahasa Latin dan dalam bahasa sehari-hari menjadikan karyanya beredar luas di Eropa dan menjadi sumber inspirasi untuk literatur penggambaran astrologi dengan beberapa pengarang minor awal era modern.

Astronomi
Abu Ma'shar mengembangkan model planet yang beberapa penafsiran sebagai sebuah model heliosentrik. Ini menunjukkan pada revolusi orbital planet diberikan sebagai revolusi heliosentrik lebih baik dari pada revolusi geosentrik dan hanya diketahui teori planet di kejadian ini dalam teori heliosentrik.

Karyanya dalam teori planet tidak dapat bertahan, tapi data astronomnya terakhir direkam oleh al-Hashimi dan al-Biruni, jelas Bartel Leendert van der Waerden dalam karyanya The Heliocentric System in Greek, Persian and Hindu Astronomy.she/des

Rabu, 04 Januari 2017

Indonesia di Mata Tiga Penjelajah Dunia : Marcopolo, Ibnu Batutah, dan James Cook




Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, terdiri dari 13.466 pulau menurut Badan Informasi Geospasial. Beberapa penjelajah dunia sempat mampir ke Indonesia. Dan berkat mereka nama beberapa kerajaan, pulau, dan kota sempat tercatat sebagai bagian dari sejarah dunia.
Ada banyak penjelajah dunia di masa-masa terdahulu. Banyak diantaranya yang singgah di Indonesia. Ada yang mencatatnya, ada yang hanya menyimpannya di kepala saja, ada pula yang mungkin tidak tahu nama daerah itu sesungguhnya.

Adalah tiga penjelajah dunia yang sempat mencatatkan kesannya tentang beberapa daerah di Indonesia, mereka adalah Marcopolo, Ibnu Batutah, dan James Cook.

1. Marcopolo (1254 – 1324)
Marcopolo adalah seorang pedagang dan penjelajah dunia yang berasal dari Italia. Ia terkenal dengan cerita-cerita uniknya tentang dunia timur. Saat itu bangsa barat tidak mengenal dunia timur sehingga banyak yang meragukan perjalanannya.
Selain menyusuri jalan sutra, Marcopolo juga sempat mengunjungi Tiongkok serta Indonesia. Berikut adalah penemuannya yang berkaitan dengan Indonesia yang diceritakan dalam buku berjudul “The Travels.”
# Pulau Jawa Besar (Pulau Jawa)
Diperkirakan sangat luas karena Marcopolo tidak sempat mengunjungi pantai selatannya. Marcopolo juga menceritakan tentang kegagalan penyerangan Kubilai Khan ke Jawa.
# Pulau Sondur dan Condur 
Diperkirakan merupakan pulau-pulau kecil di Laut Cina Selatan yang pernah digunakan sebagai patokan pelayaran.
# Pulau Pentam (Pulau Bintan)
Marcopolo menyebutkan letak pulau ini dari Selat Singapura.
# Kota Malaiur (Singapura atau Palembang)
Diceritakan mempunyai seorang raja.
# Pulau Jawa Kecil (Pulau Sumatera)
Diceritakan mempunyai 8 kerajaan dan 8 raja, masing-masing kerajaan punya bahasanya sendiri-sendiri.
# Kerajaan Ferlec dan Basma (Kerajaan Perlak dan Samudra Pasai)
Kerajaan Perlak diceritakan Marcopolo sebagai kerajaan yang beragama Islam, terutama penduduk kotanya. Sementara orang gunungnya masih liar dan kanibal kemungkinan adalah suku Battas (Batak). Basma, yang kemungkinan adalah Samudra Pasai, digambarkan memiliki gajah liar, unicorn, dan monyet kecil yang berwajah seperti manusia. Belakangan unicorn yang disebutkan Marcopolo merupakan badak bercula satu.
Kerajaan Samara dan Dagroian (Kerajaan Samudera dan Poli/Pidie)
Di kerajaan Samara, Marcopolo menemukan kacang India sebesar kepala orang, yang enak dimakan ketika segar, rasanya manis dan putih seperti susu. Kacang yang dimaksud Marcopolo disini adalah kelapa (palem Melayu). Di kerajaan Dragoian terjadi praktek perdukunan dan kanibalisme keluarga yang meninggal.
# Kerajaan Lambri dan Fansur (Kerajaan Lamuri dan Barus)
Di kerajaan Lamuri Marcopolo menceritakan tentang manusia berbulu dan berekor yang kemungkinan besar adalah orang utan. Di kerajaan Barus ia menemukan yang kini disebut kapur barus dan sagu kelapa.
2. Ibnu Batuttah (1304 – 1377)
Bernama lengkap Muhammad Abu Abdullah bin Muhammad Al Lawati Al Tanjawi, penjelajah dunia ini berasal dari Maroko. Berawal dari menunaikan ibadah haji, Ibnu Batutah memulai perjalanannya di usia 21 tahun. Geoge Sarton, sejarawan Barat, mencatat bahwa perjalanan Ibnu Batutah mencapai 120.000 kilometer melintasi 44 negara dalam waktu 30 tahun.

Ibnu Battuta, nationalgeographic.com
Ibnu Batutah sempat terdampar di Indonesia, tepatnya di Kerajaan Samudera Pasai yang saat itu dipimpin oleh Sultan Mahmud Malik Zahir. Sultan Malik Al- Zahir merupakan salah satu dari 7 raja yang dikagumi olehnya, karena Sultan Malik Al-Zahir dinilai berpengetahuan luas dan mendalam. Berikut adalah penemuannya:
Negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah.
Kedatangannya mendapat sambutan hangat dari para ulama dan pejabat Samudera Pasai.
Sultan Mahmud Malik Al-Zahir adalah seorang pemimpin yang sangat mengedepankan hukum Islam. Pribadinya sangat rendah hati. Ia berangkat ke masjid untuk shalat Jumat dengan berjalan kaki. Selesai shalat, sultan dan rombongan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memiliki ghirah (semangat) belajar yang tinggi untuk menuntut ilmu-ilmu Islam kepada ulama.
Samudera Pasai saat itu menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara. Pusat studi Islam yang dibangun di lingkungan kerajaan menjadi tempat diskusi antara ulama dan elit kerajaan.
Pedalaman Sumatra kala itu masih dihuni masyarakat non-Muslim. Ada beberapa perilaku masyarakat yang mengerikan, seperti bunuh diri massal yang dilakukan hamba ketika pemimpinnya mati.
3. James Cook (1728 – 1779)
James Cook merupakan seorang penjelajah dan navigator berasal dari Inggris. Ia menjelajah dunia hingga 3 kali untuk kepentingan kerajaan Ingris, yaitu menemukan daerah jajahan baru dan mengantar para ilmuwan ke Tahiti. Cook dikenal sebagai pribadi yang baik, patuh pada perintah, dan sangat memperhatikan kesehatan anak buahnya walau pada akhirnya ia tewas dibunuh oleh orang Hawaii.

Potrait Captain James Cook, gambar: wikipedia.org
Dalam perjalanannya, James Cook pernah singgah di Indonesia sekitar 2,5 bulan, tepatnya di Batavia atau Jakarta di masa kini. Persinggahannya di Indonesia tidak direncanakan. Hal itu terjadi karena kapal Endeavour mengalami kekurangan bekal dan kerusakan saat perjalanan pulang dari Australia.
Pada masa itu Indonesia sudah dijajah oleh Belanda lewat VOC. Berikut adalah catatannya mengenai Batavia dalam jurnalnya yang berjudul “Journal of the Proceedings of His Majesty’s Bark Endeavour, on a Voyage Round the World.”
Sebagian jalan Batavia memiliki kanal-kanal air yang kemudian bersatu sekitar setengah mil sebelum aliran itu ke laut. Komunikasi antara laut dan kota dilakukan lewat kanal, dan hanya siang hari. Ketika malam pintu penghubungnya ditutup batang kayu.
Sebuah jalan di Batavia dengan perahu-perahu di kanal dengan penanda sebuah kubah gereja. Di masa kini kawasan yang dimaksud Cook adalah sepanjang Kalibesar, sementara kubah gereja yang dimaksud kini menjadi Museum Wayang.
Batavia adalah tempat di mana orang Eropa tidak ingin untuk mengunjunginya. Tetapi, jikalau terpaksa ke kota ini, mereka akan melakukannya sesingkat mungkin, kalau tidak mereka akan segera merasakan efek dari udara tak sehat di Batavia. Hal ini terjadi karena di masa itu aturan membuang sampah dan tinja di kanal diperbolehkan, dan kanal mandek serta mendangkal akibat letusan Gunung Salak di tahun 1699.
Observatorium sangat elegan milik Tuan Mohr, dilengkapi dengan berbagai peralatan seperti kebanyakan wahana astronomi di Eropa. Kubah observatorium tersebut merupakan penanda kota yang berlokasi di kawasan Glodok, tak jauh dari Klenteng Jin De Yuan.
Lewat catatan sejarah, kita bisa mengenal keadaan dan pribadi bangsa kita di masa lalu. Semoga kita bisa belajar dari catatan sejarah tersebut, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.
Referensi:
http://id.wikipedia.org
https://ebooks.adelaide.edu.au/p/polo/marco/travels/book3.9.html
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,41371-lang,id-c,kolom-t,Ibnu+Batutah++Petualang+Legendaris+asal+Maroko-.phpx
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/james-cook-pernah-keluyuran-di-batavia

Ketika Bangsa Mongol Memilih Islam


ketika-bangsa-mongol-memilih-islamMendengar kata Mongol atau Tatar, nalar kita dengan cepat menyasar pada sifat-sifat anti peradaban. Trauma sejarah, kontak pertama dunia Islam dengan mereka adalah alasannya. Saat itu, bangsa Mongol adalah orang-orang nomad yang bengis, sadis dalam peperangan, dan penghancur peradaban. Saat Mongol memporak-porandakan dunia Islam, orang-orang menyangka, kehancuran umat Islam telah dimulai. Namun siapa sangka, musuh yang begitu keras permusuhannya, amat membenci ajaran Islam, dan menindas pemeluknya, tiba-tiba menjadi saudara.
Asal-Usul Bangsa Mongol
Orang-orang Mongol berasal dari Gurun Gobi, di ujung utara negeri Tiongkok. Mereka adalah kaum penggembala yang penyembah berhala, bintang, dan sujud pada matahari kala sang surya terbit di ufuk timur. Agama mereka adalah Samanisme. Suatu aliran kepercayaan yang mensucikan ruh-ruh nenek moyang. Dan mempersembahkan kurban kepada hewan-hewan buas.
Kata Tatar adalah sebutan untuk suku Mongol, Turk, Uygur, Seljuk, dan suku lainnya yang menghuni area Gurun Gobi. Jadi, Tatar itu lebih luas cakupanya dibanding Mongol. Namun kata Mongol juga sering digunakan untuk menyebut suku-suku di atas. Apabila ditinjau dari wilayah kekuasaan Jenghis Khan yang meliputi suku-suku tersebut.
Memeluk Islam
Mungkin orang-orang bertanya, apa yang ditinggalkan bangsa Mongol selain menghancurkan dan melakukan pembantaian? Apa yang terjadi pada mereka setelah tragedy Baghdad dan Perang Ain Jalut?
Setelah 35 tahun masuk wilayah Islam dan berinteraksi dengan kaum muslimin, orang-orang Mongol mulai tertarik dengan agama Islam. Bahkan, tidak sampai 50 tahun, mayoritas dari mereka telah memeluk agama yang mulia ini. Mongol pun terbagi menjadi Mongol muslim dan Mongol paganis (penyembah berhala). Mereka korbankan persaudaraan sesuku demi membela agama ini.
Meskipun telah menjadi muslim, ada sifat-sifat asli bangsa Mongol yang tidak hilang. Baik kepercayaan maupun karakter. Memang, Islam telah merubah mereka, tapi perubahan itu tidak terjadi menyeluruh seperti generasi awal Islam dulu. Di sisi lain, kita tidak boleh melupakan jasa-jasa mereka. Orang-orang Mongol telah memberikan sumbangsih besar dalam peradaban Islam. Bahkan apa yang mereka lakukan tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak terulang lagi di masa setelahnya. Wilayah-wilayah yang belum pernah diinjak oleh kaum muslimin menjadi negeri Islam. Dari ujung timur hingga perbatasan propinsi-propinsi Arab, dan batas-batas Eropa, menjadi wilayah Islam.
Pembagian Daulah Mongol
Jenghis Khan menginvasi banyak wilayah hingga kerajaannya memiliki wilayah yang sangat luas. Ia membagi-bagi wilayah kekuasaannya kepada anak-anaknya dari istri pertama. Mereka adalah:
Putra tertua, Jochi, menguasai wilayah Rusia, Khawarizm, Kaukasus, dan Bulgaria.
Chagatai menguasai wilayah-wilayah Uygur, Turkmenistan barat, dan negeri-negeri seberang sungai.
Tolui menguasai wilayah Khurasan, Persia, wilayah-wlayah Asia Kecil, dan sebagian wilayah Arab.
Ogedei menguasai wilayah Mongol, Tiongkok, Turkmenistan timur, dan wilayah-wilayah kekuasaan Jenghis Khan di sebelah timur.
Pembagian Wilayah Kekuasaan Mongol
Tersebarnya Islam di Tengah Masyarakat Tatar
Pembagian Wilayah Kekuasaan MongolTak terbayangkan sebelumnya, tiba-tiba dakwah Islam menyebar begitu saja di tengah orang-orang Mongol. Dakwah masuk ke hati mereka tanpa tombak-tombak dan pedang-pedang. Juga tanpa perebutan kekuasaan. Begitulah kemuliaan agama ini, pun dikenal oleh musuh-musuhnya. Menyentuh hati-hati mereka. Menundukkan ruh raga yang telah mengalahkan kaum muslimin.
Ketertarikan masyarakat Mongol terhadap Islam memang terbilang unik. Karena sebelumnya mereka menyerang dan menyebar bagaikan hama belalang di suatu perkebunan. Merusak dan menghancurkan. Tiba-tiba mereka menjadi saudara dan tunduk dengan petuah para ulama.
Thomas Walker Arnold, seorang sejarawan dan orientalis asal Inggris, juga merasakan keheranannya. Dalam bukunya The Preaching of Islam, ia mengutarakan perasaan herannya pada para penakluk itu sekaligus rasa takjub dengan kesungguhan pendakwah Islam. Mereka mengalahkan tantangan besar dan melewati ujian yang sulit dalam berdakwah. Arnold takjub bagaimana bisa pendakwah Islam bisa mengalahkan pendakwah Budha dan Kristen dalam menarik hati penguasa Mongol. Padahal Islam adalah musuh Mongol. Ditambah mereka memiliki hati yang keras, yang sebelumnya tertutup tidak menerima keyakinan kecuali Samanisme.
Sebelumnya, nasib para ulama Islam adalah dibunuh atau ditawan. Jenghis Khan memerintahkan hukuman mati bagi siapa saja yang menyembelih hewan seperti kurban yang dilakukan umat Islam. Hal ini terus berlangsung hingga masa Kubilai Khan. Dan Kaisar Mongol dari Dinasti Ilkhan, Arghun Khan (1284-1291), juga melakukan penyiksaan terhadap umat Islam di negeri mereka.
Tentu, masuknya sejumlah besar bangsa Mongol ke agama Islam adalah sebuah peristiwa yang luar biasa. Wilayah mereka yang luas pun menjadi wilayah Islam.
Pelajaran
Hati manusia itu di tangan Allah ﷻ. Bisa jadi hari ini orang yang membenci, esok hari ia sangat mencintai. Dan sebaliknya, hari ini membela esok menjadi pencela. Kita memohon kepada Allah ﷻ agar senantiasa menetapkan hati kita di atas agamanya.
Sumber:
– http://islamstory.com/ar/

Kisah Sahabat: Salman Al-Farisi Radhiallahu ‘anhu

Dari Abdullah bin Abbas Radhiallaahu ‘anhu berkata, “Salman al-Farisi menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, ‘Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.

Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam.
Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi ke sana!’ Beliau menyuruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).
Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?
Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hati, ‘Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.’
Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Dari mana asal usul agama ini?’ Mereka menjawab, ‘Dari Syam (Syiria).’
Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, ‘Anakku, ke mana saja kamu pergi?
Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu?’ Aku menjawab, ‘Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam.’
Ayahku menjawab, ‘Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu.’ Aku membantah, ‘Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita.’ Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.
Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampaikan kepada mereka, ‘Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu.’ Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negrinya, memberiku izin bisa menemui mereka.
Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang mengikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.
Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, ‘Siapakah orang yang ahli agama di sini?’ Mereka menjawab, ‘Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja.’ Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, ‘Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu.’ Pendeta itu menjawab, ‘Silahkan.’
Maka akupun tinggal bersamanya.
Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sedekah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.
Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk mengebumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, ‘Sebenarnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.’
Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, ‘Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu?’ Aku menjawab, ‘Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu.’ Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami.’
Lalu Aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, ‘Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya.’ Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.
Kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu (bukan seorang muslim) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintainya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.
Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu lihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perintahkan kepadaku?’
Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku.
Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masyarakatpun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!’
Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, ‘Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.’
Kemudian orang yang kutemui itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya.’ Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?’
Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!’
Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku.
Orang itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’ Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.
Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, ‘Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewasiatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’
Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.’
Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepadanya. Dia berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’
Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang sekeyakinan.
Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku untuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan?dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’
Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!’
Kemudian orang inipun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, ‘Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka.
Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi.
Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.
Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia membeliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.
Allah mengutus seorang RasulNya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, ‘Fulan,
Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba’ menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.’
Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, ‘Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?’ Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, ‘Apa urusanmu menanyakan hal ini, Lanjutkan pekerjaanmu.’
Aku menjawab, ‘Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebenarnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.’
Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, ‘Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.’
Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, ‘Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, ‘Ini satu tanda kenabiannya.’
Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, ‘Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau.’
Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pemberianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, ‘Inilah tanda kenabian yang kedua.’
Selanjutnya aku menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di kuburan Baqi’ al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang disebutkan Si Fulan kepadaku.
Pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.
Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Geserlah kemari,’ maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu.”
Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam suatu hari bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!’ Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, ‘Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.’ Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.
Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku.’ Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.
Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, ‘Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?’ Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, ‘Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!’
Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, ‘Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya.’ Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.
Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.” [1]
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:
  1. Di antara hasil/buah mentaati kedua orang tua adalah dicintai orang.
  2. Masuk penjara, cekal, rantai adalah cara musuh Islam menghalangi kaum muslimin dalam menegakkan agama Allah.
  3. Jika gigih memperjuangkan keimanan maka urusan dunia terasa ringan.
  4. Berpegang pada keimanan lebih kokoh dari seluruh rayuan.
  5. Hendaknya seorang mukmin senantiasa siap mental menghadapi segala kemungkinan.
  6. Terkadang orang-orang jahat mengenakan pakaian/menampakkan diri sebagai orang baik-baik.
  7. Jalan mencapai ilmu tidak bisa ditempuh melainkan dengan senantiasa dekat dengan orang yang berilmu.
  8. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah memberikan jalan keluar dari problematika hidupnya.
  9. Takaran keimanan seseorang adalah mencintai dan membenci karena Allah.
  10. Di antara akhlak terpuji para nabi adalah mau mendengarkan seseorang yang sedang berbicara dengan baik.
  11. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa memantau kondisi bawahannya.
  12. Diperbolehkan membeli budak dari tawanan perang, menghadiahkan dan memerdekakannya.
  13. Saling tolong menolong adalah gambaran dari wujud hidup bermasyarakat.

Kamis, 15 Desember 2016

Lirik, Kunci gitar, Chords Gitar, Kord Gitar /RIF - Fight :



Intro: F
      G#m F# F 4x
      F

G#m        D#                G#m
Dan ketika ku pulang susuri jalan
G#m         D#                         G#m
Dan kulihat orang-orang berlomba cari uang

     C#m        G#m
Semua ingin jadi pemenang
 D#        G#m
Biar bisa senang
     C#m        G#m
Semua ingin jadi pemenang
 D#
Biar senang Hidup senang
 D#
Bisa terus senang Senang

Intro: G#m F# F 4x
      F

G#m        D#                           G#m
Dan ketika ku berjalan Di tengah lalu lalang
G#m        D#                           G#m
Ku harus terus berjuang Tuk tetap jadi orang

     C#m        G#m
Semua ingin jadi pemenang
 D#        G#m
Biar bisa senang
     C#m        G#m
Semua ingin jadi pemenang
 D#
Biar senang Hidup senang
 D#
Bisa terus senang Senang

Solo: G#m F# F 4x
     D# D#-E 7x D#

     C#m        G#m
Semua ingin jadi pemenang
 D#        G#m
Biar bisa senang
     C#m        G#m
Semua ingin jadi pemenang
 D#
Biar senang Hidup senang
 D#
Bisa terus senang Senang

     C#m        G#m
Semua ingin jadi pemenang
 D#        G#m
Biar bisa senang
     C#m        G#m
Semua ingin jadi pemenang
 D#
Biar senang Hidup senang
 D#
Bisa terus senang Senang

lirik, Kunci gitar, Chords Gitar, Kord Gitar Agnes Monica - Rindu :


Intro: Gm Dm Gm 

  Dm                 Gm
selama aku mencari selama aku menanti
C                    F
bayang-bayangmu di batas senja
Em    A      Dm   C    G/B
matahari membakar rinduku
A#           A
ku melayang terbang tinggi

Dm                Gm
bersama mega-mega menembus dinding waktu
C                     F
ku terbaring dan pejamkan mata
Em      A     D       C    G/B
dalam hati ku panggil namamu
  A#               A
semoga saja kau dengar dan merasakan

Gm                
getaran di hatiku 
C                     F
yang lama haus akan belaianmu
        D
seperti saat dulu 
Gm                
saat-saat pertama 
C                         F
kau dekap dan kau kecup bibir ini
          D            Gm    Em   A    Dm    Gm A
dan kau bisikkan kata-kata aku cinta kepadamu

Dm                 Gm
peluhku berjatuhan menikmati sentuhan
C                  F
perasaan yang teramat dalam
Em           A  Dm         C     G/B
telah kau bawa segala yang ku punya
    A#             A
segala yang ku punya

Int: Gm Dm Gm Dm
      Gm A A#

Gm                
getaran di hatiku 
C                     F
yang lama haus akan belaianmu
        D
seperti saat dulu 
Gm                
saat-saat pertama 
C                         F
kau dekap dan kau kecup bibir ini
          D            
dan kau bisikkan kata-kata 
Gm Em   A      Gm  Em A
aku cinta kepadamu
  Gm    Dm Gm Dm
kepadamu